RM.id Rakyat Merdeka - Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan mengalami pada Sabtu (5/9/2026) pukul 00.01 WIB. Gunung ini mengalami erupsi menerus sejak Jumat (5/9/2026) pukul 23.07 WIB.
Berikut fakta-fakta seputar erupsi menerus Gunung Anak Krakatau, sebagaimana disampaikan Kepala Badan Geologi Lana Saria pada Sabtu (6/9/2026), serta dihimpun dari berbagai sumber:
1. Anak Krakatau Merupakan Gunungapi Aktif Tipe A
Gunung api aktif tipe A adalah gunung api yang pernah mengalami erupsi sejak tahun 1600, dan masih memiliki potensi untuk kembali meletus.
2. Anak Krakatau Dipantau Melalui 2 Pos Pengamatan
Pengamatan terhadap Anak Krakatau dilakukan melalui dua pos pengamatan gunungapi, yaitu Pos Pengamatan Gunungapi (PGA) Anak Krakatau di Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, dan Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.
3. Erupsi Besar Gunung Krakatau Pada 1883
Gunung Krakatau pernah mengalami erupsi dahsyat pada tahun 1883. Dampak erupsinya mencapai berbagai wilayah Eropa, termasuk perubahan warna langit dan matahari terbenam akibat material vulkanik di atmosfer.
4. Anak Krakatau Muncul Tahun 1929
Baca juga : Gunung Anak Krakatau Erupsi Menerus Sejak Jumat Malam
Anak Krakatau merupakan gunung api yang tumbuh di dalam kaldera bekas letusan dahsyat Krakatau pada 1883. Aktivitas vulkanik kembali muncul di kawasan tersebut pada 1927, sebelum Anak Krakatau muncul ke permukaan pada 1929
Sejak saat itu dan hingga kini, Anak Krakatau berada dalam fase konstruksi (membangun tubuhnya hingga besar). Berdasarkan data yang dirilis Badan Geologi pada Juli 2026, Anak Krakatau mempunyai ketinggian 357 meter di atas permukaan laut.
5. Tak Berpotensi Runtuh Hingga Memicu Tsunami
Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil. Tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Perkembangan aktivitas dan perubahan morfologinya tetap dipantau secara intensif.
6. Erupsi Besar Anak Krakatau
Anak Krakatau mengalami erupsi besar hingga mengakibatkan tsunami di Selat Sunda pada 22 Desember 2018. Sejak itu, seri erupsi berskala rendah terus berlangsung sebagai fase konstruksi pertumbuhan kembali Anak Krakatau hingga 16 Desember 2023.
Setelah jeda yang cukup lama, erupsi kembali terjadi pada tanggal 2 Juli 2026.
7. Anak Krakatau Berstatus Level III
Baca juga : Gunung Sinabung Siaga, Pemkab Karo Evakuasi Warga Desa Kuta Tengah dan Payung
Sejak 2 Juli 2026, Anak Krakatau berstatus Level III (Siaga). Seri erupsi tipe Strombolian yang menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik terus berlangsung hingga tanggal 5 September 2026.
Pada Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB hingga Sabtu (5/9/2026) pagi, Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai dengan suara gemuruh. Terdengar gemuruh dari Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Krakatau Pasauran dari erupsi menerus Anak Krakatau.
8. Lava Air Mancur
Saat terjadi erupsi pada Sabtu (5/9/2026) pukul 00.01 WIB, tinggi kolom erupsi tidak teramati. Namun, warna merah menyala semburan erupsi terlihat jelas secara menerus. Fenomena erupsi ini menyerupai lava fountain atau lava air mancur yang menghasilkan aliran lava.
Erupsi menerus dalam durasi beberapa jam yang berasosiasi dengan erupsi lava air mancur adalah fenomena umum yang sering terjadi.
9. Suara Dentuman Hingga Jawa Barat
Suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat (Jabar), Banten, dan Lampung diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Anak Krakatau yang berlangsung sejak Jumat (4/9/2026).
10. Potensi Ancaman Bahaya Erupsi
Baca juga : Gunung Anak Krakatau Lampung Meletus, Badan Geologi Keluarkan Peringatan
Potensi ancaman bahaya erupsi saat ini berasal dari aliran lava yang dapat disertai lontaran batu pijar.
11. Rekomendasi Untuk Masyarakat
Dalam rekomendasi teknis Level III (Siaga) Anak Krakatau, masyarakat di sekitar Anak Krakatau dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak diperbolehkan memasuki dan melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 3 km dari pusat aktivitas Anak Krakatau. Publik diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya awan panas, lava, dan lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat.
Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung diimbau untuk tenang dan dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
Untuk mengetahui informasi terkait Anak Krakatau, masyarakat dapat menghubungi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi (022) 7272606 di Bandung (Provinsi Jawa Barat) atau Pos Pengamatan Gunung Krakatau (0254) 651449 atau 085846324506 di Pasauran (Provinsi Banten).
Masyarakat, pemerintah daerah, dan instansi terkait dapat memantau perkembangan aktivitas dan rekomendasi Gunungapi Anak Krakatau melalui aplikasi/website Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (www.vsi.esdm.go.id), Magma Indonesia (https://magma.esdm.go.id), dan media sosial Badan Geologi (Facebook, X, dan Instagram), serta website Badan Geologi (www.geologi.esdm.go.id).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.