BREAKING NEWS
 

Lahirnya Pancasila sebagai Pemersatu Bangsa

Writer : MUHAMAD ROSIT
Editor : UJANG SUNDA
Senin, 1 Juni 2026 15:13 WIB
Muhamad Rosit (Foto: Dok. Pribadi)

Sebuah bangsa dan negara bisa utuh dan bertahan umumnya karena banyak persamaannya, tetapi negara Indonesia justru sebaliknya. Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat majemuk, bangsa ini memiliki 17.000 pulau terbentang dari sabang sampai Merauke, 1.340 suku bangsa di seluruh nusantara, memilliki 700 bahasa daerah yang disatukan dengan bahasa Indonesia, memiliki 6 agama resmi yang berbeda-beda dan memiliki 187 aliran kepercayaan yang terdaftar resmi di pemerintahan.

Dengan keberagaman itu, negara kita sesungguhnya memiliki potensi konflik yang tinggi. Konflik bisa berasal dari perbedaan suku, agama, bahasa, daerah hingga kepentingan politik. Tetapi sungguh ajaib dan mengesankan, bangsa ini masih kokoh sejak proklamasi kemerdekaan 1945. Keberlanjutan Indonesia tidak lepas dari peran dasar negara dan ideologi Pancasila. Untung bangsa ini melahirkan Pancasila yang bisa mengakomodir seluruh keberagaman, dan begitu cerdasnya para founding fathers bangsa ini menciptakan slogan “Bhineka Tungga Ika” berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Perbedaan itu umumnya menjadi penyebab konflik, tetapi dengan bhineka tunggal Ika, perbedaan justru menjadi sarana persatuan.

Dialektika Lahirnya Pancasila

Sebagai dasar, ideologi, dan falsafah bangsa, Pancasila selalu diuji ketahanannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang multikultural seperti Indonesia. Siapa pertama kali yang merumuskan Pancasila barangkali masih menjadi perdebatan panjang. Di antara elemen-elemen yang secara terus-menerus menggugat berpendapat bahwa penggali Pancasila adalah Mr. Muh. Yamin, dengan alasan bahwa tiga hari sebelum pidato Bung Karno 1 Juni 1945, Mr. Muh. Yamin pada 29 Mei 1945 telah menyampaikan suatu pidato yang memuat kelima sila tersebut.

Ada juga yang berpendapat bahwa yang lahir pada 1 Juni 1945 adalah nama Pancasila, alasannya bahwa kelima sila itu sesungguhnya sudah ada sejak jaman nenek moyang bangsa ini ada (Zaman Sriwijaya dan Majapahit), sehingga tidak mungkin lagi dikenali hari lahirnya.

Baca juga : Pancasila Adalah Darah Dan Daging Bangsa Indonesia

Sementara itu ada juga yang berpendapat bahwa Mr. Muh. Yamin dan Mr. Soepomo adalah penggali Pancasila, alasannya kedua tokoh ini telah menyampaikan lima pokok pikiran di depan sidang BPUPKI. Selain itu bahkan ada yang berpendapat bahwa pidato Bung Karno 1 Juni 1945 merupakan pidato penutup, yang tidak lain sebagai rangkuman pidato yang diucapkan oleh tokoh-tokoh sebelumnya, oleh karena itu pidato Bung Karno merupakan hasil kompilasi dari tiga hari sidang sebelumnya (Brata dan Wartha, 2017).

Perbedaan pendapat tersebut menunjukkan bahwa perumusan Pancasila tidak bisa dipahami secara sederhana pada satu tokoh semata. Pancasila memiliki dinamika dan dialektika dalam proses perumusannya, meskipun demikian, pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 memiliki andil besar dalam sejarah bangsa ini karena pertama kali lima prinsip dasar negara Indonesia dirumuskan secara terstruktur dan sistematis yang kemudian diberikan nama “Pancasila”.

Nilai-Nilai Luhur Pancasila Sebagai Pemersatu Bangsa

Pancasila tidak lahir di ruang kosong. Nilai-nilai yang lahir di setiap sila merupakan hasil perenungan yang mendalam (filosofis) sesuai dengan karakter dan kepribadian bangsa Indonesia. Nilai-nilai luhur Pancasila tidak bisa dilepaskan dari konteks budaya, kearifan lokal dan representasi bangsa Indonesia.

Sila pertama, ketuhanan yang maha Esa, menegaskan Indonesia adalah bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai religius.Mengakui Tuhan yang maha Esa sebagai landasan moral dan perilaku dalam berbangsa dan bernegara. Tak heran, menurut Pew  Research Center, sebanyak 98 persen warga negara Indonesia percaya agama dan sebanyak 95 persen warga Indonesia rajin berdoa (pewresearch.org). Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga atau negara Barat, Indonesia jauh lebih religius.

Sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab. Sila ini mengajak kita semua untuk memperlakukan kemanusiaan secara adil, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusaan tanpa melihat perbedaan, menolak penindasan atas dasar apapun dan juga menolak merendahkan derajat dan martabat manusia, sebaliknya penuh empati, toleransi dan saling tolong-menolong yang dibalut dengan Bhineka Tungga Ika.

Baca juga : Pancasila dan Tanggung Jawab Moral Indonesia bagi Perdamaian Dunia

Sila ketiga, Persatuan Indonesia. Sila ini menempatkan persatuan bangsa di atas kepentingan individu dan golongan. Keragaman bangsa Indonesia memang berpotensi menjadi sumber konflik, tetapi dengan sila persatuan ini kita sebagai bangsa justru menjadi semakin kuat dan kokoh dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sila keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebjaksanaan dalam permusyawaratan /perwakilan. Mengandung makna bahwa kedaulatan di tangan rakyat. Berbagai persoalan bangsa ini harus diselesaikan dengan musyawarah secara kekeluargaaan untuk mencapai mufakat, sehingga kehidupan demokrasi Indonesia bukan hanya berlandaskan suara mayoritas saja, tetapi justru menekankan musyawarah dan kebersamaan.

Sila Kelima, Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sila ini mengandung makna setiap warga negara berhak memperoleh penghidupan dan pendidikan yang layak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sila ini juga menekankan pentingnya pemerataan pembangunan dan kesejahteraan yang adil kepada seluruh rakyat Indonesia.

Tantangan Pancasila

Pancasila adalah sebuah ideologi dan dasar negara yang paripurna. Nilai-nilai luhur Pancasila merupakan nilai yang harus kita realisasikan dalam kehidupan nyata di masyarakat. Pancasila tidak bisa lepas dari tantangan dalam menghadapi dinamika zaman yang kian berubah cepat. Setiap sila dalam Pancasila begitu mudah ditulis dan disampaikan kepada masyarakat, tetapi sebenarnya sangat sulit untuk dijalankan dan diwujudkan. Perlu komitmen, upaya keras dan niat baik untuk merealisasikannya agar setiap sila benar-benar terwujud di tengah keberagaman bangsa ini. Paling tidak, ada tiga tantangan Pancasila yang perlu kita hadapi bersama di zaman ini.

Baca juga : Spirit Haji sebagai Energi Peradaban Indonesia

Pertama, menguatnya polarisasi dan intoleransi. Perbedaan pandangan, politik, agama dan kepentingan tertentu kerapkali memicu polarisasi dan praktik intoleransi. Jika tidak dikelola dengan baik, maka bisa berpotensi menciptakan polarisasi dan konflik intern bangsa.

Kedua, Pernyebaran hoaks dan diskriminasi. Perkembangan teknologi dan komunikasi, terutama hadirnya media sosial satu sisi menjadi peluang positif, tetapi di sisi lain memunculkan banyak sekali hoaks yang setiap hari membanjiri ruang media kita. Hoaks digunakan untuk memecah belah bangsa ini, kondisi ini menjadi tantangan yag serius untuk disikapi agar keharmonisan dan persatuan tetap dipertahankan bangsa ini.

Ketiga, menurunnya penghayatan nilai-nilai luhur Pancasila. Sebagian generasi muda memandang Pancasila hanya sebagai simbol negara, tidak dihayati secara mendalam. Padahal Pancasila adalah paket lengkap sebagai parameter dan pedoman dalam bersikap dan berperilaku dalam berbangsa dan bernegara. Implemntasi Pancasila sangat berkorelasi dengan penghayatan nilai-nilai luhur dari warga negaranya.

Dengan demikian, ketiga tantangan tersebut menegaskan bahwa implementasi Pancasila tidak hanya tanggung jawab pemerintah semata, tetapi seluruh elemen masyarakat turut berupaya agar Pancasila tetap menjadi dasar dan Kompas moral bagi keberlangsungan bangsa ini. Lahirnya Pancasila sudah membuktikan bangsa ini masih eksis hingga hari ini, kita tidak bisa bayangkan jika tidak ada Pancasila di negara Indonesia, tentu ceritanya bisa berbeda.

Di tengah arus polarisasi dan fragmentasi sosial, Pancasila bukan sekadar warisan sejarah para founding fathers, melainkan kebutuhan untuk masa depan bangsa Indonesia. Tugas kita adalah berupaya keras untuk merealisasikan nilia-nilai luhur Pancasila agar bangsa ini bisa menjalankan dan merealisasikan berketuhanan, berkemanusiaan, berpersatuan, berkerakyatan dan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tanpa Pancasila, keberagaman bisa menjadi sumber konflik, tetapi dengan Pancasila, keberagaman justru menjadi energi positif untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan.

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense