RM.id Rakyat Merdeka - Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) mencatatkan capaian besar dalam layanan jantung Indonesia. Tim dokter RSCM berhasil memasang Left Ventricular Assist Device (LVAD), alat pompa jantung buatan terkecil dan teringan di dunia, dengan bobot sekitar 19 gram.
Operasi pemasangan dilakukan kepada pasien terpilih pada 1 Agustus 2026. LVAD menjadi salah satu pompa jantung buatan terkecil dan teringan di dunia, sekaligus menjadi yang pertama dipasang di Asia Tenggara.
Pencapaian ini merupakan hasil kolaborasi RSCM dengan HeartSpan.ai, divisi heart longevity, dari Borderless Healthcare Group (BHG). Pasien yang menjalani operasi merupakan perempuan berusia 45 tahun, penjual nasi uduk sekaligus ibu dua anak, yang menderita gagal jantung stadium lanjut.
Pasien dipilih karena kemampuan jantungnya memompa darah hanya sekitar 14 persen, jauh di bawah kondisi normal yang berada di kisaran 50-70 persen. Akibat kondisi itu, pasien kerap mengalami sesak napas meski hanya melakukan aktivitas ringan dan berulang kali harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Direktur Utama RSCM Supriyanto Dharmoredjo mengatakan, keberhasilan tersebut membuktikan Indonesia mampu menghadirkan terapi jantung berteknologi tinggi melalui kerja sama dengan mitra global dan peningkatan kemampuan tenaga kesehatan.
“Pencapaian ini memberikan harapan baru bagi pasien gagal jantung stadium lanjut yang sebelumnya memiliki pilihan terapi yang sangat terbatas,” ujar Supriyanto, dalam konferensi pers, di RSCM, Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Menurut Supriyanto, teknologi LVAD sebenarnya bukan hal baru di dunia. Namun, perangkat yang digunakan RSCM memiliki ukuran jauh lebih kecil dibandingkan alat sejenis sebelumnya.
“Sudah pernah ada, tetapi tidak sekecil ini. Di China alat ini sudah ada sekitar 1.000 yang terpasang, dengan tingkat keberhasilan lebih dari 80 persen,” katanya.
RSCM, lanjut Supriyanto, tidak ingin keberhasilan tersebut berhenti pada satu operasi. Pihaknya menargetkan RSCM menjadi pusat pelatihan pemasangan dan perawatan LVAD bagi tenaga medis di Asia Tenggara.
Baca juga : Ada Pihak yang Sengaja Menyebarkan Ketakutan
“Mudah-mudahan akan lebih banyak lagi masyarakat Indonesia yang tertolong dengan metode ini,” harapnya.
Tantangan berikutnya adalah biaya. Supriyanto memperkirakan, total pemasangan LVAD mencapai sekitar Rp 2 miliar, dengan harga perangkat sekitar Rp 1,7 miliar. Meski tergolong mahal, ia memastikan, RSCM memiliki mekanisme subsidi bagi pasien yang tidak mampu.
“Kalau orang tidak mampu, bukan berarti tidak boleh. Tugas RSCM adalah memberikan subsidi,” tegasnya.
Ia mencontohkan, pasien penerima LVAD pertama merupakan masyarakat kurang mampu yang mendapatkan subsidi. Bahkan, Supriyanto menyebut, sepanjang 2025, RSCM telah memberikan subsidi sekitar Rp 1,2 triliun kepada pasien kurang mampu.
“Jangan khawatir, orang tidak mampu nanti bisa mendapat fasilitas ini,” ucapnya.
Di tempat yang sama, Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Dr. Azhar Jaya mengatakan, kehadiran LVAD menjadi alternatif penting karena pilihan terapi bagi pasien gagal jantung berat masih terbatas.
“Pengobatan jantung memang pilihan utamanya adalah transplantasi jantung, tapi mencari donornya itu susah dan dokternya juga sedikit, karena yang mengerjakan itu bukan dokter kaleng-kaleng,” kata Azhar.
Menurutnya, perkembangan LVAD dapat membantu memperpanjang usia pasien yang memenuhi kriteria. Namun, saat ini biaya pemasangannya belum ditanggung BPJS Kesehatan.
“Semoga ke depan harga alatnya bisa lebih murah dan bisa di-cover BPJS,” ujarnya.
Baca juga : Kejagung Lacak Aset & Dana Terkait Febrie
Azhar juga meminta RSCM membuka pengetahuan dan kemampuan yang telah diperoleh kepada rumah sakit lain. Dengan begitu, jumlah dokter Indonesia yang mampu melakukan pemasangan LVAD dapat terus bertambah.
“RSCM jangan di-keep sendiri, ajarin yang lain,” pintanya.
Founder dan Chairman Borderless Healthcare Group sekaligus Founder HeartSpan.ai Wei Siang Yu menilai, keberhasilan RSCM menjadi momentum penting bagi perkembangan layanan jantung di Indonesia dan Asia Tenggara.
“Pencapaian ini jauh melampaui sekadar tonggak klinis, ini menandai dimulainya era baru dalam layanan kardiovaskular di Indonesia,” ujar Wei.
Ia mengatakan, ukuran LVAD yang hanya sekitar 19 gram membuat perangkat tersebut lebih kecil dan ringan dibandingkan sejumlah produk sejenis. HeartSpan.ai juga akan mendorong pelatihan agar dokter Indonesia nantinya mampu melakukan prosedur tersebut secara mandiri.
Selain transfer pengetahuan, Wei membuka peluang pengembangan fasilitas produksi teknologi medis di Indonesia. Langkah itu diharapkan dapat menekan biaya dan memperluas akses pasien.
“Dengan menjajaki peluang pengembangan manufaktur teknologi medis canggih di Indonesia, kami berharap dapat meningkatkan keterjangkauan serta memperluas akses masyarakat terhadap teknologi penyelamatan jiwa,” katanya.
Kepala Departemen Kardiovaskular RSCM dr. Birry Karim mengatakan, keberhasilan operasi merupakan hasil kerja tim yang melibatkan berbagai bagian di RSCM, HeartSpan.ai, dan Fuwai Hospital, Beijing. RSCM telah mengembangkan layanan khusus gagal jantung sejak 2017.
“Pengembangan ini tidak bisa dilakukan sendirian, tetapi membutuhkan teamwork. Bukan hanya dari internal RSCM, tetapi juga dukungan HeartSpan dan Fuwai Hospital,” sebut Birry.
Baca juga : Menko Zulhas Ajak Pengusaha Masuk Program Strategis Pemerintah
Pemilihan pasien dilakukan setelah melalui pemeriksaan dan kajian menyeluruh. Menimbang tingkat penyakit dan peluang hidup yang jauh lebih panjang dibanding kandidat lain, akhirnya pasien ditetapkan menerima LVAD.
Hasil awal setelah operasi pun menunjukkan perkembangan positif. Dalam waktu 24 jam, pasien sudah dapat dilepas dari mesin bantu napas dan mulai berlatih duduk. Tidak seperti pasien sebelumnya di Indonesia yang pernah dipasang LVAD tapi meninggal 10 hari pascaoperasi.
“Pada intinya, progres pasien baik. Setelah lepas ventilator, itu merupakan tahapan kritis yang sudah dilalui,” katanya.
Meski demikian, tim masih memantau sejumlah risiko, seperti infeksi, perdarahan, gangguan jantung kanan, dan gangguan ginjal. Birry menyebut, keberhasilan melewati masa awal setelah operasi memberikan optimisme terhadap pemulihan pasien.
Ahli Bedah Kardiovaskular dan Toraks Utama RSCM dr. M. Arza Putra menambahkan, kondisi pasien stabil dan proses rehabilitasi telah dimulai. “Keberhasilan implantasi ini menunjukkan apa yang dapat dicapai melalui perencanaan bedah yang matang dan kerja sama tim multidisiplin,” ujar Arza.
Keberhasilan ini menjadi langkah awal RSCM dalam mengembangkan layanan bantuan jantung mekanis di Indonesia. Selain membuka pilihan terapi bagi pasien gagal jantung berat, kemampuan ini diharapkan memperkuat RSCM sebagai pusat layanan dan pelatihan LVAD di Indonesia maupun Asia Tenggara.
“Kami berharap dapat menghadirkan terapi penyelamatan jiwa ini kepada lebih banyak pasien yang memenuhi indikasi di Indonesia,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.