BREAKING NEWS
 

Restorasi Jiwa Indonesia Khawatir Toxic Charity Membudaya Di Masyarakat

Reporter & Editor :
FAQIH MUBAROK
Sabtu, 13 September 2025 16:42 WIB
Founder Restorasi Jiwa Indonesia (RJI) Syam Basrijal. Foto: Istimewa

 Sebelumnya 
Dalam perspektif itu, Restorasi Jiwa Indonesia menilai toxic charity wajib ditolak karena akan berangsur menjadi budaya yang tak baik bagi masyarakat. Maka perlu ada kesadaran kolektif yang lebih holistik dari seluruh unsur bangsa Indonesia untuk meningkatkan literasi jiwa dalam rangka menjadi upaya menebarkan narasi restoratif.

"Melalui narasi restoratif, kami menyembuhkan luka lama. Melalui gagasan transformatif, kami mengguncang paradigma lama yang membuat orang merasa kecil. Dengan literasi jiwa, pemberdayaan menjadi nyata, karena orang tidak hanya diberi 'ikan', tetapi diajarkan cara 'memancing' dengan kesadaran baru," jelas Syam Basrijal.

Pihaknya percaya bahwa setiap jiwa diciptakan kaya: kaya ide, kaya cinta, kaya harapan, dan kaya keberanian. Kekayaan itu hanya bisa muncul bila pola pikir yang melemahkan, diubah menjadi pola pikir yang memberdayakan. Dan perubahan itu tidak lahir dari belas kasihan instan, melainkan dari literasi jiwa yang restoratif.

Baca juga : Gercin Indonesia Apresiasi TNI-Polri, Sigap Jaga Stabilitas Keamanan

Syam Basrijal pun mengajak semua orang untuk lihat contoh sederhana. Ada seorang pemuda yang gagal melanjutkan sekolah, maka dengan memberi sembako memang bisa membantu, namun hanya menunda lapar sehari.

Tetapi mengajarinya membaca potensi diri, mengelola emosi, dan menyalurkan kreativitas, akan memberinya bekal seumur hidup. "Inilah yang membedakan toxic charity dengan pemberdayaan sejati: yang satu meninabobokan, yang lain membangunkan," ucap Syam Basrijal.

Dalam praktik yang lumrah terjadi di pedesaan, sambung dia, banyak komunitas yang dijadikan objek bantuan instan, tetapi tetap miskin bertahun-tahun. Mengapa? Karena yang mereka terima adalah belas kasihan, bukan pengetahuan.

Baca juga : Ganda Putra Jadi Tumpuan Indonesia Di Seri VII M-25 Nusa Dua

Maka dari itu, Syam Basrijal menyatakan, Restorasi Jiwa Indonesia memilih jalan lain, yakni melatih masyarakat membaca dirinya, membangun pola pikir produktif, dan menyalakan mental pemenang. Dari sini lahirlah martabat, bukan sekadar kenyang sesaat.

"Pemenang sejati bukanlah mereka yang tak pernah jatuh, melainkan mereka yang berani bangkit dengan kesadaran baru. Jiwa pemenang tidak mengemis simpati, melainkan mencipta jalan. Jiwa pemenang tidak pasrah menunggu keadaan berubah, melainkan mengubah keadaan dengan daya juangnya. Dan inilah generasi yang ingin kami bangun: generasi dengan mental kaya, yang melihat dunia bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang," paparnya.

Terakhir, Syam Basrijal menyebut, jika toxic charity terus dipelihara, maka bangsa ini lambat laun akan terjebak dalam lingkaran ketergantungan tanpa ujung.

Baca juga : DPR Apresiasi Tiga Geopark Indonesia Raih Status Green Card UNESCO

Namun apabila literasi jiwa dan mental pemenang ditanamkan, kita akan melihat lahirnya generasi yang berani bermimpi besar, teguh berjuang, dan percaya pada kekuatan dirinya.

"Bantuan boleh diberikan, tetapi harus disertai pendidikan jiwa agar orang berani mandiri. Karena tujuan kita bukan merawat korban, tetapi membangunkan pemenang," tukasnya.

"Maka saya tegaskan: toxic charity adalah racun yang harus dihentikan. Bangsa ini tidak butuh lebih banyak penonton yang pasrah, tetapi jiwa-jiwa pemenang yang berani berdiri. Restorasi Jiwa Indonesia hadir untuk menyalakan kesadaran itu," pungkas Syam.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense