Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Swedia Pesta Gol 5-1 ke Gawang Tunisia
- S3 Ilmu Hukum Universitas Borobudur Tawarkan Pendidikan Berkualitas Berstandar Internasional
- PLN EPI Dorong CBG dari Limbah Sawit untuk Kurangi Emisi dan LNG
- Khofifah Ajak Alumni FH Unair Buka Peluang Magang Bagi Mahasiswa
- Tampung 245.980 Murid Baru, Disdik DKI SPMB Objektif, Transparan dan Inklusif
Cahaya Manthovani Jadikan Event Sebagai Ruang Perubahan Sosial
Sabtu, 23 Mei 2026 16:46 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Industri kreatif Indonesia mulai mengalami perubahan seiring hadirnya generasi baru pemimpin muda yang mengedepankan kolaborasi, pendekatan humanis, dan kepedulian sosial. Salah satu sosok yang mencuri perhatian adalah Cahaya Manthovani, Managing Director PT Navaswara Bhuwana Kencana.
Di bawah kepemimpinannya, berbagai event nasional berhasil digelar tidak hanya dengan skala besar, tetapi juga membawa narasi kuat serta dampak sosial yang luas.
Cahaya mengaku perjalanan kariernya di industri kreatif berawal dari proses yang mengalir. Lulusan desain arsitektur dari Korea Selatan itu menyebut lingkungan kreatif selama masa studinya turut membentuk cara pandangnya terhadap dunia kerja.
“Sebagai lulusan architectural design di Korea, negara yang sangat mendorong kreativitas, saya belajar banyak dari mereka. Dunia industri kreatif adalah awal mula saya menjejaki karier,” kata Cahaya, dalam keterangannya, Sabtu (23/5/2026)
Menurut dia, dunia event bukanlah sesuatu yang direncanakan sejak awal, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang dijalani dengan komitmen tinggi hingga akhirnya mendapat kepercayaan dari banyak pihak.
Sejumlah program yang dipimpinnya antara lain Festival Storytelling Cerita Rakyat Suara Nusantara 2025 yang mengangkat budaya tutur Nusantara, ABPEDNAS Jaga Desa Awards 2026 yang memberi apresiasi terhadap pembangunan desa, hingga Inklusiland 2025 yang mengusung isu inklusivitas melalui pendekatan kreatif.
Baca juga : Panggah Susanto: PSN Wanam Harus Jalan, Demi Ketahanan Pangan Nasional
Melalui berbagai program tersebut, Cahaya dinilai menghadirkan formula baru dalam industri event dengan memadukan unsur pengalaman (experience), storytelling, dan dampak sosial dalam satu ekosistem kegiatan.
“Ketika ingin membuat sebuah event, kita sendiri harus tahu tujuan utamanya apa. Efeknya apa? Apakah hanya berguna untuk diri sendiri atau bisa menginspirasi orang banyak?” ujarnya.
Ia mencontohkan program Suara Nusantara yang diinisiasinya sebagai respons terhadap fenomena menurunnya kemampuan komunikasi dan interaksi sosial akibat dominasi penggunaan gawai.
Menurut Cahaya, melalui konsep yang menyenangkan, peserta didorong membaca, memahami, dan menyampaikan cerita rakyat dari berbagai daerah di Indonesia. Program tersebut bukan hanya bertujuan melestarikan budaya, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi peserta.
Namun kiprahnya tidak hanya terbatas di sektor industri kreatif. Melalui Yayasan Inklusi Pelita Bangsa, Cahaya aktif menjalankan berbagai program sosial bagi anak-anak disabilitas dan komunitas inklusi.
Salah satu program yang mendapat perhatian adalah Program Makanan Bergizi Gratis-Swasta di Provinsi Banten. Program itu melibatkan 12 pelaku UMKM lokal dan menjangkau lebih dari 2.200 penerima manfaat dari sekolah khusus dan komunitas disabilitas.
Baca juga : 28 Tahun Reformasi, Aktivis UJB Terbitkan Buku Sejarah Gerakan Mahasiswa
Perempuan lulusan Kyungsung University, Korea Selatan, itu juga pernah bertugas sebagai Chef de Mission (CDM) ASEAN Youth Paragames 2025 Dubai. Dalam ajang tersebut, kontingen Indonesia berhasil meraih 59 medali, terdiri dari 23 emas, 23 perak, dan 13 perunggu.
Bagi Cahaya, keberhasilan program sosial maupun event tidak dapat dilepaskan dari kolaborasi lintas sektor.
“Kita hidup di dunia ini bersama individu lainnya. Peradaban tidak akan berubah tanpa kerja sama dengan sesama,” ujarnya.
Ia menilai promosi melalui media sosial saja tidak cukup untuk memperluas dampak sebuah kegiatan. Karena itu, kerja sama dengan berbagai pihak menjadi bagian penting untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
Meski sukses memimpin berbagai event nasional, Cahaya mengakui dirinya menghadapi tantangan, terutama terkait persepsi publik terhadap usia dan penampilannya yang dianggap terlalu muda.
“Tantangan terbesar adalah first impression orang terhadap saya. Banyak yang mengira saya masih usia sekolah atau kuliah, padahal saya sudah berusia 26 tahun,” ungkapnya.
Baca juga : Bus Shalawat Dihentikan Sementara Jelang Puncak Haji
Menurut dia, ketegasan, ketelitian, serta komitmen terhadap pekerjaan menjadi cara untuk membangun kepercayaan dan membuktikan kapasitas kepemimpinannya.
Atas kiprahnya, Cahaya telah menerima sejumlah penghargaan, di antaranya penghargaan Puspa Nawasena pada Anugerah Puspa Bangsa 2025 dari Kompas TV serta penghargaan The Inspiring Woman dari Robb Report Indonesia.
Di tengah munculnya banyak figur muda di industri kreatif, Cahaya Manthovani memandang kreativitas tidak cukup hanya menghasilkan karya atau bisnis, tetapi juga harus mampu berjalan beriringan dengan empati dan dampak sosial.
“Menjadi entrepreneur bukan sesuatu yang bisa dibangun secara instan. Perlu waktu, ketekunan, percaya diri, dan konsistensi terhadap perkembangan diri,” tutupnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya