RM.id Rakyat Merdeka - Ketua RT Gen Z, Sahdan Arya Maulana, viral usai menolak amplop berisi uang dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM). Penolakan itu jadi tamparan etis, sekaligus pelajaran soal integritas kepemimpinan akar rumput.
Pertemuan KDM dengan Arya terjadi usai pemuda 19 tahun asal Kelurahan Rawa Badak Selatan, Jakarta Utara, ramai diperbincangkan karena memimpin swadaya perbaikan jalan bersama warga.
Dalam pertemuan itu, Dedi Mulyadi memberikan amplop tebal kepada Sahdan, yang disebutnya sebagai bantuan dana operasional RT. Tapi, Arya dan pengurus RT menolak dengan tegas.
"Karena saya niat ke sini untuk bapak," kata Sahdan, dikutip dari kanal Youtube Kang Dedi Mulyadi Channel, Rabu (16/7/2025).
"Ini bisa digunakan untuk ngaspal," timpal Dedi. Namun Sahdan menolak. "Tidak, saya ke sini ikhlas," ujarnya. "Saya juga ikhlas," balas Dedi.
Baca juga : Dukung Penegakan Hukum, SPPN Tolak Isu Menyesatkan Terkait Pertamina
Dedi tetap bersikeras menyebut amplop itu sebagai honorarium pertemuan. Tapi Sahdan tetap pada pendiriannya, dengan alasan sudah mendapat dukungan penuh dari Wali Kota Jakarta Utara, Hendra Hidayat.
"Karena saya ke sini niatnya ingin ngobrol sama bapak sih," ujar Sahdan. "Keren," puji Dedi.
"Baru ini saya ketemu nih tokoh muda punya inovasi, punya visi, dan tidak mau menerima rezeki walaupun itu halal. Keren dong." Imbuh Dedi.
Langkah Arya mendapat apresiasi luas. Wali Kota Jakarta Utara Hendra Hidayat lebih dulu memberikan penghargaan resmi atas aksi gotong royong yang ia pimpin.
Bahkan, Badan Narkotika Nasional Provinsi DKI Jakarta turut mengapresiasi Arya dan berencana menjadikannya Duta Anti Narkoba.
Baca juga : Top Markotop, 4 Timnas Indonesia Lolos Piala Asia
Tindakan KDM menimbulkan kritik. Meski bermaksud baik, pemberian uang kepada pejabat RT di luar wilayah administratifnya dianggap keliru dan menyalahi etika pemerintahan.
"Ini bukan sekadar soal uang, tapi pesan moral soal batas kewenangan dan integritas," ujar pengamat pemerintahan, Sugiyanto (SGY) dikutip dari keterangan tertulis di akun facebooknya.
SGY mengatakan, fenomena ini menyajikan dua sisi penting pembangunan daerah.
Di satu sisi, semangat regenerasi kepemimpinan muda yang progresif dan bersih. Di sisi lain, munculnya tantangan dalam menjaga batas kewenangan dan etika birokrasi.
"Ketegasan Sahdan Arya dalam menolak pemberian tidak resmi menjadi penegasan penting bahwa generasi baru ini tidak bisa dibeli, dan memiliki integritas yang layak diteladani oleh semua kalangan," kata SGY.
Baca juga : Lamine Yamal Kena Semprot Flick
Pemerintah, baik pusat maupun daerah, perlu menjadikan momentum ini sebagai bahan refleksi dalam memperkuat tata kelola yang bersih, beretika, dan transparan.
Kepemimpinan muda seperti Arya merupakan aset berharga yang harus dilindungi dari praktik-praktik yang berpotensi merusak marwah birokrasi.
"Kisah Sahdan Arya bukan sekadar viralitas sesaat, tetapi menjadi simbol penting bahwa etika dalam pemerintahan tidak boleh dikompromikan, meski dalam pertemuan yang bersifat personal atau simbolik sekalipun," pungkasnya.
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dikabarkan masih bertugas di luar negeri dan dijadwalkan akan bertemu Arya usai kembali ke Tanah Air.
Untuk diketahui, Ketua RT Gen Z, Sahdan Arya Maulana (20), Ketua RT 007 RW 008 Kelurahan Rawa Badak Selatan, Jakarta Utara, datang ke Subang didampingi ayahnya, Ali Nurdin, serta dua pengurus RT: Vemmas Wahyu Rianto (Sekretaris) dan Riski Saputra (Bendahara).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.