Sebelumnya
“Hampir tidak ada kaitannya dengan masalah fisik. Misalnya makanan ada rambut atau staples, dalam kasus ini sangat kecil kejadiannya,” ungkap Hardinsyah.
Dia mengingatkan, insiden keamanan pangan sekecil apa pun tidak boleh sampai menimpa kelompok rentan, terutama anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui. “Gejalanya saja seharusnya tidak boleh terjadi, apalagi sampai insiden gangguan kesehatan,” tegas Guru Besar Ilmu Gizi IPB tersebut.
Sementara itu, Wakil Menteri Sekretaris Negara (Wamensesneg) Bambang Eko Suhariyanto mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto sudah mengetahui kasus keracunan yang menimpa para siswa di sejumlah daerah.
Baca juga : Kapolri Perintahkan Jajaran Usut Kasus Keracunan MBG
Namun, dia belum mengetahui arahan lanjutan dari Presiden terkait kasus ini. Sebab, Prabowo masih berada di luar negeri untuk lawatan kenegaraan. “Kita nggak tahu karena beliau masih di luar negeri,” kata Bambang saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (26/9/2025).
BGN mencatat sepanjang Januari hingga 25 September 2025 ada 70 kasus insiden keamanan pangan. Total sebanyak 5.914 orang terdampak dari program MBG. Kasus paling banyak terjadi di wilayah II (Jawa-Bali), yakni 41 kasus dengan 3.610 orang terdampak.
Disusul wilayah I (Sumatera dan sekitarnya) dengan 9 kasus dan 1.307 orang terdampak. Sementara di wilayah III (Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua), tercatat 20 kasus dengan 997 orang terdampak.
Baca juga : Jokowi Happy, IKN Jadi Ibu Kota Politik 2028
“Puncak insiden terjadi pada Agustus dan September. Masing-masing 1.988 dan 2.210 orang menjadi korban,” demikian laporan BGN.
Lima daerah tercatat paling parah yaitu Kota Bandar Lampung (503 orang), Kabupaten Lebong-Bengkulu (467 orang), Kabupaten Bandung Barat-Jawa Barat (411 orang), Kabupaten Banggai Kepulauan-Sulawesi Tengah (339 orang), serta Kabupaten Kulon Progo-DIY (305 orang).
Kasus terbaru terjadi di Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah (Jateng). Sebanyak 123 siswa diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi MBG. Sebanyak 30-an korban harus menjalani rawat inap karena muntah hingga diare.
Baca juga : Anak Muda Bisa Jadi Promotor Produk Halal
Penyebab utama insiden ini beragam. Mulai dari bakteri E coli yang biasanya berasal dari menu nasi, tahu, dan ayam. Juga Staphylococcus Aureus dari tempe dan bakso, Salmonella dari ayam, telur, serta sayur, hingga Bacillus Cereus dari mie. Ada pula kasus akibat kontaminasi air yang membawa Coliform, Proteus dan Klebsiella.
BGN menegaskan kasus-kasus ini tengah dievaluasi. Tujuannya, agar program MBG tetap berjalan aman, transparan, dan tepat sasaran. [BCG/BYU]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.