Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Jasad Pramugari ATR 42-500 Ditemukan: Posisi Tengkurap, Kaki Kanan Patah
Rabu, 21 Januari 2026 08:32 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Korban kedua yang ditemukan Tim SAR pada kecelakaan pesawat ATR 42-500 akhirnya terungkap. Dia adalah Florencia, salah satu pramugari pesawat. Saat ditemukan, jasad korban dalam posisi tengkurap, kaki kanan patah.
Hingga, Selasa (20/1/2026), proses pencarian korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 masih terus dilakukan. Selain serpihan dari badan pesawat, Tim SAR gabungan sudah menemukan 2 korban.
Korban pertama, berjenis kelamin laki-laki yang ditemukan dalam jurang sejauh 200 meter di lereng Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, Minggu (18/1/2025). Korban kedua yang belakangan diketahui bernama Florencia, ditemukan di lereng gunung, tak jauh dari penemuan korban pertama.
Saiful Malik, salah satu anggota Tim SAR dari Arai Sulsel, menceritakan kronologis ditemukannya korban kedua. Saat ditemukan, korban masih mengenakan seragam hitam ATR 42-500, celana jeans, serta sepatu kets hitam atas nama Florencia Lolita Wibisono (32).
"Nametag-nya masih utuh dan bisa terbaca. Yakni, Florencia. Ditemukan sekitar jam dua siang," ujar Saiful di posko SAR Tompo Bulu, Senin (19/1/2026).
Diungkapkan, jasad pramugari ini ditemukan di tepi lereng gunung. Dari kejauhan, jasad korban terlihat dalam posisi tengkurap, tersangkut di dahan pohon. Posisinya 100 meter sebelum titik bagian depan pesawat ditemukan. Di bawahnya, kedalaman jurang mencapai 300 meter yang penuh risiko longsor dan bebatuan tajam.
"Tanpa kayu yang menyangkut itu, mungkin jatuh lebih dalam," katanya.
Proses evakuasi, katanya, sangat menantang. Kondisi cuaca berkabut dan medan yang curam dan licin. Petugas mengevakuasi korban memakai peralatan lengkap.
Baca juga : Update Kecelakaan ATR 42-500, Korban Ke-2 Ditemukan Di Tebing Terjal
Di sekitar lokasi jasad kedua, tim menemukan berbagai serpihan pesawat, termasuk bagian mesin yang rusak parah. Korban diperkirakan terlempar akibat benturan hebat saat pesawat jatuh.
Kondisi jasad, kata Saiful, relatif utuh. Meski perlu pemeriksaan mendalam oleh ahli forensik untuk memastikan penyebab kematian dan detail lainnya.
"Bagian perut agak terburai, kaki patah sebelah kanan. Baju utuh, kepala masih ada. Kita sempat nunggu kantong mayat agak lama sebelum kita mobilisasi semaksimal mungkin ke jalur utama untuk turun," jelasnya.
Serda Marinir Syamsul Alam, Tim SAR Yonmarhanlan Makassar merinci, korban kedua ditemukan di kedalaman 300 meter dengan kondisi medan sangat berkabut dan jalurnya terjal dan curam. Setelah dimasukkan ke dalam kantong jenazah, korban digantung agar posisinya aman.
"Kami harus bergerak pelan-pelan, saling mengingatkan, karena satu kesalahan kecil bisa fatal," terang Syamsul.
Danrem 142/Toddopuli Brigjen TNI Andre Clift Rumbayan menambahkan, setelah 28 jam ditemukan, jenazah pramugaari yang ditarik kini berjarak sekitar 100 meter dari puncak Gunung Bulusaraung. "Posisi jenazah kedua perempuan ini masih di lereng, 100 meter lagi ke puncak," ujar Andre, Selasa (20/1/2025) sore.
Dia mengatakan, kondisi hujan badai jadi tantangan terhadap personel Tim SAR sejak pagi. Namun demikian, dia memastikan tim terus berupaya mengevakuasi dengan maksimal.
"Kondisi hujan lebat, pasti lelah. Tapi kita tetap semangat secepatnya bisa membawa jenazah ini," katanya.
