BREAKING NEWS
 

Dari Mbebekan Ke Table Mountain: Jejak Dua Anak Kampung Menjadi Diplomat

Reporter & Editor :
M ADE AL KAUTSAR
Rabu, 3 Juni 2026 20:52 WIB
Lukisan Sungai Metro Mbebekan Malang l, patung buaya dan batu tempat kami mencuci pakaian setiap minggu. Foto: Tudiono

RM.id  Rakyat Merdeka - Tidak banyak yang menyangka, dua anak kampung dari Mbebekan, Sukun, Malang, yang semasa kecilnya berjualan kacang di Bioskop Kelud, kelak merajut karier sebagai diplomat dan bertugas hingga ke Afrika Selatan.

Mereka adalah kakak beradik, Sugeng Wahono dan Tudiono. Pada rentang waktu 1979–1982, saat masih duduk di bangku sekolah dasar, keduanya turut menopang ekonomi keluarga dengan berjualan kacang di Bioskop Kelud, Malang.

Sepulang berjualan, mereka kerap tiba di rumah sekitar pukul 22.00, bahkan terkadang menjelang tengah malam. Perjalanan pulang itu ditempuh dengan menumpang becak jika ada uang lebih, atau berjalan kaki menyusuri malam jika saku sedang hampa.

Di balik keterbatasan tersebut, orangtua beserta kakak mereka, Mulyono, berhasil menanamkan nilai tanggung jawab dan kemandirian yang mengakar kuat. Pada hari libur, mereka tetap diwajibkan mencuci pakaian sendiri, menuntaskan pekerjaan rumah, dan belajar menjalani hidup dengan penuh kedisiplinan.

Atas izin dan pertolongan Allah SWT, perjalanan hidup kemudian membawa keduanya melangkah jauh melampaui batas yang pernah terbayangkan.

Sugeng Wahono diterima sebagai diplomat di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia pada 1991 dan mengikuti Sekolah Dinas Luar Negeri (Sekdilu) Angkatan XVII. Setahun berselang, ia mendapat penugasan dalam misi pemeliharaan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Johannesburg, Afrika Selatan.

Sementara itu, Tudiono menyusul jejak sang kakak dan diterima di Kementerian Luar Negeri pada 1994 melalui Sekdilu Angkatan XX. Sejak Agustus 2023 hingga tulisan ini dibuat, ia mengemban amanah sebagai Konsul Jenderal Republik Indonesia di Cape Town, Afrika Selatan.

Perjalanan dari sebuah kampung kecil di Malang menuju ujung selatan Benua Afrika merupakan epik kehidupan yang tak pernah sekalipun terlintas dalam benak mereka saat masih belia.

Sungai Metro dan Kenangan Masa Kecil

Salah satu tempat yang paling membekas dalam ingatan mereka adalah Sungai Metro.
Pada masa itu, sungai tersebut masih relatif asri. Airnya memang tak selalu jernih—terutama pascaluruhnya hujan atau banjir ketika warnanya pekat kecokelatan—tetapi Sungai Metro tetap menjadi urat nadi kehidupan masyarakat sekitar.

Di bantaran sungai itu, terdapat area yang terpisah bagi laki-laki dan perempuan. Di bagian yang dikenal sebagai Babakan Lanang, teronggok sebuah batu besar yang biasa digunakan warga untuk mencuci pakaian.

Tepat di sampingnya, mengalir grojogan (air terjun) kecil setinggi sekitar 40 sentimeter yang terus-menerus menderaikan gemericik khas dari arusnya yang cukup deras. Di bawah grojogantersebut, terdapat sebuah batu cadas datar nan unik.

Pada permukaannya terukir siluet seekor buaya. Tidak ada yang benar-benar mengetahui siapa pemahatnya, tetapi ukiran itu telah ada sejak mereka kecil dan telanjur menjadi bagian dari memori kolektif anak-anak Mbebekan.

Baca juga : Pramono Resmikan Kantor Kecamatan dan Dua Embung Baru di Jaksel

Tak jauh dari titik itu, terdapat sebuah kedung—bagian palung sungai yang kedalamannya ditaksir mencapai lebih dari 170 sentimeter. Di kedung itulah Sugeng, Tudi, dan teman-teman sebayanya menghabiskan lipatan waktu untuk bermain, berenang, menyelam, hingga bermain petak umpet di bawah permukaan air.

Di ujung kedung, badan sungai kian melebar. Pada tepi baratnya berdiri sebatang pohon beringin raksasa. Cabang-cabangnya yang rimbun menaungi sebagian aliran air, menciptakan atmosfer yang senantiasa teduh dan temaram.

Kini, sebagian besar lanskap itu telah bersalin rupa. Pendangkalan sungai terjadi di banyak titik, membuat beberapa bagiannya tak lagi menyerupai raut puluhan tahun silam.

Pohon beringin besar yang dahulu menancap sebagai penanda kawasan pun telah lama tumbang diterjang banjir bandang. Meski demikian, batu besar tempat mencuci dan sisa pahatan buaya di cadas sungai konon masih gigih bertahan hingga hari ini.

Rupa-rupa kenangan itulah yang di kemudian hari menginspirasi Tudiono—yang sejak bangku SMP gemar melukis—untuk mengabadikan langgam masa kecilnya ke dalam berbagai karya seni visual.

Rumah Sederhana Menyimpan Mimpi Besar

Keluarga ini sempat beberapa kali berpindah tempat tinggal di kawasan Mbebekan. Rumah terakhir orangtua mereka berlokasi di Jalan Kelapa Sawit Nomor 77, tepat di bagian selatan kampung.
Rumah itu tak bisa dibilang besar, tetapi juga tak terlampau sempit.

Sebagian dindingnya belum diplester utuh sehingga susunan batu bata merah dan semen masih tampak telanjang. Di rumah bersahaja inilah, banyak mosaik kenangan penting terukir.

Kakak mereka, Mulyono, kala itu merintis usaha agen susu. Ketiganya kemudian bahu-membahu menjalankan roda usaha tersebut dengan penuh kesungguhan.
Hari mereka kerap kali telah berdenting sejak pukul 03.30 dini hari.

Susu murni dari koperasi di Pujon atau Batu yang baru tiba segera ditakar, dipindahkan ke dalam botol-botol kaca, dikemas rapi, lalu didistribusikan kepada para pelanggan—semuanya harus rampung sebelum jam sekolah dimulai pada pukul 06.30.

Di samping sumur buatan sang ayah yang berprofesi sebagai tukang batu, ketiga bersaudara itu rutin mencuci ratusan botol susu secara bergantian.

Suatu hari, sekitar tahun 1984, sembari menggosok botol-botol kaca itu bersama, Sugeng melontarkan sebuah perenungan kepada adiknya

Adsense

 ”Tud, sepuluh atau lima belas tahun lagi, kita akan jadi apa, ya?” Pertanyaan sederhana itu melayang begitu saja, luruh membelah udara pagi.

Tak ada satu pun dari mereka yang menggenggam jawabannya kala itu. Namun, takdir Ilahi rupanya diam-diam merajutkan jalan yang tak pernah mereka terka. Satu dekade berselang, kakak beradik ini nyatanya sama-sama melenggang masuk sebagai diplomat di Kementerian Luar Negeri RI.

Kesunyian yang Membentuk Karakter

Baca juga : Dipuji Legenda Balap Jepang, Veda Ega Rookie Paling Fenomenal

Di belakang rumah, mengalir sebuah anak sungai yang airnya kurang keruh akibat keberadaan peternakan babi di bagian hulu. Kendati demikian, bentang alam di sekitar rumah itu tetaplah menjadi taman bermain sekaligus madrasah kehidupan bagi mereka.

Di seberang sungai, membentang perumahan dari kawasan elite Buah-buahan. Di sanalah Sugeng pernah ngenger—ikut mengabdi dan bekerja secara serabutan demi mendulang sedikit keping penghasilan tambahan. Tak jarang, ia pulang dengan wajah semringah membawa buah tangan berupa makanan untuk keluarga.

Tepat di samping kawasan tersebut, terhampar petak sawah luas milik Wak Run. Sawah ini senantiasa menjadi arena favorit anak-anak kampung untuk mengadu nasib: mulai dari ajang memburu layang-layang putus hingga membangun gubuk-gubuk jerami yang purna ditebas musim.

Sawah Wak Run belakang rumah tempat mencari layang-layang yang putus diadu. Foto: Tudiono

Akan tetapi, dari seluruh kepingan memori masa kecil itu, ada satu suasana yang letaknya paling subtil di sudut batin Tudiono: kesunyian.

Pada rentang pukul 10.00 pagi, ketika kakak-kakaknya telah berangkat ke sekolah, kawan-kawan sebaya tiada tampak batang hidungnya, dan kedua orangtua pergi mencari nafkah, ia kerap duduk bertafakur seorang diri menatap hamparan sawah.
Dari ufuk kejauhan, kerap terlihat layang-layang yang tengah sengit diadu dari arah Desa Kocek atau Mergan.

Hening kesunyian tersebut sering kali terasa kian menyayat tatkala sayup-sayup terdengar gaung dari terop hajatan desa yang memutar tembang gubahan Rhoma Irama berjudul "Buta":

Terangnya dunia tak dapat dipandanginya, indahnya dunia tak dapat dinikmatinya....

Lagu itu mengalun dari kejauhan, berkelindan bersama empasan angin, hijau hamparan padi, dan cerahnya langit pagi Kota Malang.

Sesekali, rima yang sama turut menemaninya kala duduk merenung di trap (undakan) jalan dekat kediaman Pak Atim, tetangga yang bermukim di seberang jalan menuju Sungai Metro.

Rumah Pak Atim dan Randu alas tempat menunggu layang layang putus dr desa ug sangat jauh Kocek Mbandulan. Foto: Tudiono

Kala itu, batin kanak-kanaknya belum mengerti mengapa lanskap suasana semacam itu terasa begitu mengaduk emosi. Bertahun-tahun kemudian, barulah ia tersadar; kesunyian, laku prihatin perjuangan, dan kesederhanaan masa kecil itulah yang rupanya menjadi palu godam pembentuk karakter.

