RM.id Rakyat Merdeka - Gubernur Papua, Matius Fakhiri mengungkapkan, pihaknya telah menerima kunjungan resmi dari rombongan Majelis Rakyat Papua (MRP). Pertemuan itu membahas insiden pembakaran Mahkota Cenderawasih, simbol sakral adat Papua, yang sempat viral dan menimbulkan gelombang reaksi masyarakat adat di berbagai daerah.
“Kami sudah bertemu, mereka sudah menyampaikan aspirasi masyarakat adat terkait penistaan simbol budaya yang melukai hati orang Papua,” ujarnya kepada wartawan di Jayapura, Senin (27/10/2025).
Soal insiden pembakaran Mahkota Cenderawasih, Fakhiri mengaku menyayangkan tindakan tersebut. Dia menilai, pemusnahan benda budaya harus dilakukan dengan cara yang bijak dan penuh penghormatan terhadap adat istiadat.
“Kalau MRP sudah membuat aturan adat, tidak boleh diganggu gugat. Kita harus menghormati apa yang menjadi budaya dan jati diri orang Papua,” tegasnya.
Baca juga : Mandiri Sukses Salurkan Kredit Hingga Rp 1.764 T
Namun begitu, Fakhiri juga mengimbau seluruh masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh isu yang dapat memecah belah persatuan, seperti yang sempat memicu ketegangan di Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan. Dia meminta, semua pihak mengedepankan dialog dan koordinasi lintas wilayah demi menjaga stabilitas keamanan.
“Besok (hari ini, red), Gubernur Papua Selatan akan berkunjung ke Jayapura. Kita akan duduk bersama, berdiskusi, dan mengatur ini secara baik agar hal-hal seperti ini tidak terulang kembali,” ungkapnya.
Fakhiri menambahkan, pertemuan itu akan menjadi langkah awal untuk memperkuat sinergi antara Pemerintah Daerah dan lembaga adat, sekaligus memastikan bahwa simbol dan nilai budaya Papua tetap dijaga dan dihormati.
Melalui dialog itu, harap dia masyarakat Papua dapat melihat bahwa Pemerintah memiliki komitmen untuk melindungi dan memuliakan warisan adat sebagai bagian dari jati diri bangsa. Papua akan tetap harmonis jika adat, agama, serta pemerintahan berjalan seiring dan saling menghormati.
Baca juga : Setelah Digunakan Para Menteri, Gerindra Yakin Maung Bisa Jadi Mobil Nasional
“Ini bagian terpenting dalam melihat Papua secara utuh. Kita di Papua punya tiga pilar penting: adat, agama, dan pemerintah. Ketiganya harus berjalan beriringan agar kehidupan masyarakat tetap damai,” tandasnya.
Terpisah, Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni meminta maaf kepada seluruh masyarakat Papua atas pembakaran Cenderawasih opset dan Mahkota Cenderawasih yang dilakukan Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua. Dia memastikan, pihaknya akan mengumpulkan seluruh BKSDA agar kejadian serupa tidak terulang.
“Atas nama Kementerian Kehutanan, saya mohon maaf dan menjadikan apa yang terjadi sebagai catatan. Hari ini, saya akan mengumpulkan secara Zoom (daring) seluruh BKSDA, untuk menginventarisasi apa yang di masyarakat dianggap tabu atau sakral, sehingga ketika ada penegakan hukum tidak melanggar hal semacam ini,” kata Raja di Denpasar, Bali, Senin (27/10/2025).
Dia menjelaskan, pemusnahan barang bukti berupa ofset dan Mahkota Cenderawasih dalam proses penegakan hukum terhadap perdagangan satwa liar dilindungi bukan hal yang salah. Secara hukum tindakan itu benar, namun jika memperhatikan kearifan lokal, tindakan itu tidak kontekstual, bahkan mengakibatkan ketersinggungan masyarakat Papua.
Baca juga : Kerja Sama Dengan AS, RI Siap Jadi Poros Energi Dan Teknologi
Sebab itu, ungkap Raja, dia mengutus eselon satu Kementerian Kehutanan (Kemenhut) untuk turun langsung ke tanah Papua, berdialog dengan Majelis Rakyat Papua (MRP) dan mahasiswa. “Kami berharap, hal ini tidak terjadi lagi di Papua, Bali, dan sebagainya,” cetusnya. [KAL]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.