RM.id Rakyat Merdeka - Dunia sedang menghadapi ancaman berlapis. Selain tekanan geopolitik dan ekonomi, bencana alam juga datang silih berganti. Venezuela luluh lantak diguncang gempa kembar dahsyat, Eropa dan Asia diterjang suhu panas ekstrem. Indonesia pun di minta meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi bencana.
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 yang disusul ratusan gempa susulan meluluhlantakkan Venezuela pada Rabu (24/6/2026). Hingga Sabtu (27/6/2026), jumlah korban meninggal dunia telah menembus 1.400 orang.
Pemerintah Venezuela menyatakan ratusan warga masih hilang atau terjebak di bawah reruntuhan bangunan. Bahkan, berdasarkan situs pencarian korban yang diinisiasi kelompok oposisi, lebih dari 55 ribu orang belum diketahui keberadaannya.
Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) memperkirakan korban jiwa berpotensi melampaui 10 ribu orang. Jika prediksi tersebut terjadi, gempa ini akan menjadi salah satu bencana paling mematikan di Amerika Latin dalam satu abad terakhir.
Baca juga : Masih Saling Serang, Perdamaian AS-Iran Hanya Di Atas Kertas
Di saat yang sama, dunia juga menghadapi gelombang panas ekstrem. Analisis AFP menunjukkan hampir 200 juta penduduk Eropa mengalami suhu di atas 35 derajat Celsius pada Sabtu (27/6/2026). Rekor suhu baru tercipta di Inggris, Prancis, Swiss, Jerman hingga Denmark.
Di Spanyol, sedikitnya 212 orang dilaporkan meninggal akibat cuaca panas. Menteri Kesehatan Prancis Stephanie Rist mengatakan dampak gelombang panas tahun ini lebih buruk dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Kami melihat indikator bahwa angka kematian kemungkinan besar akan lebih tinggi dibandingkan tahun lalu," ujarnya.
Rumah sakit di Paris melaporkan jumlah pasien Unit Gawat Darurat meningkat 36 persen pada 26-27 Juni. Di Wina, Austria, kunjungan pasien ke UGD juga naik sekitar 15 persen.
Baca juga : Segera Limpahkan Berkas, KPK Pantau Kesehatan Yaqut Di Rumah Sakit Polri
Inggris mencatat rekor suhu tertinggi sepanjang Juni, yakni 37,3 derajat celsius di Santon Downham, Suffolk. Jerman bahkan mencatat suhu 41,5 derajat celsius, sementara Denmark menembus 37 derajat celsius dan Republik Ceko mencapai 40,8 derajat celsius. Swiss juga memecahkan rekor suhu tertinggi selama tiga hari berturut-turut dengan temperatur mencapai 39 derajat celsius di Basel.
Tak hanya Eropa, Thailand juga menghadapi kondisi serupa. Departemen Meteorologi Thailand melaporkan indeks panas di Bangkok mencapai 51,9 derajat celsius atau masuk kategori "Danger" (bahaya).
Gelombang panas turut mengganggu aktivitas masyarakat. Sejumlah festival musik dan pesta jalanan di Prancis, Jerman, dan Belanda dibatalkan. Di Prancis, warga bahkan menyerbu toko elektronik untuk membeli pendingin ruangan (AC) akibat suhu yang terus melonjak.
Para ilmuwan menilai fenomena tersebut merupakan dampak pemanasan global yang dipicu emisi bahan bakar fosil. Gelombang panas diperkirakan akan semakin sering, berlangsung lebih lama, dan memiliki intensitas lebih tinggi.
Baca juga : Abdul Fikri Faqih: Ajak Semua Pemangku Kebijakan Berdiskusi
Bagaimana dengan Indonesia?
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada Juli hingga September 2026, dengan periode terpanas diperkirakan berlangsung pada Agustus. Musim kemarau tahun ini juga diperkirakan lebih kering dan lebih panjang akibat peluang munculnya fenomena El Nino.
Wilayah yang diperkirakan mengalami puncak kemarau pada Juli meliputi sebagian Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara Timur, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga Papua.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.