Baca juga : Pesawat ATR 42-500 Tabrak Bulusaraung, 1 Korban Ditemukan Dalam Jurang
Sementara itu, satu jenazah yang ditemukan sebelumnya dilaporkan telah tiba di Kampung Lampesu, Desa Rompegading, Kecamatan Cenrana, Maros. Jenazah dibawa ke RS Bhayangkara, Kota Makassar.
Sejauh ini, Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, dan relawan lokal, telah mengerahkan helikopter dan drone untuk pemetaan aerial, meski kabut sering kali menghambat penerbangan. Masyarakat setempat juga turut membantu dengan menyediakan informasi lokal tentang jalur-jalur alternatif. Meski akses ke gunung ini tetap dibatasi untuk menghindari kecelakaan tambahan.
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI M Syafi'i menambahkan, barang milik pramugari pesawat atas nama Esther Aprilita telah ditemukan di hari ketiga pencarian, Senin (19/1/2016) kemarin. Dompet, KTP, tablet, hingga buku catatan harian Esther telah dibawa ke posko.
"Antara lain dompet, KTP, diary book, computer tablet, AC Document milik FA flight attendant Esther Aprilita," ujar Syafi'i dalam pemaparannya di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (20/1/2016).
Syafi'i menyampaikan, sejauh ini, tim SAR baru menemukan dua dari 10 korban. Dia berharap, tim segera menemukan korban lain dan semoga ada korban yang masih hidup.
"Memang pada saat lihat reruntuhan pesawat, itu serpihan 1 dan yang lain bisa mencapai 700 meter jauhnya. Awalnya kami agak pesimis, tapi saat menemukan kondisi korban dalam kondisi utuh, kami sangat berharap," sambung Syafi'i.
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyatakan, insiden ini masih diinvestigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). "Belum dapat ditarik kesimpulan mengenai faktor penyebab kejadian, akan dianalisis lebih lanjut dalam proses investigasi oleh KNKT," kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa.
Diketahui, lokasi penemuan pesawat berjarak sekitar 26,49 kilometer dari Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, dan berdekatan dengan posko Basarnas terdekat. Pesawat sebelumnya dikabarkan hilang kontak di sekitar Gunung Bulusaraung.
Baca juga : Komisi V DPR: Keselamatan Penerbangan Harus Jadi Prioritas
Jumlah orang di dalam pesawat atau Persons on Board tercatat sebanyak 10 orang. Terdiri atas tujuh awak pesawat dan tiga penumpang. Mereka adalah Capt. Andy Dahananto, SIC/FO M. Farhan Gunawan, FOO Hariadi, EOB Restu Adi P, EOB Dwi Murdiono, FA Florencia Lolita, dan FA Esther Aprilita S.
Ketiga penumpang diketahui merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Masing-masing Ferry Irawan dengan pangkat penata muda tingkat I dan jabatan analis kapal pengawas. Selanjutnya, Deden Mulyana dengan pangkat penata muda tingkat I dengan jabatan pengelola barang milik negara dan Yoga Naufal dengan jabatannya operator foto udara.
Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono menyatakan, kesimpulan sementara kecelakaan ini diklasifikasikan sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT). Klasifikasi tersebut didasarkan hasil temuan awal tim investigasi di lokasi kejadian. Pesawat diduga masih dalam kondisi terkendali sebelum akhirnya menabrak medan pegunungan.
Namun, kesimpulan tersebut belum final dan masih dapat berubah seiring perkembangan penyelidikan. "Kami masih menunggu data lengkap, termasuk rekaman penerbangan dan faktor cuaca," ujarnya.
Dari Senayan, Ketua Komisi V DPR RI Lasarus menyebut, selain faktor cuaca, kondisi geografis di lokasi kejadian juga cukup berisiko. Karena gunung atau rintangan di sekitar area jatuhnya pesawat.
"Saya koordinasi dengan BMKG dan memperoleh informasi, saat kejadian terdapat awan tebal di sekitar lokasi," ujar Lasarus dalam rapat di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Dia pun meminta, KNKT melakukan penyelidikan mendalam dan mengungkap secara menyeluruh berdasarkan data teknis yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Apalagi musibah ini menjadi sorotan internasional.
"Ini menarik perhatian dunia. Kita harus serius menanganinya, dan sebisa mungkin jangan sampai peristiwa serupa terulang kembali," harapnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya