BREAKING NEWS
 

Hari Pertama Sekolah Di Aceh Tamiang, Siswa Belajar Di Tenda

Reporter : M ADE AL KAUTSAR
Editor : UJANG SUNDA
Selasa, 6 Januari 2026 07:20 WIB
Suasana hari pertama kegiatan belajar mengajar kembali berlangsung di SD Negeri Tugu Upah, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang, Senin (5/1/2026), setelah lebih dari sebulan libur akibat banjir bandang. (Foto: M Ade Al Kautsar/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Wartawan Rakyat Merdeka, Muhammad Ade Al Kautsar, kembali mengunjungi Aceh Tamiang untuk melihat langsung perkembangan perbaikan wilayah tersebut pasca-dilanda banjir bandang. Berikut laporannya:

Pagi-pagi, Azis, siswa kelas 6 SD Tugu Upah, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang, sudah tiba di Kompleks Masjid Nurul Mukhlisin, untuk kembali masuk sekolah. Azis datang dengan berjalan kaki sendirian. Biasanya ia datang bersama adiknya, Arief, yang masih kelas 3 SD. Tapi, Senin (5/1/2026), Arief tidak kelihatan. 

Teman-teman Azis, rata-rata datang dengan diantar orang tuanya, baik dengan menggunakan motor maupun berjalan kaki. Sebab, ini adalah hari pertama mereka kembali sekolah. Setelah satu bulan lebih libur, akibat sekolah mereka rusak dan penuh lumpur diterjang banjir bandang. 

Hinggi kini, sebenarnya sekolah mereka belum bisa digunakan. Lumpur tebal, sampah, beserta puing­-puing mobiler belum tuntas dibersihkan. Beberapa hari terakhir, dewan guru dibantu TNI/Polri dan relawan terus berjibaku membersihkannya, namun belum selesai. 

Baca juga : Firman Soebagyo: Pemerintah Harus Segera Putuskan Status Hukumnya

Akhirnya, pihak sekolah memutuskan untuk mengadakan kegiatan belajarmengajar untuk sementara waktu di tenda Layanan Trauma Healing BRI Peduli, di Kompleks Masjid Nurul Mukhlisin. Sejak layanan itu dibuka, Azis sering datang. 

Hari itu, Azis datang dengan tidak memakai seragam sekolah. Hanya mengenakan kaos oblong warna abu­-abu, celana jeans, dan sandal karet. Seragam sekolahnya tak tahu lagi di mana, karena terbawa banjir. Nasib serupa juga dialami murid yang lain. Meskipun, beberapa teman Azis, sudah punya seragam baru, lengkap tas dan sepatu. 

Walau tanpa seragam, Azis tetap pede. Ia berdiri paling depan saat baris­-berbaris. Ia juga tampak paling semangat saat senam, yang pada pagi itu dipimpin Pak Zainuddin, guru SDN Tugu Upah. 

Adsense

Salah seorang anggota tim Trauma Healing BRI Peduli, Endah Munawarah, menerangkan bahwa Azis adalah salah satu anak yang paling rajin datang ke tenda layanan Trauma Healing BRI Peduli, di Kompleks Masjid. “Tidak pernah libur,” ujar Endah. 

Baca juga : Badiul Hadi: Sebaiknya Untuk Warga Terdampak Dan Fasilitas Publik

Endah masih ingat, ketika awal­awal layanan trauma healing dibuka, pekan lalu. Setelah saling berkenalan, seruseruan bermain games, mewarnai dan menggambar, ia mengajak anak-­anak untuk mencari hal­hal kecil yang tetap bisa disyukuri. 

“Meskipun rumah adek-­adek rusak atau hanyut, tapi alhamdulillah masih bisa kumpul dengan keluarga. Ada ayah, ibu yang bisa temanin adek­-adek dan makan bersama,” ucapnya. 

Ketika itu, Azis langsung menunduk. Matanya sembab dan berkaca­-kaca. Ia terlihat berusaha menahan tangis hingga sesegukan. 

Endah langsung mendekati Azis dan mencoba menenangkannya. Endah juga mengambil tisu untuk mengelap air mata Azis yang terus tumpah. Ketika ditanyakan kenapa ia menangis, Azis tak bisa berkata-­kata. Hingga salah seorang anak menyampaikan dengan berbisik. “Azis yatim piatu, Bu,” ucapnya. 

Baca juga : Pimpin Rapat Pleno Golkar Sumut, Doli Rombak Jajaran DPD

Menurut cerita temannya, ibunda Azis meninggal ketika melahirkan Arief. Saat itu, Azis berusia sekitar 3 tahun. Lagi manja­-manjanya dengan ibunda. 

Setelah ibunya berpulang, ayahnya lah yang mengurusi Azis dan Arief. Namun, tahun lalu, 2025, beberapa bulan sebelum musibah banjir bandang, giliran ayahnya yang meninggal dunia. Sehingga, saat air bah itu datang, tak ada orang tua yang menemani mereka. “Sekarang, Azis dan adiknya tinggal dengan abangnya yang sudah berkeluarga,” kata Endah. 

Ketika itu, Endah merasa bersalah dan meminta maaf atas ketidaktahuannya. Namun, setelah kejadian itu, Azis justru menjadi anak yang paling rajin dan paling bersemangat mengikuti kegiatan trauma healing di tenda. “Ia tiap hari datang. Bahkan tak mau saat Sabtu dan Minggu kegiatan kita diliburkan. Azis juga tampak sangat ceria dan aktif,” ucapnya. 

Temannya juga bilang, Azis rajin pergi salat ke masjid. Sayang, sejak banjir, Azis sudah jarang ke masjid. “Kata temannya, karena tak ada lagi baju koko,” pungkas Endah. [SAR]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense