BREAKING NEWS
 

Zero Terrorist Attack

Waspadai Ancaman Tersembunyi Terorisme, Perkuat Deteksi Dini

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Kamis, 5 Juni 2025 20:16 WIB
Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Mirra Noor Milla (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Catatan penting ditorehkan Indonesia dalam dua tahun terakhir yaitu zero terrorist attack atau nol serangan teroris. Kendati demikian, catatan ini tentu saja bukan jaminan. Kewaspadaan tinggi terhadap ancaman terorisme harus terus ditingkatkan.

Menurut laporan The European Union Terrorism Situation and Trend Report (EU TE-SAT) 2024, meskipun tidak terjadi serangan teroris, sejumlah insiden yang gagal atau digagalkan juga menjadi bagian dari indikator yang perlu diperhatikan.

Sepanjang 2024, Uni Eropa mencatatkan ada 120 serangan teroris, dengan serangan berbasis ‘keagamaan’ menjadi hal yang paling membahayakan.

Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Mirra Noor Milla, mengatakan, meskipun Indonesia telah berhasil meredam aksi terorisme, namun ancaman tersebut tidak hilang sepenuhnya. Dia memprediksi, ancaman terorisme di masa depan akan semakin tersembunyi dan sulit dideteksi, sehingga kewaspadaan harus tetap ditingkatkan.

Baca juga : Teror Kepada Pers, Teror Kepada Demokrasi

"Ancaman terorisme masih ada, dan kita perlu memperkuat sistem deteksi dini untuk memitigasi potensi serangan sebelum terjadi," kata Prof. Mirra, seperti keterangan BNPT, Kamis (5/6/2025).

Salah satu bukti ancaman nyata adalah adanya penangkapan terduga anggota terorisme beriinisial MAS (18 tahun) oleh Densus 88 Anti Teror pada 24 Mei 2025 di Gowa, Sulawesi Selatan. MAS diduga menjadi anggota kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang terafiliasi dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Juga penyebar propaganda ISIS di Purworejo beberapa waktu lalu.

Adsense

Oleh karena itu, menurut Prof. Mirra, penting untuk menyeimbangkan antara optimisme akan pencapaian zero terrorist attack dengan kewaspadaan terhadap potensi ancaman yang lebih sulit terlihat. Dia menekankan, kelompok teroris dapat beradaptasi, bermetamorfosis baik dalam strategi maupun di dalam kelompoknya itu sendiri. 

“Kita harus terus mengamati, terus mengobservasi, mengidentifikasi untuk mengenali potensi risiko itu. Termasuk environment yang mendukung terjadinya serangan terorisme,” terangnya.

Baca juga : Hadapi Tantangan Penanggulangan Terorisme, BNPT Perkuat Struktur Organisasi

Prof. Mirra mengungkapkan, hasil survei nasional laboratorium psikologi politik tahun 2021 menunjukkan indeks potensi konflik tertinggi di Indonesia adalah di wilayah-wilayah yang pernah terjadi konflik sebelumnya. Ini merupakan peringatan bagi Pemerintah untuk menyusun mitigasi terjadinya konflik di wilayah wilayah tersebut yang bisa memungkinkan risiko-risiko itu berkembang menjadi ke arah kekerasan ekstrim.

“Perlu mengobservasi dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mungkin terjadi di wilayah-wilayah bekas konflik itu,” ujarnya.

Sebagai peneliti yang fokus riset terkait terorisme, ekstremisme, radikalisme dan ideologi politik ini, Prof. Mirra mengungkapkan kelompok teroris yang tampaknya tenang dalam periode tertentu sebenarnya mungkin sedang menggunakan strategi wait and see. Strategi ini adalah langkah rasional untuk mempertahankan tujuan mereka.  

Oleh karena itu, dia menekankan pentingnya peran negara dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang inklusif, sehingga individu yang rentan terhadap radikalisasi tidak merasa terpinggirkan. Menurutnya, tantangan besar ke depan adalah bagaimana membangun ketahanan sosial dan melibatkan semua pihak, mulai dari keluarga, komunitas, lembaga pendidikan, hingga pemerintah. 

Baca juga : Masih Ada Penangkapan Teroris, Pakar Ingatkan Ancaman Terorisme Masih Ada

"Sekarang adalah waktu yang tepat untuk fokus pada strategi pencegahan dan membangun daya tahan komunitas," tandas Prof. Mirra.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense