BREAKING NEWS
 

Hoaks Program MBG Marak, Analis Ingatkan Risiko Krisis Kepercayaan Publik

Reporter & Editor :
SAIFUL BAHRI
Sabtu, 7 Maret 2026 07:05 WIB
Ilustrasi siswa menyantap program MBG. (Foto : Kemenag)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pendiri firma analitik Big Data Evello, Dudy Rudianto, berharap publik lebih bijak dalam menyikapi penyebaran konten hoaks yang beredar secara masif terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pernyataan tersebut disampaikan menanggapi beredarnya konten fitnah yang menarasikan seorang jurnalis, bernama Valencia yang membongkar dalang keracunan MBG, namun kemudian ditahan aparat kepolisian.

“Konten tersebut juga menyebutkan narasi yang bombastis seperti aksi nekat Valencia tersebut dalam rangka membongkar aib publik yang berarti membongkar aib negara,” ujar Dudy.

Berdasarkan data Evello, penyebaran konten hoaks tersebut paling banyak ditemukan di platform Meta, khususnya Facebook dan Instagram, dibandingkan platform lain seperti X dan TikTok.

Baca juga : Hasil Riset: Program MBG Bantu Penuhi Gizi Siswa dan Ringankan Beban Orang Tua

“Sebaran dan interaksi tertinggi konten hoaks ini mencapai 31.889 total engagement di Facebook dengan sebaran sebanyak 2.344 kali dan 8.478 percakapan,” terang Dudy.

Sementara itu, di Instagram tercatat 7.080 percakapan dengan total interaksi mencapai 29.393 likes.

Adsense

Evello tidak hanya menganalisis jumlah konten dan tingkat interaksi, tetapi juga melakukan analisis lebih mendalam untuk melihat profil psikologis yang terbentuk dari sebaran serta interaksi terhadap konten hoaks tersebut.

Hasil analisis menunjukkan bahwa 50 persen percakapan mengarah pada krisis kepercayaan terhadap hukum dan pemerintahan. Percakapan dalam kelompok ini didominasi emosi agresif yang dipicu rasa marah dan antisipasi.

Baca juga : Di Peluncuran Malaka Books, Anies Baswedan Ingatkan Pentingnya Daya Baca

Selain itu, sekitar 30 persen percakapan menyoroti narasi kegagalan dan dugaan korupsi dalam program MBG. Sementara 20 persen lainnya bernuansa sangat politis, karena berisi narasi penyesalan elektoral.

Dari hasil analisis tersebut, Evello menyimpulkan bahwa penyebaran hoaks ini diduga digerakkan oleh kelompok tertentu yang aktif secara politik dan berupaya membangun suasana permusuhan yang lebih luas di tengah masyarakat.

Di sisi lain, Dudy menilai hingga saat ini Meta sebagai pemilik platform belum melakukan moderasi konten secara optimal, sehingga unggahan hoaks tersebut dapat muncul hampir bersamaan di berbagai akun.

Sebaliknya, menurutnya isu serupa di platform X justru dimoderasi oleh Grok hingga empat kali dan secara konsisten menyebut konten tersebut sebagai hoaks.

Baca juga : Teddy Tegaskan, Program MBG Tak Kurangi Anggaran Pendidikan

“Sebaran dan interaksi konten ini di X tidak cukup besar karena aplikasi AI milik X memoderasi unggahan tersebut sebagai konten DFK,” ujar Dudy.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense