BREAKING NEWS
 

Catatan Gusti Asnan, Guru Besar Sejarah Universitas Andalas

Penulisan Sejarah Kongres Muhammadiyah XIX, Sebuah Model L`venement Historis

Reporter & Editor :
MELLANI EKA MAHAYANA
Minggu, 18 Januari 2026 20:53 WIB
Cover buku Fort De Kock dan Depresi Ekonomi: Catatan Suksesnya Kongres XIX Muhammadiyah di Bawah Empasan Badai Malaise terbitan UGM Press November 2025.

RM.id  Rakyat Merdeka - Ada banyak tulisan membahas Muhammadiyah, namun karya Fikrul Hanif Sufyan tentang Kongres XIX organisasi ini di Bukittinggi, pada 14-21 Maret 1930, memiliki arti istimewa.

Ini adalah sebuah karya yang membincangkan sebuah kejadian singkat, hanya satu minggu. Namun disajikan dalam sebuah narasi (rekonstruksi) yang dalam dan komprehensif.

Disajikan dalam sebuah buku yang relatif tebal. Sebanyak 214 halaman (194 halaman isi, 11 halaman bibliografi), serta 35 halaman informasi yang berisikan pengesahan, berbagai daftar, prakata dan kata pengantar.

Kongres XIX dan L’Evenement historie

Dalam ilmu sejarah, karya ini merupakan contoh terbaik dari rekonstruksi sejarah yang disebut L’Evenenment historie. Ini adalah contoh terbaik untuk L’Evenement historie dari sejarah Muhammadiyah secara umum dan L’Evenement historie untuk sejarah lokal Minangkabau (Sumatera Barat) secara khusus.

Saya mengapresiasi model penulisan L’Evenenment historie yang dilakukan Fikrul Hanif ini. Kajian seperti ini bagaikan menggali sumur. Diameternya relatif kecil namun ‘lobang’ atau ‘galian’nya (sangat) dalam, lapisan-lapisan tanahnya akan terlihat atau terungkap dengan jelas, dan didasarnya ditemukan air yang jernih.

Diakui, karya seperti ini bukanlah sesuatu yang baru. Telah ada sejumlah karya seperti ini sebelumnya. Di tingkat nasional misalnya, dilakukan Sartono Kartodirjo dalam disertasi atau bukunya Pemberontakan Petani Banten (1966, 1984, 2015) atau untuk lokal Minangkabau (Sumatera Barat) oleh Ken Young tentang Pemberontakan Pajak Kamang (1994).

Seperti yang juga dilakukan Sartono, Young, dan sejumlah penulis lain dengan pola L’Evenement historie, Fikrul tidak hanya merekonstruksi jalannya Kongres XIX Muhammadiyah. Dia juga menarasikan berbagai event lain yang terjadi di sekitar kongres.

Acara-acara yang berhubungan secara langsung atau tidak dengan Kongres XIX, dan menghadirkan berbagai penafsiran terhadap berbagai aspek sosial, politik, ekonomi, dan budaya dari penyenggaraan kongres tersebut.

Kongres Penuh Dinamika di Luar Jawa

Baca juga : Digitalisasi Pancasila, Menjaga Anak Bangsa

Karena itu, dalam buku ini kita akan menemukan sajian tentang latar belakang penyelenggraan kongres, tentang sejarah keberadaan kota Bukittinggi (Fort de Kock), kemunculan dan perkembangan Muhammadiyah di Minangkabau, keberadaan dan akhir PKI, persoalan guru ordonansi yang sensitif, kepanitiaan kongres, jalannya kongres.

Ada juga acara kongres pelajar (murid), kongres ibu-ibu dan aktivitas kaum ibu, penyelenggaraan kongres pada saat krisis ekonomi (maleise).

Sajian tentang infrastruktur transportasi, entertainment semasa dan sesudah kongres (arak-arak, pameran, perlombaan bayi, ‘fashion show’ dengan memakai songket, api unggun, penyelenggaraan sidang tertutup, acara foto bersama. Ada banyak lagi topik bahasan dalam buku ini.

Sebagian besar pembahasan dalam buku ini, bisa dikatakan belum pernah dibahas dalam berbagai buku yang berkenaan dengan Muhammadiyah di Sumatera Barat atau sejarah lokal Sumatera Barat (Minangkabau). Bisa pula dikatakan penyajian topi-topik ini menjadi kontribusi utama (kebaharuan) yang mengesankan dari karya Fikrul ini.

Di samping itu, kajian mengenai Kongres XIX itu memang belum ditulis penulis manapun secara serius dan komprehensif. Sajian Fikrul telah memberikan pencerahan kepada kita tentang berbagai topik, aspek atau event tersebut.

Karya Fikrul ini membuka mata kita bahwa ada begitu banyak topik yang bisa diungkapkan sekaitan dengan Kongres XIX Muhammadiyah ini.

Mengapa Fikrul bisa menghasilkan karya ini?

Ada dua jawaban terhadap pertanyaan ini: Pertama, Fikrul memiliki kemampuan menulis yang mumpumi, Ini dibuktikan dengan adanya sejumlah buku yang lahir dari tangannya, sebagaimana tersaji pada lembar ‘Tentang Penulis’ (p. 215-17).

Adsense

Kedua, ketersediaan sumber. Fikrul mampu mendapatkan sumber-sumber yang banyak dan kredibel untuk mendukung proses rekonstruksi. Seperti dipahami oleh sejarawan, ‘tanpa sumber tidak ada sejarah’, maka Fikrul sudah mampu memenuhi tuntutan ini.

Baca juga : Ini 9 Alasan Muhammadiyah Pakai Metode Hisab

Fikrul memiliki sumber-sumber sekunder dan khususnya primer yang bejibun banyaknya, seperti tersaji pada ‘Bibliografi’ (10 halaman).

Saya ingat pada Pak Taufik Abdullah yang ‘sombong’ dan ‘kegadang-gadangan’ itu. Suatu waktu dia pernah berkata, ‘kehebatan karya saya (Tesis Magister dan Disertasi Doktor) terletak pada sumber’. Pernyataan yang sama, pada suatu kesempatan, juga diungkapkan oleh Prof. Bernard Dahm kepada saya.

Tidak hanya duo sejarawan ini, juga banyak empu sejarawan lain mengatakan hal yang sama. Karena ini, pesan moral dari karya Fikrul ini adalah, kalau ingin menghasilkan sebuah karya sejarah yang baik dan hebat, carilah dan gunakanlah sumber sebanyak mungkin.

Upaya mendapatkan sumber, dewasa ini, jauh lebih mudah dibandingkan dengan masa lalu. Sebagian besar sumber sejarah, mulai dari arsip, surat kabar, foto, peta, hingga buku dan artikel (jurnal) bisa didapat dengan mudah melalui ‘dunia maya’.

Saya tahu benar, salah satu kelebihan Fikrul adalah kemampuan dan kecakapannya menggunakan berbagai piranti canggih untuk mendapatkan bahan atau sumber itu.

Catatan berikutnya dari buku ini adalah gaya bahasa Fikrul yang khas. Bagi saya pribadi, ada gaya bahasa tersendiri yang dimiliki Fikrul, gaya bahasa yang tidak formal dan menantang, atau menggugah kita untuk tetap membaca narasi yang disampaikan. Walaupun kadang-kadang gaya bahasanya ini agak berlebih-lebihan juga.

Lihatlah misalnya bagaimana Fikrul menulis judul Bab II: Rendenvous Fort de Kock, Parijs van Sumatra. Judul Bab IV Tourne Fachruddin dan Kongres XVII di Solo dan sejumlah judul Bab, Sub-bab atau narasi yang terkesan ‘asingsentris’. Saya yakin, tujuan Fikrul adalah untuk menarik perhatian dan minat pembaca.

Kritik untuk Fort de Kock dan Depresi Ekonomi

Di samping gaya bahasa, saya ingin juga menyampaikan catatan lain, yakni adanya kesan kurang sistematisnya penyajian berbagai topik, aspek atau event historis dalam buku ini. Saya yakin, ini disebabkan oleh karya ini sesungguhnya bukan dibuat khusus atau dirancang dari awal sebagai sebuah buku.

Baca juga : Pendidikan Harus Memanusiakan, Sebuah Refleksi Peringatan Hardiknas

Karya ini adalah kumpulan tulisan Fikrul yang dibuat dan disajikan dalam berbagai kesempatan (pertemuan ilmiah) sebelumnya, terutama selama masa Covid-19. Itu pula, misalnya, tidak disajikan analisis tentang gambaran sosial, politik, ekonomi dan budaya daerah (Fort de Kock khususnya dan Sumatera Barat umumnya).

Tidak disajikan pandangan/sikap Pemerintah Belanda terhadap penyelenggaraan kongres, atau tanggapan kelompok non-pembaharu, bagaimana kaum pembaharu (pendukung) Muhammadiyah tengah tampil di panggung sejarah daerah saat itu, dan tinjauan kritis sehingga kongres itu berbuah sukses.

Catatan terakhir, adalah tentang judul. Jujur saja, pertama kali mengetahui akan terbitnya buku Fikrul dengan judul Fort de Kock dan Depresi Ekonomi (yang ditulis dengan warna merah dan ukurannya hurufnya yang jauh lebih besar dari anak judulnya), di otak saya segera hadir bayangan, bahwa karya ini adalah sebuah rekosntruksi berbagai aspek sosial, budaya, politik, dan ekonomi di Fort de Kock pada masa krisis ekonomi (maleise).

Dan penyelenggraan kongres XIX Muhammadiyah di kota ini hanya sebagai bagian dari sajian mengenai sejarah Bukittinggi masa malaise tersebut.

Pikiran ini muncul di otak saya, karena kebutulan, saat itu saya tengah mempersiapkan sebuah tulisan tentang depresi ekonomi di Sumatera Barat. Sejauh yang saya tahu, belum ada sebuah tulisan yang serius mengenai Sumatera Barat, atau kota atau daerah tertentu di Sumatera Barat pada masa malaise.

Kalaupun ada, sifatnya fragmentaris, hanyalah bagian dari pembahasan yang lain. Seperti karya Akira Oki tetang perubahan sosial di pedesaan Sumatera Barat sejak awal abad ke-20 hingga masa Jepang. Sehingga, setelah membaca (sekilas) karya ini saya sedikit kecewa, karena judul tidak mencerminkan isi (menurut perkiraan saya).

Saya yakin, ini adalah juga bagian dari marketing strategy penerbit. Membuat judul yang marketable, sebab kalau judul buku ini hanya terfokus pada Kongres XIX Muhammadiyah di Fort de Kock (mungkin) akan kurang ‘menendang’.

Walaupun ada beberapa ‘catatan akhir’ saya yang mungkin kurang mengenakkan, namun secara keseluruhan, seperti yang saya sebut sebelumnya, buku ini adalah sebuah karya yang hebat, terutama dalam genre L’Evenement historie sejarah Muhammadiyah umumnya dan sejarah daerah Minangkabau (Sumatera Barat).

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense