RM.id Rakyat Merdeka - Asosiasi Ekosistem Pariwisata Penyelenggara Travel Umrah Haji Republik Indonesia (ASTAGATRA RI) secara resmi dideklarasikan di Jakarta. Organisasi ini hadir dengan visi membangun sistem kolaboratif lintas sektor dan lintas kementerian agar seluruh rantai nilai ibadah Haji dan Umrah dapat dikelola secara terintegrasi dan profesional.
Ketua Umum ASTAGATRA RI, Rizky Sembada, mengatakan pentingnya pendekatan “ekosistem” dalam membangun kemandirian industri Haji dan Umrah nasional. Tujuannya agar seluruh rantai nilai ibadah Haji dan Umrah dikelola secara profesional dan berpihak pada umat.
"Kita tidak hanya berbicara soal penyelenggaraan ibadah, tetapi membangun seluruh ekosistem yang menopangnya. Mulai dari transportasi, logistik, perhotelan, keuangan syariah, hingga pangan dan digitalisasi industri halal," ujar Rizky.
Ia menegaskan, pentingnya membangun sistem ekosistem lintas sektor yang saling terhubung. Tujuannya agar seluruh rantai nilai ibadah Haji dan Umrah dikelola secara profesional dan berpihak pada umat.
Baca juga : PGN Gagas Bangun Ekosistem Transportasi BBG Ramah Lingkungan
“Kita tidak hanya berbicara soal penyelenggaraan ibadah. Tetapi membangun seluruh ekosistem yang menopangnya,” ujarnya.
Untuk mewujudkan visi tersebut, ASTAGATRA RI mengambil langkah strategis dengan menjalin komunikasi aktif dan kemitraan dengan enam kementerian utama.
Kemitraan lintas kementerian ini bertujuan memastikan kebijakan, regulasi, dan peluang investasi di sektor Haji, Umrah, dan pariwisata syariah dapat dikembangkan secara serempak. Diantaranya, Kementerian Haji, Kementerian Pariwisata, Kementerian Perhubungan, Kementerian Pangan, Kementerian UMKM dan Kementerian Perdagangan.
"Selama ini, pelaku industri berjalan di rel masing-masing. ASTAGATRA hadir untuk menyatukan semua rel itu menjadi satu arah besar: kemandirian dan kedaulatan ekonomi umat," ungkapnya.
Baca juga : Menkum Supratman Bahas Penguatan Ekosistem Hak Cipta Dengan CISAC
Rizky menambahkan, konsep “ekosistem” yang diusung ASTAGATRA RI mencakup delapan pilar utama (Asta Gatra) yang meliputi bidang Pariwisata Internasional, Haji & Umrah, Transportasi, Perhotelan, Produk Halal, Logistik, Perbankan & Asuransi Syariah, serta Pengembangan SDM dan Akreditasi.
Melalui delapan pilar ini, asosiasi akan berperan aktif dalam standardisasi pelayanan, peningkatan kapasitas perusahaan, serta pendampingan hukum dan audit syariah. Setiap anggota akan mendapatkan pelatihan rutin, termasuk digital marketing, perpajakan, business coaching, dan sertifikasi kompetensi.
"Kami ingin agar setiap anggota ASTAGATRA RI naik kelas. Bukan hanya sekadar memiliki izin, tapi benar-benar memahami tata kelola, digitalisasi, dan hukum syariah. Ekosistem yang sehat hanya bisa lahir dari pelaku yang kuat dan berkompeten,” tegasnya.
Sejumlah tokoh nasional turut memperkuat struktur pengurus ASTAGATRA RI dari berbagai profesi dan sektor. Di antaranya CEO TVOne Maria Goretti Limi, Ketua Umum ASITA Rusmiati, dan Direktur Wong Solo Group, Sugiri.
Baca juga : Sidang Suap Vonis Lepas CPO, Hakim Dan Terdakwa Nangis
Keterlibatan lintas profesi ini menunjukkan ASTAGATRA RI sebagai wadah inklusif bagi akademisi, profesional, dan regulator. "Struktur kepengurusan ASTAGATRA RI menunjukkan komitmen inklusivitas dengan masuknya figur-figur dari berbagai latar belakang profesional, membuktikan asosiasi ini milik seluruh stakeholder industri halal", ujarnya.
Rizky berharap ASTAGATRA RI dapat menjadi model baru tata kelola ekonomi umat yang mandiri dan transparan, menjadi pusat solusi, pusat sinergi, dan pusat pertumbuhan. "Inilah semangat Asta Gatra — delapan aspek kekuatan yang akan membawa kebangkitan ekonomi syariah Indonesia,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.