Hal-hal itulah yang menebalkan daya tahan dan menyemai benih-benih mimpi yang menuntunnya menempuh rute panjang: dari Mbebekan, menyeberangi benua, hingga berlabuh di Afrika Selatan.

Rute panjang perjalanan hidup ini seakan menjadi pelita pengingat bahwa asal-usul bukanlah vonis pembatas. Dari sebuah kampung kecil, di tepi sungai yang sahaja, di balik dinding rumah bata yang belum tuntas diplester; seorang manusia tetap memegang hak prerogatif untuk melangkah sejauh mungkin—selama ia tak putus ikhtiar, melangitkan doa, dan kukuh merawat harapan.

Sebab acap kali, lintasan takdir yang paling menakjubkan justru mekar bermula dari titik-titik kordinat yang paling bersahaja.

Baca juga : BAZNAS Dirikan Empat Tenda Sekolah Untuk Ratusan Anak Pengungsi Di Gaza

Di ujung trap jalan yang menurun menuju Sungai Metro, sekitar sepuluh meter dari tempat Tudi biasa melamun, berdiri tegap sebatang pohon randu alas yang menjulang menantang langit. Batangnya besar, kekar, berbalut duri-duri tajam. Percabangannya membentang liar ke segala penjuru, layaknya saksi bisu atas roda waktu dan dinamika sosiologis warga Mbebekan.

Bagi Tudi, randu alas itu melampaui definisi sebatang pohon. Ia adalah monumen keteguhan. Sang randu tegar mematung menantang terik, merengkuh hujan, menahan badai, dan melintasi pergantian zaman—persis seperti anak manusia yang diwajibkan bertahan menakhodai gelombang ujian kehidupan.

Segala kelindan perjalanan hidup sedari kecil ini tak hanya diresapi mewujud barisan aksara, melainkan turut dibekukan di atas kanvas dengan sapuan cat minyak. Bagi Tudi, melukis adalah sarana katarsis untuk merawat ingatan, merapal rindu pada kampung halaman, sekaligus laku spiritual menyukuri jalan panjang yang telah dilalui.

Ragam kepingan Mbebekan pun terejawantah kembali di atas medium kanvas: lanskap sawah, liuk sungai, kokohnya randu alas, rumah masa kecil, hingga magisnya embun pagi yang sunyi. Setiap sapuan kuasnya menjadi titian batin yang menjembatani masa lampau dan masa kini.

Setibanya ia bertugas di Cape Town, cakrawala inspirasi baru pun lahir menyapa. Salah satu mahakarya alam yang memikatnya adalah Table Mountain, gunung berpuncak datar nan megah yang mendapuk diri sebagai lambang ikonis Cape Town di mata dunia.

Dalam salah satu karyanya, Tudi menorehkan rupa sekeluarga bebek dengan latar keagungan Table Mountain. Lukisan sarat metafora itu disemati sebuah premis sederhana, tetapi gaungnya meruang dalam: *"Mbebekan telah sampai di Table Mountain."*

Bebek menjadi alegori kampung Mbebekan tempat ia mengeja alif-bata kehidupan, sementara Table Mountain merepresentasikan monumen perjalanan takdir yang mengantarkannya hingga ke ujung selatan Afrika.

Sebuah pencapaian yang dahulu, di atas kertas, terasa mustahil bagi sang mantan loper kacang bioskop dan anak bawang dari tepian Sungai Metro.

Kedung Metro tempat mandi dan bermain kejar2an sambil berenang yg sekarang airnya sudah alami pendangkalan dan hampir hanya setinggi lutut. Foto: Tudiono

Tak hanya itu, kuasnya juga merekam aneka satwa liar yang menjadi kepingan identitas eksotis Afrika Selatan, sebut saja singa, citah, maupun zebra. Baginya, fauna-fauna tersebut melampaui batas objek lukisan belaka; mereka hadir sebagai manifestasi dari keberanian, ketangguhan, kecekatan, dan gairah kehidupan untuk terus memacu langkah ke depan.

Pada garis akhirnya, baik bait tulisan maupun goresan kanvas hanyalah medium fana untuk membingkai jejak kehidupan. Sebuah rekam jejak tentang entitas keluarga bersahaja dari kampung Mbebekan yang pantang takluk pada keterbatasan, terbiasa memeras keringat sejak usia belia, pandai bersyukur atas sekecil apa pun kesempatan, dan merawat iman bahwa pertolongan Sang Khalik akan selalu membersamai jiwa-jiwa yang enggan menyerah.

Rentang jarak dari pinggiran Sungai Metro menuju puncak Table Mountain bukanlah sebatas epos keberhasilan material seorang individu. Ini adalah narasi luhur tentang harapan, harga sebuah kerja keras, hangatnya tali persaudaraan, dan keyakinan absolut bahwa: tak ada satu pun mimpi yang terlampau jauh untuk direngkuh, manakala Tuhan telah menorehkan kehendak-Nya.

Penulis: Tudiono, Konsul Jenderal Republik Indonesia di Cape Town

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense