RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah memastikan fundamental ekonomi nasional tetap kokoh di tengah penurunan outlook peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s Investors Service. Pemerintah juga menegaskan komitmen untuk terus menggeber mesin pertumbuhan ekonomi.
Dalam laporan terbarunya, Moody’s Investors Service mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level Baa2, atau satu tingkat di atas batas investment grade. Namun, lembaga pemeringkat tersebut menurunkan outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Menanggapi penilaian tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai Moody’s belum melihat kinerja perekonomian nasional secara menyeluruh. Menurut dia, penilaian dilakukan sebelum data kinerja kuartal IV-2025 dirilis.
Purbaya menjelaskan, ekonomi Indonesia tumbuh 5,39 persen secara tahunan (year on-year/yoy) pada kuartal IV-2025. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan kuartal lain sepanjang 2025.
“Ekonomi kita sudah berbalik arah, lebih cepat dari sebelumnya. Ke depan akan semakin membaik, pertumbuhan akan lebih cepat. Pelan-pelan Moody’s akan melihat apa yang terjadi di sini dengan lebih adil,” ujar Purbaya.
Baca juga : Naik First Glider, Adu Nyali Terbang Seperti Burung
Bendahara Negara itu juga menjamin kondisi fiskal Indonesia tetap memadai untuk memenuhi kewajiban pembayaran utang. Ia menegaskan, tidak ada alasan bagi lembaga pemeringkat untuk meragukan ketahanan fiskal Indonesia.
“Lembaga pemeringkat itu pada dasarnya menilai apakah kita mampu membayar utang dan apakah kita mau membayar utang. Dua-duanya kita penuhi, jadi seharusnya tidak ada masalah,” katanya.
Terkait kekhawatiran atas program pemerintah yang berpotensi membebani fiskal, Purbaya menegaskan pihaknya akan mengawal penyaluran anggaran agar berjalan optimal. Ia juga menyebut telah mendapatkan persetujuan DPR untuk meninjau anggaran kementerian dan lembaga (K/L) lain, sehingga Kementerian Keuangan memiliki ruang lebih leluasa untuk melakukan koreksi.
“Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kami pastikan berjalan tepat sasaran, efektif, dan efisien. Jangan sampai ada pemborosan yang tidak terkontrol. Itu mungkin juga yang menjadi kekhawatiran Moody’s,” imbuhnya.
Ia menambahkan, pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bergerak ke arah yang benar dengan defisit yang tetap terkendali. Pemerintah pun menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai sekitar 6 persen.
Baca juga : Satriwan Salim: Tidak Meratanya Sebaran Sekolah
“Saya akan fokus memperbaiki fundamental ekonomi,” tegas mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu.
Senada, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menilai, penurunan outlook Moody’s tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi Indonesia. Meski demikian, ia mengakui penyesuaian tersebut dipengaruhi oleh persepsi risiko terkait kepastian kebijakan.
“Penyesuaian outlook ini tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian Indonesia. Di tengah tingginya gejolak dan ketidakpastian global, kinerja ekonomi domestik tetap solid,” ujar Perry dalam keterangan resmi, Jumat (6/2/2026).
Ia memaparkan, pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 tercatat sebesar 5,39 persen, dengan pertumbuhan tahunan mencapai 5,1 persen. Inflasi tetap terkendali di level 2,9 persen, sementara stabilitas sistem keuangan terjaga dengan likuiditas memadai, permodalan perbankan yang kuat, serta risiko kredit yang rendah.
Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 4,9–5,7 persen pada 2026 dan meningkat menjadi 5,1–5,9 persen pada 2027, dengan inflasi tetap terjaga.
Baca juga : Abdul Fikri Faqih: Tak Ada Parameter Kualitas Sekolah
Dari sisi eksternal, ketahanan ekonomi Indonesia juga dinilai kuat. Neraca perdagangan Desember 2025 mencatat surplus 2,51 miliar dolar AS, sementara cadangan devisa meningkat menjadi 156,5 miliar dolar AS, setara pembiayaan 6,4 bulan impor.
Terpisah, CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menilai revisi outlook Moody’s menjadi pengingat penting bagi penguatan kelembagaan dan konsistensi kebijakan ekonomi. “Hal ini sejalan dengan pendekatan yang selalu kami terapkan terhadap setiap masukan yang kami terima,” ujar Rosan dalam keterangannya, Jumat (6/2/2026).
Ia menegaskan, peringkat investment grade Indonesia tetap terjaga, mencerminkan kepercayaan terhadap ketahanan makroekonomi, disiplin fiskal, serta prospek pertumbuhan jangka panjang. Menurutnya, perubahan outlook justru menegaskan pentingnya reformasi kelembagaan dan konsistensi kebijakan.
Sebagai sovereign wealth fund yang baru dibentuk, Danantara saat ini berada pada fase penguatan institusi dengan fokus pada penerapan tata kelola, proses investasi yang disiplin, serta manajemen risiko yang pruden sesuai praktik global.
“Danantara Indonesia akan terus beroperasi secara profesional, akuntabel, dan transparan dalam menjalankan peran sebagai pengelola aset negara,” tegas Rosan. [UMM/BYU]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.