BREAKING NEWS
 

BPS Tepis Tuduhan Manipulasi Desil Untuk Turunkan Angka Kemiskinan

Reporter & Editor :
BAMBANG TRISMAWAN
Rabu, 9 September 2026 13:58 WIB
Deputi Bidang Statistik Sosial BPS Nashrul Wajdi menjelaskan perbedaan konsep desil dan angka kemiskinan dalam wawancara di Jakarta. Dok. BPS

RM.id  Rakyat Merdeka - Badan Pusat Statistik (BPS) menepis anggapan bahwa penentuan desil keluarga dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) dilakukan untuk mengurangi jumlah penerima bantuan sosial atau membuat angka kemiskinan terlihat menurun.

BPS menegaskan, desil dan tingkat kemiskinan merupakan dua konsep berbeda, baik dari sisi tujuan, konsep, maupun metode perhitungannya.

Sorotan terhadap penentuan desil muncul setelah sebagian masyarakat mengeluhkan kondisi ekonomi yang dinilai sulit, namun justru tercatat berada pada kelompok desil relatif tinggi. Perubahan posisi desil tersebut kemudian menjadi perhatian karena dapat memengaruhi akses keluarga terhadap sejumlah program bantuan sosial pemerintah.

Kondisi itu memunculkan dugaan bahwa penempatan keluarga pada desil lebih tinggi dilakukan agar masyarakat terlihat lebih sejahtera. Dengan begitu, jumlah penduduk miskin dianggap dapat terlihat menurun tanpa adanya upaya pengentasan kemiskinan yang nyata.

Menanggapi anggapan tersebut, Deputi Bidang Statistik Sosial BPS RI Nashrul Wajdi menegaskan, pandangan itu tidak benar.

Menurut dia, desil hanya menunjukkan posisi relatif tingkat kesejahteraan sebuah keluarga dibandingkan keluarga lainnya. Desil bukan label mutlak yang menentukan seseorang tergolong miskin atau kaya.

Baca juga : BPS Luruskan Pemahaman Soal Desil dan Angka Kemiskinan

Dalam sistem tersebut, kata Nashrul, kelompok desil 1 hingga desil 10 akan selalu ada. Setiap kelompok secara prinsip diisi sekitar 10 persen dari total keluarga atau penduduk yang diperingkat berdasarkan tingkat kesejahteraannya.

“Apapun kondisi ekonomi kita, mau kita maju, mau kita maju banget, mau kita masih kondisi seperti sekarang ini, akan selalu ada desil 1. Nah jadi, gak mungkin kemudian kita naik-naikin desil orang untuk ngurangi angka kemiskinan, karena itu dua hal yang berbeda,” kata Nashrul dalam wawancara dengan Nusantara TV di Jakarta, Selasa (1/9/2026).

Dia menjelaskan, perubahan posisi seseorang atau keluarga dalam kelompok desil tidak otomatis memengaruhi angka kemiskinan nasional.

Sebab, angka kemiskinan dihitung menggunakan pendekatan berbeda, yakni berdasarkan garis kemiskinan atau nilai pengeluaran minimum yang dibutuhkan seseorang untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan nonmakanan.

Adsense

Sementara desil merupakan sistem pemeringkatan relatif. Keluarga ditempatkan berdasarkan perbandingan tingkat kesejahteraannya dengan keluarga lain dalam populasi.

Nashrul mengakui, ketidaksesuaian antara posisi desil dengan kondisi aktual keluarga dapat terjadi apabila data yang digunakan belum sepenuhnya dimutakhirkan.

Baca juga : BPS Tegaskan Penentuan Desil Bukan Untuk Turunkan Angka Kemiskinan

Karena itu, BPS terus melakukan pembaruan DTSEN secara berkala. Hingga saat ini, BPS telah merilis tujuh versi DTSEN yang diperbarui setiap triwulan.

Pembaruan terakhir dilakukan pada Juli 2026. Namun, data yang telah dimutakhirkan baru mencapai sekitar 30 persen.

“BPS sudah merilis tujuh versi DTSEN, karena tiap triwulan kita rilis. Terakhir kemarin kita rilis bulan Juli 2026 kemarin, dan posisi persentase yang sudah dimutakhirkan datanya itu 30 persen. Artinya, masih ada 70 persen dari data awal dulu, yang tahun lalu, itu belum dimutakhirkan,” tutur Nashrul.

BPS bersama kementerian dan lembaga serta pemerintah daerah terus melakukan pemutakhiran data melalui berbagai mekanisme.

Mulai dari pemeriksaan langsung di lapangan atau ground check, pendataan oleh pemerintah daerah, hingga pemanfaatan berbagai data administrasi.

BPS juga membuka kanal bagi masyarakat yang ingin memperbarui data secara mandiri.

Baca juga : Lucius Karus: Anggaran Besar Tak Jamin Kinerja Membaik

Menurut Nashrul, pemutakhiran data tersebut penting untuk meningkatkan akurasi DTSEN agar gambaran kondisi sosial dan ekonomi masyarakat semakin sesuai dengan kondisi aktual di lapangan.

BPS kembali menegaskan, desil dan kemiskinan tidak dapat dipahami sebagai dua indikator yang sama.

Tingkat kemiskinan merupakan ukuran statistik agregat yang dihitung berdasarkan garis kemiskinan. Sedangkan desil menunjukkan posisi relatif kesejahteraan keluarga dalam suatu pemeringkatan.

Dengan demikian, perubahan posisi suatu keluarga dalam kelompok desil tidak berkaitan langsung dengan kenaikan maupun penurunan angka kemiskinan nasional.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense