BREAKING NEWS
 

Susu di Ujung Nusantara: Menjaga Nutrisi Menembus Laut dan Panas

Reporter & Editor :
FAZRY
Selasa, 24 Februari 2026 09:59 WIB
Managing Director PT Lami Packaging Indonesia Hongbiao Li (ketiga dari kiri) dan PR Manager PT Lami Packaging Indonesia, Ahmad Rizalmi (keempat dari kiri) saat menunjukkan contoh kemasan aseptik produk Lamipak di sela acara Konferensi Pers Anugerah Jurnal. (Dok. PT Lami Packaging Indonesia)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sepotong kotak susu Ultra High Temperature (UHT) polos mungkin tampak sederhana. Namun, bagi ribuan anak sekolah di pelosok kepulauan Indonesia, ia adalah “paspor” menuju pertumbuhan optimal.

Di balik setiap tetes susu, tersimpan perjuangan logistik yang raksasa: menembus panas tropis, perjalanan laut panjang, serta risiko kemasan rusak.

Di satu sisi, tanpa teknologi pengemasan aseptik dan edukasi gizi yang tepat, nutrisi esensial berpotensi hilang di tengah perjalanan.

Di sisi lain, miskomunikasi terkait intoleransi laktosa juga dapat mengancam efektivitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah.

Direktur Utama PT Lami Packaging (LamiPak) Indonesia Hongbiao Li menekankan bahwa menjaga kualitas nutrisi hingga ke tangan penerima manfaat merupakan misi utama, terutama bagi siswa dan ibu hamil di wilayah terpencil.

Menurut dia, tantangan distribusi di negara kepulauan menuntut solusi teknologi yang mampu menjaga mutu produk pangan.

Baca juga : Susu MBG di Negeri Kepulauan: Antara Pasokan, Mesin, dan Kemasan

“Di sinilah peran teknologi kemasan menjadi kunci. Kami ingin memastikan bahwa ‘Satu Kotak Susu’ yang diterima anak-anak di daerah terpencil memiliki kualitas yang sama baiknya dengan di kota besar,” ujar Public Relations Manager PT LamiPak Indonesia, Ahmad Rizalmi, menyampaikan pesan perusahaan.

Teknologi kemasan aseptik memungkinkan susu tetap steril dan layak konsumsi meski dikirim ke wilayah yang tidak memiliki fasilitas rantai dingin (cold chain).

Dengan proses sterilisasi produk dan kemasan secara terpisah, teknologi ini membantu menjaga keamanan pangan tanpa memerlukan bahan pengawet.

Saat ini, kapasitas produksi kemasan aseptik PT LamiPak Indonesia mencapai sekitar 21 miliar unit per tahun, atau hampir tiga kali lipat kebutuhan kemasan susu nasional yang berkisar 8 miliar unit per tahun.

Kapasitas tersebut memastikan pasokan domestik tetap terjaga, meskipun sebagian produk juga diekspor.

Bukti Ilmiah di Balik Kotak Susu

Adsense

Profesor Epi Taufik, Tim Pakar Bidang Susu Badan Gizi Nasional (BGN) sekaligus Guru Besar Ilmu dan Teknologi Susu Institut Pertanian Bogor (IPB) University, menegaskan bahwa pemilihan susu dalam Program Makan Bergizi Gratis didasarkan pada bukti ilmiah yang kuat.

Baca juga : Kepala Perpusnas: Naskah Kuno Nusantara Model dari Masa Lalu, Modal Masa Depan

Susu mengandung 13 zat gizi esensial, termasuk protein berkualitas tinggi, kalsium, dan vitamin D, yang sangat krusial bagi anak usia 9–12 tahun.

Rentang usia tersebut berada pada fase peak growth velocity, yakni periode percepatan pertumbuhan tulang dan kebutuhan energi yang tinggi.

“Dalam berbagai dietary guidance seperti di Malaysia, Jepang, dan China, hingga panduan Isi Piringku dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) serta prinsip Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) dari Badan Pangan Nasional Republik Indonesia (Bapanas RI), susu selalu masuk dalam rekomendasi. Ini bukan soal ikut-ikutan, melainkan karena bukti ilmiahnya kuat,” ujar Prof. Epi.

Sesuai Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Nomor 13 Tahun 2023, susu dalam Program Makan Bergizi Gratis menggunakan minimal 20 persen susu segar yang dipadukan dengan padatan susu (rekombinasi), dengan kandungan gizi setara susu segar.

“Kandungan kalsium tidak kurang dari 15 persen nilai harian, lemak 3 persen, protein 2,7 persen, serta karbohidrat dan mineral 7,8 persen. Jadi, bukan berarti jika susu segarnya 20 persen lalu sisanya semua udara,” tegas satu-satunya profesor bidang susu di Indonesia itu.

Tantangan Nonteknis: Intoleransi Laktosa

Selain tantangan teknis distribusi dan pengemasan, intoleransi laktosa juga menjadi perhatian serius dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.

Baca juga : Prabowo Undang Mantan Menlu, Mantan Wamenlu, Komisi I DPR dan Pakar HI ke Istana

Pemerintah memilih susu polos karena lebih sehat, minim gula tambahan, dan selaras dengan prinsip pangan bergizi sederhana.

Namun, agar program tetap inklusif, pemerintah bersama sekolah diminta aktif memantau keluhan pencernaan serta memberikan edukasi kepada orang tua dan tenaga pendidik.

“Melalui pemantauan keluhan, edukasi, dan penyediaan opsi alternatif, program ini dapat berjalan lebih inklusif sekaligus menjaga kenyamanan penerima manfaat,” kata Prof. Epi.

Dengan dukungan teknologi kemasan yang mampu menembus batas geografis, kapasitas manufaktur yang memadai, serta edukasi gizi yang berkelanjutan, susu dalam Program MBG bukan sekadar minuman.

Ia menjadi fondasi nutrisi dan investasi jangka panjang bagi pembangunan sumber daya manusia menuju Generasi Emas Indonesia 2045, dari Sabang hingga Merauke, dengan kualitas gizi yang tetap terjaga.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense