BREAKING NEWS
 

Institut Leimena Bawa Program LKLB Indonesia ke Level ASEAN

Reporter : HENDRAWAN KOSIM WIJAYA
Editor : OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Jumat, 21 Agustus 2026 19:28 WIB
Foto: Institut Leimena.

RM.id  Rakyat Merdeka - Institut Leimena memperluas Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) ke tingkat Asia Tenggara.

Enam delegasi dari Kamboja, Laos, dan Vietnam datang ke Indonesia untuk mempelajari pengalaman penerapan program yang telah melatih lebih dari 11.000 guru dan pendidik tersebut.

Para delegasi mengikuti Program Immersion LKLB di Jakarta pada 19–23 Agustus 2026. Kegiatan salah satunya berlangsung di Hotel Mercure Cikini, Jakarta, Jumat (21/8/2026).

Delegasi dari tiga negara tersebut sebagian besar berasal dari lembaga pemerintah dan pendidikan.

Mereka terdiri atas perwakilan Kementerian Kultus dan Agama Kerajaan Kamboja serta Universitas Buddha Preah Sihanouk Raja di Phnom Penh, Departemen Etnis dan Urusan Keagamaan di bawah Kantor Perdana Menteri Laos, serta Akademi Nasional Politik Ho Chi Minh yang merupakan lembaga setingkat kementerian di bawah pimpinan tertinggi negara Vietnam, Politburo Partai Komunis.

Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, mengatakan program tersebut bertujuan membangun keberagaman sekaligus memperkuat kohesi sosial.

“Kita ingin berbagi pengalaman yang kita miliki di Indonesia karena Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya ini bertujuan membangun kohesi sosial dan berkaitan erat dengan upaya bangsa kita dalam mengelola keberagaman,” ujar Matius.

Menurut Matius, kehadiran para delegasi dalam Program Immersion LKLB mendapat sambutan baik dari Pemerintah Indonesia.

Selama di Indonesia, mereka mengikuti berbagai sesi paparan dan melakukan audiensi dengan kementerian/lembaga untuk mendengarkan pengalaman pemerintah dalam menjalankan Program LKLB bersama Institut Leimena dan mitra lainnya.

Baca juga : Mesra Di Kremlin, Putin Dan Presiden Myanmar Bestie

“Kami memandang baik berbagi pengalaman Program LKLB ini dengan negara-negara lain di Asia Tenggara. Bukan mencoba meniru apa yang kita lakukan di Indonesia karena setiap negara pasti mempunyai konteks berbeda. Kami ingin mereka melihat bahwa berdasarkan apa yang dipelajari dari Indonesia, ada hal-hal baik yang bermanfaat untuk negara mereka dan dari sana kita bisa membangun kerja sama,” katanya.

Matius mengatakan, Program Immersion LKLB telah dilaksanakan empat kali sejak 2025. Secara keseluruhan, sebanyak 24 delegasi dari empat negara ASEAN, yakni Kamboja, Filipina, Laos, dan Vietnam, telah datang ke Indonesia untuk mempelajari Program LKLB.

Program tersebut memberikan pengalaman menyeluruh kepada para delegasi ASEAN untuk memahami model LKLB di Indonesia.

Salah satunya delegasi dari Kementerian Pendidikan Dasar, Tinggi, dan Teknis Wilayah Otonom Bangsamoro di Mindanao (BARMM), Filipina, yang diajak melihat Program LKLB untuk Perdamaian di Ambon, Maluku. Program tersebut dinilai memiliki kemiripan dengan konteks trauma akibat konflik sosial. 

Mantan Menteri Luar Negeri RI sekaligus Senior Fellow Institut Leimena, Alwi Shihab, mengatakan Program LKLB berkontribusi dalam membangun toleransi dan kerja sama di kawasan Asia Tenggara melalui penguatan kompetensi untuk hidup dalam masyarakat majemuk.

Menurut Alwi, LKLB mencakup tiga kompetensi utama, yakni pribadi, komparatif, dan kolaboratif.

“Dimulai dari kompetensi pribadi, artinya kita mengetahui betul inti dari ajaran agama kita dalam memandang orang lain yang berbeda. Misalnya, Islam tidak pernah mengajarkan intoleransi, bahkan Islam menganjurkan kita bekerja sama,” kata Alwi.

