RM.id Rakyat Merdeka - Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat yang mendukung Israel melawan Iran kian meningkat, terutama setelah serangan Iran terhadap Uni Emirat Arab.
Dalam situasi ini, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk mengambil peran sebagai mediator guna meredakan konflik di kawasan Timur Tengah.
Dosen Program Studi Hubungan Internasional UIN Jakarta sekaligus peneliti Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS), Rahmi Fitriyanti menilai, Indonesia dapat menawarkan konsep win-win solution dengan pendekatan diplomasi yang terukur.
Menurut Rahmi, langkah awal yang dapat dilakukan adalah memisahkan isu konflik militer dari persoalan nuklir, serta membangun pendekatan personal kepada Presiden AS, Donald Trump.
Baca juga : Infrastruktur Jadi Motor Ekonomi, Prof Didik Soroti Peran Swasta
Rahmi menguraikan enam rekomendasi yang dapat diinisiasi Indonesia sebagai mediator. Pertama, mendorong gencatan senjata sementara guna memberi ruang bagi proses diplomasi tanpa ada pihak yang merasa kalah.
Kedua, memastikan adanya jaminan tidak saling menyerang melalui komitmen tertulis dari pihak-pihak yang terlibat.
Ketiga, menempatkan Indonesia sebagai penjamin netral untuk mencegah serangan mendadak (pre-emptive strike).
Keempat, memisahkan isu perang dari persoalan nuklir Iran agar proses negosiasi lebih fokus dan bertahap.
Baca juga : Pengamat Ungkap Faktor Kunci Sukses Operasi Ketupat 2026
Kelima, menghidupkan kembali aktivitas ekonomi di Selat Hormuz dengan mendorong penghentian blokade dan serangan di jalur energi global tersebut. Rahmi menilai, pembukaan jalur ini akan menormalkan sekitar 20 persen pasokan energi dunia.
Keenam, menginisiasi forum ekonomi dan keamanan kawasan Timur Tengah yang independen sebagai wadah dialog berkelanjutan.
Diplomasi Personal Jadi Kunci
Rahmi juga menyoroti pentingnya pendekatan personal dalam diplomasi, khususnya terhadap Donald Trump. Ia menilai faktor ego pemimpin dapat menjadi celah untuk meredakan konflik.
“Ego inilah letak kelemahan yang sesungguhnya. Indonesia bisa memainkan ego tersebut dengan membujuk AS agar melunak melalui kalimat-kalimat pengambil hati,” ujarnya.
Baca juga : Prabowo Tegaskan RI Tak Pernah Komitmen Sumbang 1 Miliar Dolar AS Untuk BoP
Menurutnya, pendekatan diplomasi yang mengedepankan penghargaan dan pengakuan terhadap peran AS dapat menjadi strategi untuk menurunkan ketegangan dan mendorong keterlibatan dalam perundingan damai.
“Arogansi yang sudah menjadi ‘batu’ ini masih bisa diatasi melalui pendekatan diplomasi yang dapat menurunkan ego. Tujuannya agar AS mau duduk di meja perundingan dan mencapai kesepakatan damai permanen,” tambahnya.
Meski jalan menuju perdamaian dinilai tidak mudah, Rahmi optimistis peran Indonesia sebagai negara netral dapat mendorong terciptanya stabilitas kawasan.
Sekaligus, menghasilkan solusi yang menguntungkan semua pihak tanpa menimbulkan pihak yang merasa dirugikan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.