RM.id Rakyat Merdeka - Indonesia sedang diuji berbagai bencana alam seperti gempa dan erupsi gunung merapi dalam waktu berdekatan. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, tapi tidak perlu panik atau cemas berlebihan.
Direktur Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Wijayanto mengatakan, banyak informasi hoax yang beredar di masyarakat terkait bencana. Dia pun meminta masyarakat tetap tenang dan tidak mudah percaya informasi yang belum teruji kebenarannya. Warga diminta mengikuti perkembangan situasi melalui kanal resmi pemerintah.
Wijayanto mengatakan, informasi mengenai gempa bumi dan tsunami harus diperoleh dari sumber resmi. Hal ini penting agar masyarakat tidak semakin khawatir akibat informasi yang keliru atau belum terverifikasi.
“Kami mengingatkan masyarakat agar memastikan informasi terkait gempa bumi dan tsunami hanya bersumber dari kanal komunikasi resmi BMKG yang telah terverifikasi,” kata Wijayanto dalam keterangannya, dilansir situs BMKG, Jumat (4/9/2026).
Imbauan tersebut disampaikan menyusul gempa M5,3 yang mengguncang wilayah selatan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Jumat siang. Gempa terjadi pukul 12.05.02 WIB dengan kedalaman 69 kilometer. Pusat gempa berada di laut, sekitar 59 kilometer sebelah selatan Kota Cilacap.
Baca juga : Polri Usut Penyebab Karhutla, 112 Orang Jadi Tersangka
Menurut Wijayanto, gempa tersebut terjadi akibat pergerakan Lempeng Indo-Australia yang masuk dan bergerak ke bawah Lempeng Eurasia. Peristiwa ini merupakan proses alami pergerakan lempeng bumi yang banyak terjadi di wilayah Indonesia.
BMKG mengategorikan gempa tersebut sebagai gempa menengah karena pusat gempa berada pada kedalaman 69 kilometer. Meski berpusat di laut, hasil pemodelan BMKG memastikan gempa M5,3 tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
“BMKG akan terus memonitor aktivitas gempa bumi susulan serta menyampaikan pemutakhiran informasi kepada stakeholder dan masyarakat,” ujar Wijayanto.
Di tengah aktivitas gempa, sejumlah gunung api di Indonesia juga mengalami erupsi dalam waktu yang berdekatan. Kondisi tersebut sempat memunculkan kekhawatiran bahwa aktivitas satu gunung api memicu erupsi di gunung lainnya.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rita Susilawati memastikan, tidak ada hubungan antara aktivitas satu gunung dengan gunung lainnya. Sebab, masing-masing gunung memiliki sistem dan proses aktivitas vulkanik sendiri.
Baca juga : Beras Sudah Ekspor, Kedelai Masih Impor
“Kalau bahasa sederhananya, dapurnya itu masing-masing,” ujar Rita.
Menurut Rita, Indonesia memang memiliki aktivitas gunung api yang tinggi karena berada di kawasan Cincin Api Pasifik. Indonesia memiliki 127 gunung api aktif.
Namun, banyaknya gunung api aktif tersebut bukan berarti ketika satu gunung erupsi, gunung lainnya ikut terpengaruh.
“Proses menuju erupsi antara satu gunung dengan gunung yang lainnya itu juga berbeda-beda. Kami tidak menemukan bukti adanya satu proses geologi yang memicu seluruh erupsi tersebut secara bersamaan di tanggal 31 Agustus,” jelasnya.
Enam gunung yang mengalami erupsi tersebut yakni Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, serta Gunung Sinabung di Sumatera Utara.
Baca juga : Disanksi AS, Iran Krisis BBM
Rita mengatakan, erupsi yang terjadi dalam waktu berdekatan merupakan bagian dari aktivitas alami gunung api. Dengan jumlah gunung api aktif yang banyak, kejadian seperti ini sangat mungkin terjadi.
Terkait kekhawatiran warga pesisir Banten dan Lampung mengenai potensi tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau, PVMBG juga meminta masyarakat tidak panik. Erupsi gunung api tidak serta-merta menyebabkan tsunami. Tsunami baru dapat terjadi jika erupsi atau aktivitas gunung tersebut memicu perubahan besar di laut, seperti longsoran material gunung ke laut dalam jumlah besar.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.