RM.id Rakyat Merdeka - Wartawan Rakyat Merdeka, Ade Alkautsar sejak Jumat (5/12/2025) berhasil menembus Aceh Tamiang, setelah menempuh perjalanan darat selama 30 jam dari Aceh Barat Daya (Abdya), lalu ke Aceh Selatan dan berputar dulu menuju Medan demi mencari akses masuk ke Aceh Tamiang. Berikut laporannya.
Upaya warga Merek, Sumatera Utara (Sumut), berjibaku mengungkit batu besar yang menahan ban belakang minibus Toyota HiAce di sempadan jalan, hingga mengarahkan mobil di kemacetan parah untuk membuka jalan bagi iring-iringan kendaraan Tim Relawan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Barat Daya (Abdya), tidak sia-sia.
Minibus yang berisi dokter dan tenaga kesehatan (nakes) dari Tim Relawan Pemkab Abdya itu akhirnya bisa mewujudkan misi mulianya, yaitu mempercepat penanganan warga yang sakit akibat banjir bandang dahsyat di Aceh Tamiang.
Sejak hari pertama, mereka langsung turun ke lapangan, membuka pos kesehatan di Desa Dalam, Kecamatan Karang Baru. Desa ini salah satu titik terparah yang dihantam banjir bandang dahsyat.
Baca juga : Soal Izin Penebangan Hutan Dan Pikul Beras, Zulhas Bela Diri
Ternyata banyak warga yang sakit tak tertangani karena semua fasilitas kesehatan (faskes), baik rumah sakit, puskesmas hingga apotek, lumpuh total setelah dihantam banjir.
Ratusan warga langsung mengerubungi para nakes beberapa saat setelah pos kesehatan dibuka. Keluhannya beragam.
Namun, yang paling banyak, kata Koordinator Tim Relawan Nakes Abdya dr Hafizin, adalah infeksi akibat luka terkena benda tajam seperti seng atau paku saat banjir, yang sudah berhari-hari tak tertangani. Ada yang sudah bengkak dan bernanah.
“Bahkan penderita DM (diabetes melitus, red) yang ikut luka kondisinya cukup parah,” kata dr Hafizin saat berbincang dengan Rakyat Merdeka.
Baca juga : Buka Gerai Sembako Hingga Klinik Kesehatan Raup Omzet Rp 175 Juta
Kebanyakan, lanjutnya, kasus lukaluka terjadi di kaki dan tangan. Tak sedikit pula yang luka di perut dan kepala.
Untuk menjangkau lebih banyak pasien, para nakes tidak hanya membuka pos kesehatan, tetapi juga jemput bola dengan melakukan kunjungan langsung ke rumah-rumah pasien, terutama lansia, penyandang disabilitas, atau penderita penyakit kronis yang tidak bisa datang ke pos kesehatan.
Selain luka-luka, keluhan lain yang banyak diderita pasien hari itu adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). “Karena warga saat ini juga dikepung debu, akibat lumpur di jalanan yang mengering karena cuaca panas,” lanjutnya.
Yang menyedihkan, tidak semua pasien bisa ditangani. Salah satunya, seorang ibu hamil yang mengalami pecah ketuban dini dan membutuhkan penanganan segera, sementara tim nakes tidak memiliki alat yang memadai untuk melakukan persalinan.
Baca juga : Ahmad Irawan: Kami Akan Kaji Dan Bicarakan Secara Rinci
“Kalau sudah pembukaan empat mungkin bisa-bisa saja kita tangani. Tapi kalau masih bukaan satu, belum waktunya melahirkan. Dia seharusnya melahirkan bulan Januari,” ungkapnya.
Pecah ketuban dini ini, jelas sang dokter, bisa terjadi karena kelelahan. Menurut suaminya, sang istri dalam beberapa hari ini kecapaian mengurus rumah yang berantakan akibat banjir.
“Kita maaf enggak bisa menanganinya. Setelah itu pasien pulang, karena memang kita tidak punya alat-alat yang memadai. Kami minta tolong dicarikan bidan desanya, mana tahu bisa difasilitasi,” lanjut dr Hafizin.
Ia berharap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Tamiang yang sempat lumpuh total bisa segera pulih 100 persen. Atau setidaknya, pemerintah segera mendirikan rumah sakit emergensi untuk korban bencana. [SAR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.