RM.id Rakyat Merdeka - Guru Besar Fakultas Geografi sekaligus Ketua Dewan Guru Besar Universitas Gadjah Mada Prof. Dr. M. Baiquni, MA angkat bicara soal tiga musibah kecelakaan yang belakangan ini menimpa pendaki Gunung Rinjani di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Menurutnya, Gunung Rinjani memiliki karakter topografi yang tidak bisa dianggap remeh.
Berdasarkan pengalaman pribadinya mendaki Rinjani tahun 1983, Baiquni menjelaskan, medan yang terbentuk dari aktivitas vulkanik menghasilkan tebing curam, kaldera tajam, dan paparan gas sulfur yang berisiko tinggi bagi pendaki pemula.
“Gunung Rinjani terbentuk dari intrusi magma yang mengangkat Pulau Lombok. Kaldera yang curam, tebing-tebing tajam. Keberadaan Danau Segara Anak membuatnya berbeda dari pegunungan non-vulkanik seperti Alpen atau Andes,” jelas Baiquni dalam keterangan yang dilansir situs resmi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
Dalam pandangannya, risiko pendakian tak semata berasal dari kondisi fisik gunung. Tetapi juga ketidaksiapan psikologis dan kurangnya edukasi bagi wisatawan.
Banyak pendaki yang menganggap medan Rinjani sama dengan gunung-gunung populer lainnya. Padahal, medan vulkanik memiliki potensi bahaya berbeda. Tanpa pemahaman yang cukup, reaksi tubuh terhadap lingkungan ekstrem dapat menyebabkan keputusan yang keliru dan membahayakan.
“Wisatawan yang belum terbiasa dengan karakter gunung vulkanik bisa linglung. Bahkan mengalami halusinasi, ketika terpapar sulfur atau saat berada di ketinggian dengan oksigen tipis,” tambahnya.
Baiquni menekankan, pendakian tak melulu soal kekuatan fisik, tetapi juga kemampuan mengelola ego dan emosi. Dia juga menyoroti pentingnya pembinaan mental dan kesadaran diri, mengingat pendakian bukanlah soal menaklukkan alam. Tetapi lebih kepada mengelola hasrat dan batas.
Dalam konteks ini, pendakian menjadi ruang kontemplatif yang menantang pelakunya untuk mengenali dirinya sendiri. Tanpa pengendalian diri, keinginan mencapai puncak bisa berubah menjadi sikap nekat yang justru membawa risiko fatal.
Baca juga : Per 17 Juli, Aplikasi Pemesanan Tiket Pendakian Gunung Rinjani Ditutup Sementara
“Saya selalu ingat quote Reinhold Messner, it’s not the mountain we conquer, but ourselves (bukan gunung yang kita taklukkan, tetapi diri kita sendiri, Red)," ucap Baiquni.
Dalam manajemen destinasi, Rinjani sebenarnya telah menerapkan sistem buka-tutup jalur berdasarkan musim. Penutupan jalur saat musim hujan merupakan strategi konservasi, sekaligus pencegahan kecelakaan akibat cuaca ekstrem.
Namun, masih ada saja wisatawan yang nekat melanggar aturan ini. Bahkan, menyusup masuk jalur pendakian yang belum dibuka resmi.
“Biasanya, Januari hingga Maret ditutup. Ini bagian dari strategi visitor management yang sangat penting. Agar unsur alam bisa pulih, dan pendaki bisa merencanakan kunjungan dengan aman,” ujarnya.
Teknologi, menurut Baiquni, telah membantu sistem navigasi dan informasi spasial. Namun, teknologi tidak bisa menggantikan pentingnya pengalaman dan insting lapangan.
Menurut dia, penggunaan peta digital atau aplikasi cuaca perlu didukung dengan pelatihan dasar survival dan etika tim.
Karena itu, Baiquni pun mendorong pelatihan dasar seperti diklatsar, tali-temali, dan pembacaan medan dijadikan prasyarat pendakian. Terutama, bagi wisatawan asing yang belum familiar dengan ekosistem gunung Indonesia.
“Beda alat, beda naluri. Kadang orang terlalu fokus pada puncak, sampai lupa diri,” tuturnya.
