Sebelumnya
PVMBG meminta masyarakat mematuhi rekomendasi keselamatan di sekitar gunung api yang sedang aktif. Warga juga diminta menjauhi zona bahaya yang telah ditetapkan.
Pengamat kebijakan publik Trubus Rahadiansyah menegaskan, sebagai negara yang berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api, Indonesia wajib memperkuat sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS). Sistem tersebut merupakan bagian penting dari strategi mitigasi bencana.
Menurutnya, semakin cepat peringatan diterima masyarakat, semakin besar kesempatan untuk melakukan evakuasi dan mengurangi risiko korban jiwa. “Gempa, erupsi gunung berapi, tsunami, longsor, banjir, kebakaran hutan, ini bisa dimitigasi. Yang paling awal adalah dengan peringatan dini yang efektif,” katanya.
Mekanisme penyebaran informasi kebencanaan, lanjut Trubus, perlu melibatkan sejumlah pihak. Informasi harus diteruskan langsung kepada masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak, baik melalui pesan peringatan maupun berbagai media sosial dan televisi.
Namun, dia menilai mekanisme tersebut masih perlu ditingkatkan dan dibuat lebih terintegrasi. “Sudah ada tapi kurang masif dan terintegrasi. Edukasi dan literasi publik soal kebencanaan juga amat minim. Penghormatan atas riset dan akademisi di bidang kebencanaan juga harus ditingkatkan,” pesannya.
Baca juga : Polri Usut Penyebab Karhutla, 112 Orang Jadi Tersangka
Sementara itu, Assistant Professor of Engineering University of Nottingham, Prof. Bagus Muljadi, mengingatkan pentingnya riset akademisi dan ilmuwan dalam membaca potensi bencana. Dikatakan Prof. Bagus, sejumlah potensi bencana dapat diperkirakan sehingga langkah mitigasi bisa dilakukan lebih awal.
“Saya saat dalam perjalanan ke Indonesia, Pemerintah UK mengirim pesan ke seluruh warganya bahwa di sana cuaca 35 derajat. Ada peringatan dilarang barbekyu, menyalakan api dan lain-lain. Itu salah satu bukti negara yang mitigasinya jalan,” kata Prof. Bagus dalam sebuah talkshow.
Selain itu, Prof. Bagus menilai salah satu persoalan dalam penanganan bencana di Indonesia adalah belum tumbuhnya cara berpikir lintas disiplin. Padahal, menurutnya, persoalan gambut, gempa, erupsi, dan bencana lainnya tidak bisa dilihat hanya dari satu bidang ilmu.
Aktivitas gempa memang masih terjadi di sejumlah wilayah. Di Nusa Tenggara Timur, misalnya, gempa susulan terus mengguncang Pulau Flores setelah gempa utama M7,7 yang terjadi di wilayah Mbay, Kabupaten Nagekeo, pada 15 Agustus 2026.
BMKG mencatat 12.209 gempa susulan hingga pukul 17.00 WITA, Jumat (4/9/2026). Gempa susulan terbesar mencapai M6,2, sedangkan yang terkecil M0,9. Sebanyak 36 gempa susulan memiliki magnitudo di atas 5. Sementara 173 gempa di antaranya dirasakan masyarakat.
Baca juga : Beras Sudah Ekspor, Kedelai Masih Impor
Kepala Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, mengatakan jumlah gempa susulan terus menunjukkan penurunan. Meski demikian, aktivitas tersebut masih dapat berlangsung selama beberapa pekan setelah gempa utama.
“Total gempa susulan 12.209. Magnitudo terbesar 6,2, magnitudo terkecil 0,9. Magnitudo di atas 5 sebanyak 36 kali dan gempa susulan yang dirasakan 173 kali,” ujar Arief, Jumat petang.
Gempa susulan tersebut juga memicu longsor di Pulau Palue, Kabupaten Sikka. Material longsoran menutup ruas jalan yang menghubungkan wilayah Rokirole dan Nitunglea.
Pada Jumat (4/9/2026) siang, gempa M5,4 juga mengguncang wilayah tenggara Cilacap. Gempa terjadi pukul 12.04.59 WIB dengan kedalaman 10 kilometer dan pusat gempa sekitar 77 kilometer tenggara Cilacap. BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.
Gempa M4,9 juga terjadi di Kabupaten Boalemo, Gorontalo, Jumat dini hari. Gempa berlangsung pukul 04.05 WIB dengan kedalaman 58 kilometer dan pusat gempa sekitar 27 kilometer barat laut Boalemo.
Baca juga : Disanksi AS, Iran Krisis BBM
Sementara itu, Kota Tarakan, Kalimantan Utara, diguncang gempa M3,2 pada Jumat sore. Gempa terjadi pukul 18.20 WITA atau 17.20 WIB dengan pusat gempa berada di darat, sekitar 35 kilometer barat daya Kota Tarakan, pada kedalaman 5 kilometer.
BMKG menyebut gempa Tarakan merupakan gempa dangkal yang berkaitan dengan aktivitas sesar aktif. Sesar aktif merupakan bagian dari kerak bumi yang masih dapat bergerak dan memicu gempa. Tidak ada laporan mengenai kerusakan akibat gempa tersebut.
Selain gempa, aktivitas gunung api juga masih berlangsung. Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, misalnya, kembali erupsi pada 31 Agustus 2026.
Erupsi tersebut membuat warga Desa Kuta Tengah, Kecamatan Simpangempat, mengosongkan perkampungan mereka.
Rentetan gempa dan erupsi tersebut menunjukkan tingginya aktivitas geologi di Indonesia. Meski demikian, pemerintah meminta masyarakat tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. [FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.