Dia menjelaskan, Program LKLB di Indonesia berawal dari kegelisahan atas tingginya angka intoleransi di kalangan guru agama berdasarkan survei Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 2019.

Adsense

Karena itu, Program LKLB yang dimulai pada 2021 awalnya menyasar pelatihan guru madrasah.

Baca juga : Habib Aboe Bersama BKSAP Dalami Posisi Batam Jadi Data Center ASEAN

Program tersebut kemudian berkembang menjadi pelatihan sosial-kultural bagi aparatur sipil negara (ASN) sebagai bagian dari upaya memperkuat peran mereka sebagai perekat bangsa.

Peneliti International Institute of Social Studies (ISS) Erasmus University Rotterdam, Yuyun Wahyuningrum, mengatakan terdapat keingintahuan di kawasan ASEAN untuk mengenal LKLB serta memahami bagaimana pendekatan tersebut diterapkan dalam konteks Indonesia.

Menurut Yuyun, LKLB tidak hanya bersifat praktis, tetapi juga dapat diterapkan dalam berbagai konteks masyarakat.

“LKLB merupakan salah satu metodologi yang dianggap bisa direplikasikan di konteks negara-negara Asia Tenggara,” bebernya.

Yuyun mengatakan ASEAN telah mengadopsi pendekatan LKLB ke dalam cetak biru Visi Komunitas ASEAN 2045, khususnya pada pilar Komunitas Sosial Politik dan pilar Sosial Budaya.

Pendekatan tersebut diarahkan untuk mendukung kohesi sosial, perdamaian, dan pembangunan berkelanjutan.

“LKLB adalah kerja keras, kerja bersama, kerja terus-menerus, dan kerja meluas. Jadi karena setiap orang berbeda, konteks juga berbeda, maka harus dilakukan terus-menerus,” ujarnya.

“Inilah yang dilakukan Institut Leimena, tidak hanya dengan guru agama di Indonesia, tapi juga aktor-aktor penting di luar Indonesia,” lanjut Yuyun.

Maha Nayaka Sangha Agung Indonesia, Bhante Partono Nyana Suryanadi Mahathera, mengatakan keberagaman dalam konteks ASEAN bukan sekadar kenyataan sosial, melainkan kekuatan yang harus dikelola dengan baik agar tidak menjadi sumber konflik.

Baca juga : Paman Sam Hormati Kedaulatan Indonesia

Menurut dia, pendekatan LKLB berhasil mempertemukan berbagai perspektif keagamaan dalam suasana yang setara.

“Saya melihat bahwa LKLB ini sangat penting untuk membangun kepercayaan dan memperluas dialog,” kata Partono.

Sementara itu, Wakil Asia di Dewan Gereja-gereja Sedunia sekaligus Senior Fellow Institut Leimena, Pdt. Henriette T. Hutabarat, menegaskan agama dan budaya merupakan dua elemen yang tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Menurut Henriette, transformasi masyarakat hanya dapat terjadi dengan memperhatikan kedua aspek tersebut.

“LKLB adalah ruang aman untuk menanyakan hal-hal yang dianggap sensitif karena kita harus meresponsnya secara jujur dengan tetap menghargai perbedaan yang ada,” katanya.

LKLB Program Immersion LKLB menghadirkan sejumlah pejabat pemerintah dan tokoh agama sebagai narasumber, termasuk Alwi Shihab, Pdt. Henriette, dan Bhante Partono.

Selain mengikuti paparan, para delegasi juga melakukan audiensi ke Kementerian Luar Negeri dan mengunjungi Masjid Istiqlal.

Delegasi dari Kamboja, Laos, dan Vietnam juga melakukan observasi workshop LKLB di Jakarta pada Jumat (21/8) hingga Minggu (23/8).

Workshop tersebut diikuti lebih dari 40 guru dari sejumlah provinsi di Indonesia. Dalam workshop tersebut, para delegasi melihat secara langsung bagaimana pendekatan LKLB diintegrasikan ke dalam pembelajaran di sekolah.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense