RM.id Rakyat Merdeka - Wartawan Rakyat Merdeka Ade Alkautsar ikut dalam rombongan relawan membantu desa-desa korban bencana di Aceh. Berikut laporannya.
Bantuan terhadap korban bencana di Sumatera terus mengalir dari berbagai pihak ; Pemerintah, instansi, maupun masyarakat. Sayangnya, bantuan yang datang mayoritas berupa logistik makanan dan minuman. Sementara kebutuhan khusus untuk perempuan dan anak-anak masih minim.
Di Desa Sah Raja, Aceh Timur, misalnya. Salah satu kampung paling terisolir akibat banjir bandang ini terpaksa harus mengungsi ke hutan dengan daratan yang lebih tinggi. Di sana mereka mendirikan tenda menggunakan terpal atau pelepah daun sawit dan alas kayu seadanya.
Hampir seluruh rumah hancur dihantam air bah hingga beberapa meter. Tidak ada yang bisa dibawa dari rumah ketika mengungsi, selain badan dan apa yang dikenakan malam itu.
Baca juga : Bencana Sumatera Tak Berdampak Negatif, Purbaya: Ekonomi Tetap Tumbuh Positif
Beberapa warga yang coba melihat rumah mereka pun, harus kembali ke hutan dengan tangan hampa. Tidak ada yang bisa dibawa. Karena rumah tertimbun lumpur hingga ke atap. Kondisi ini bikin kalangan perempuan kebingungan, terutama yang berhubungan dengan pembalut.
Salah seorang dokter yang ikut dalam Tim Relawan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Barat Daya (Abdya), yakni dr Nuri mengaku sampai didatangi beberapa gadis dari Desa Sah Raja saat mengadakan pengobatan gratis di desa tersebut.
Mereka berbisik: “Kak, ada bawa pembalut enggak kak?” tanya mereka.
Sayangnya, dr Nuri mengaku tidak mengetahui secara persis ada atau tidaknya pembalut dalam truk bantuan yang berhasil dibawah masuk ke desa Sah Raja itu. Gadis-gadis desa itu pun sungkan menanyakan kebutuhannya itu ke tim relawan yang menurunkan logistik yang didominasi laki-laki.
Baca juga : Penembakan Maut Di Pantai Bondi, Seorang Tukang Buah Jadi Pahlawan
Pantauan Rakyat Merdeka, saat beberapa kali bongkar muat bantuan logistik banjir, memang tidak pernah terlihat adanya pembalut perempuan. Sebagian besar adalah sembako, seperti beras, minyak goreng, mie instan, air mineral, sarden, susu kental manis dan baju layak pakai.
Tak cuma pembalut perempuan, kebutuhan krusial lain yang kerap terabaikan adalah makanan bayi. “Kan enggak mungkin bayi dikasih indomie kak,” kata salah seorang ibu-ibu, dengan nada getir.
Sementara susu bayi, beberapa kali sempat terlihat dalam tumpukan logistik yang dikumpulkan dari bantuan swadaya warga Abdya. Hanya saja pampers bayi, nyaris tak terlihat sama sekali.
Bahkan, ada juga ibu-ibu yang minta pil KB. “Ada ibu-ibu menanyakan pil KB ke Nakes saat kami buka pengobatan gratis. Sayangnya, kami tidak bawa,” lanjut dr Nuri.
Baca juga : Rakhmat Hidayat: Perlu Satgas Untuk Melakukan Pendataan
Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky mengaku mengkhawatirkan kondisi bayi yang tinggal di tenda-tenda yang didirikan darurat di tengah hutan.
“Kondisi bayi-bayi ini sangat memprihatinkan. Tempat tinggalnya sangat tidak layak. Mereka minta dikirimkan kelambu, agar anak-anak tidak digigit nyamuk,” ujar Al-Farlaky, saat berbincang dengan Rakyat Merdeka.
Kelambu, pembalut wanita hingga makanan bayi memang kerap luput dari daftar bantuan yang dikirimkan ke korban bencana. Beberapa relawan berusaha mencari kebutuhan tersebut ke toko-toko yang masih buka.
“Kita sisipkan pembalut wanita, susu dan makanan untuk anak-anak. Namun tidak banyak, lalu kita bagikan ke beberapa titik pengungsian di pinggir jalan saat jalan pulang,” ungkap salah seorang relawan yang enggan disebut namanya. [SAR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.