Baiquni berpendapat, dalam menghadapi perubahan iklim, sistem mitigasi perlu lebih adaptif dan prediktif. Dia bilang, membaca tanda-tanda alam tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada pemahaman lokal dan intuisi alami.
Baca juga : Menteri Dody Turun Gunung, Irigasi Pengga Digarap
Baiquni melihat pentingnya penggabungan antara sains modern dan kearifan lokal, dalam mengelola risiko di wilayah pegunungan.
“Kita diberi indera, nalar, dan nurani. Gunakan itu untuk membaca tanda-tanda alam, seperti awan, arah angin, dan pola kabut,” tegasnya.
Sebagai bagian dari refleksi, Baiquni menyampaikan lima pilar penting dalam membangun sistem mitigasi risiko wisata gunung.
Pertama, klasifikasikan pendaki berdasarkan tingkat pengalaman dan pelatihan. Dalam hal ini, pengelola harus mampu membedakan mana pendaki pemula, mana yang sudah mengikuti pelatihan dasar, dan mana yang profesional.
“Kalau bisa, sistem ini dibuat transparan sejak awal. Kalau dia pemula, wajib pakai guide dan membawa perlengkapan standar. Kalau sudah berpengalaman pun, sebaiknya tetap tidak mendaki sendirian,” papar Baiquni.
Kedua, pentingnya pengendalian jumlah pengunjung yang masuk jalur pendakian. Jalur-jalur ekstrem dengan medan sempit tidak boleh dilalui secara massal, agar tidak menambah tekanan pada ekosistem dan meningkatkan risiko kecelakaan.
Ketiga, pemetaan dan promosi destinasi vulkanoturisme alternatif. Dengan mendistribusikan kunjungan ke gunung-gunung lain di Indonesia yang memiliki daya tarik serupa, tekanan terhadap Rinjani bisa dikurangi.
Keempat, pentingnya informasi yang transparan, baik terkait kondisi cuaca, tarif jasa porter dan guide, hingga informasi teknis tentang jalur.
“Wisatawan tidak boleh membeli ilusi. Mereka harus datang dengan ekspektasi dan kesiapan yang benar,” kata Baiquni.
Baca juga : Kejagung Rencanakan Pemanggilan MRC
Kelima, pentingnya urgensi sistem tanggap darurat yang terintegrasi, mulai dari koordinasi tim penyelamat hingga sarana komunikasi dan jalur evakuasi.
Kecepatan respons dan kesiapsiagaan di lapangan menjadi kunci dalam meminimalkan dampak, jika insiden terjadi.
Baiquni mendorong agar sistem ini didukung secara institusional, tidak hanya bergantung pada inisiatif lokal atau relawan semata.
"Kelima pilar ini menjadi pondasi bagi pariwisata alam yang bukan hanya indah, tetapi juga aman dan berkelanjutan," tutur Baiquni.
"Risiko tidak akan hilang, tapi bisa dikendalikan dengan perencanaan yang matang dan kebijakan yang berpihak pada keselamatan,” tandasnya.
Seperti diketahui, Gunung Rinjani sebagai salah satu destinasi pendakian paling populer di Indonesia, mencatat tiga insiden
yang menyita perhatian global dalam periode Juni-Juli 2025.
Pada 21 Juni 2025, pendaki asal Brazil bernama Juliana Marins meninggal dunia tewas akibat jatuh ke jurang, saat mendaki puncak Gunung Rinjani melalui jalur Sembalun. Lokasi jatuhnya berada di kawasan Cemara Tunggal.
16 Juli 2025, pendaki asal Swiss Benedikt Emmenegger terjatuh di jalur yang sama. Dia mengalami patah tulang di beberapa bagian tubuh.
17 Juli 2025, pendaki asal Belanda Sarah van Hulten (26) jatuh di jalur Pelawangan Sembalun menuju Danau Segara Anak. Menurut informasi dari Badan Taman Nasional Gunung Rinjani, pendaki asal Belanda itu mengalami patah leher dan pendarahan di kepala. Saat ini, pendaki tersebut tengah menjalani perawatan di RS BIMC Kuta Bali.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.