Dark/Light Mode

Kepala Perpusnas: Naskah Kuno Nusantara Model dari Masa Lalu, Modal Masa Depan

Minggu, 15 Februari 2026 10:16 WIB
Kepala Perpusnas Prof. E. Aminudin Aziz (Foto: Dok. Perpusnas)
Kepala Perpusnas Prof. E. Aminudin Aziz (Foto: Dok. Perpusnas)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) Prof. E. Aminudin Aziz menegaskan, naskah kuno Nusantara harus dipandang bukan hanya sebagai “model dari masa lalu”, tetapi juga sebagai “modal pembangunan hari ini dan masa depan”.

Hal itu disampaikannya dalam Seminar Nasional Naskah Kuno sebagai Kajian Interdisipliner yang digelar Rumah Naskah Nusantara, di Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Sabtu (14/2/2026).

Menurut Prof. Amin, para founding fathers telah menggali khazanah ke-Indonesiaan berdasarkan peninggalan leluhur. Karena itu, naskah Nusantara tidak boleh diabaikan atau dibiarkan rusak dimakan waktu, melainkan harus dilihat sebagai potensi besar untuk membangun Indonesia yang bermartabat.

Ia menyebut sejumlah naskah peninggalan leluhur yang merefleksikan nilai kearifan bangsa. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika, misalnya, terinspirasi dari karya Mpu Tantular dalam Kakawin Sutasoma pada masa Majapahit.

Para pemimpin Sunda juga menjadikan prinsip tritangtu sebagai panduan moral kepemimpinan yang bersumber dari kitab Sang Hyang Siksa Kandang Karesian. Selain itu, karya dan perjuangan Syekh Yusuf Makassar menjadi inspirasi dunia dalam hal keadilan dan kesetaraan umat manusia.

Baca juga : Lemhannas RI, Wawasan Nusantara, Dan Asta Cita Dalam Kepemimpinan Nasional

“Dengan memandang manuskrip sebagai model dan modal, maka dunia pernaskahan yang selama beberapa dekade awal perkembangannya hanya menjadi domain para filolog, sudah saatnya dunia ini diperluas secara lintas batas, yaitu keilmuan, generasi, dan pemangku kepentingan,” ujar Prof Ami.

Seminar Nasional Naskah Kuno sebagai Kajian Interdisipliner yang digelar Rumah Naskah Nusantara, di Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Sabtu (14/2/2026). (Foto: Dok. Perpusnas)

Ia menekankan tiga hal penting dalam memajukan pernaskahan Nusantara.

Pertama, pendekatan lintas ilmu atau interdisipliner. “Sudah saatnya para filolog dan ahli pernaskahan bersama dengan ahli di bidang ilmu lain berkolaborasi terhadap fenomena-fenomena aktual yang relevan dengan persoalan kebangsaan dewasa ini,” katanya.

Menurutnya, isu ketahanan pangan, ekologi, perekonomian, pendidikan, kesehatan, dan persoalan sosial perlu diselesaikan secara multiperspektif. “Sehingga naskah yang tadinya dipandang sebagai ajimat bisa menyumbangkan alternatif yang aktual dan bermanfaat,” tambahnya.

Kedua, lintas generasi. Aminudin menilai generasi muda memegang peran penting dalam pelestarian naskah.

Baca juga : Gerindra Kaltara Gelar Doa Bersama Dan Santunan Yatim

“Seringkali kita mengabaikan peran generasi muda dalam upaya pelestarian naskah. Padahal merekalah sesungguhnya yang akan memikul tanggung jawab sejarah setelah kita tiada,” ujarnya.

Ia mencontohkan Rumah Naskah Nusantara, komunitas anak muda asal Ciamis, sebagai bukti keterlibatan generasi muda dalam pemajuan pernaskahan.

Ketiga, lintas pemangku kepentingan. Aminudin menegaskan pengelolaan pernaskahan harus melibatkan kementerian dan lembaga di pusat maupun daerah, lembaga penelitian, perguruan tinggi, komunitas, pegiat, hingga pemilik naskah.

“Semua dari kita adalah pemilik saham pernaskahan Nusantara. Kemajuan ataupun kemundurannya adalah tanggung jawab yang diemban oleh kita semua dan niscaya akan dicatat oleh sejarah,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Oman Fathurrahman menegaskan, manuskrip menyimpan ingatan kolektif bangsa.

Baca juga : Karantina Peduli, Aksi Nyata Solidaritas Barantin Hadapi Bencana Di Sumatera

“Manuskrip sudah kita tetapkan sebagai objek kebudayaan. Namun, merawat manuskrip tidak cukup di permukaan. Perlu pengarusutamaan agar masyarakat luas mengetahui pengetahuan dan kearifan yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi dalam pelestarian manuskrip. “Kita perlu bersinergi bukan kerja sendiri-sendiri. Negara bermitra dengan Manessa, Rumah Naskah, dan komunitas, menggali inspirasi menghimpun informasi. Filologi perlu kita ramaikan, hindarkan manuskrip dari kepunahan. Merawat manuskrip adalah tugas mulia, bukan semata orang satu dua, melainkan harus bergerak bersama,” pungkasnya.

Seminar tersebut turut dihadiri Ketua Yayasan Rumah Naskah Nusantara Gunari Putra Erisman, Kepala Program Studi Sastra Sunda sekaligus Ketua Manassa Komisariat Jawa Barat Rahmat Sopian, serta sejumlah narasumber, antara lain Undang A. Darsa, Munawar Holil, Riadi Darwis, dan Aditia Gunawan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.