Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Delapan Bulan, Harga Beras Alami Kenaikan, Ada Apa?
Firman Soebagyo: Segera Keluarkan Stok Beras Di Gudang Bulog
Jumat, 4 September 2026 07:10 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Harga beras kembali mengalami kenaikan. Kondisi ini terjadi secara konsisten sejak awal 2026, bahkan berlangsung selama delapan bulan berturut-turut. Termasuk ketika Indonesia memasuki periode panen raya dengan produksi yang melimpah.
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) per 1 September 2026, harga beras dari Juli ke Agustus 2026 meningkat di seluruh rantai perdagangan. Harga beras di tingkat penggilingan atau produsen naik 1,32 persen, tingkat grosir 0,80 persen, dan tingkat eceran atau konsumen meningkat 0,42 persen.
Dengan demikian, sejak Januari hingga Agustus 2026, harga beras di tingkat penggilingan, grosir, dan eceran terus mengalami kenaikan selama delapan bulan berturut-turut.
Kondisi tersebut menjadi anomali, karena kenaikan harga tetap terjadi ketika produksi beras meningkat pada periode panen raya Februari-Mei 2026. Bahkan, saat produksi mencapai puncaknya pada April 2026, harga beras tetap mengalami kenaikan.
Rekor tersebut semakin menarik perhatian, karena selama delapan bulan beruntun, beras juga selalu menjadi salah satu penyumbang inflasi. Beras memang tidak selalu menjadi penyumbang inflasi terbesar, tetapi komoditas tersebut tidak pernah absen.
Pada Agustus 2026, beras menjadi salah satu penyumbang inflasi pada kelompok harga bergejolak (volatile foods), bersama daging ayam ras dan cabai rawit.
Baca juga : DPR Minta Komdigi Siapkan Sanksi Ke Operator Bandel
Di sisi lain, kondisi ini terjadi ketika stok beras di gudang Bulog justru mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia, yakni sekitar 5,2 juta ton.
Tingginya harga beras di tengah melimpahnya cadangan beras Pemerintah (CBP) turut menjadi perhatian Komisi IV DPR RI. Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKS, Slamet mempertanyakan apakah kenaikan harga beras berkaitan dengan sebagian besar gabah petani yang masih dikuasai pihak swasta.
Slamet mengatakan, serapan gabah oleh Pemerintah selama ini masih relatif kecil dibandingkan dengan penguasaan swasta. Kondisi tersebut dinilai dapat membuat Pemerintah kesulitan mengendalikan harga beras di pasaran.
"Harga apakah ini terjadi karena memang swasta menguasai gabah kita? Karena bagaimanapun yang diserap Pemerintah itu kan relatif kecil," kata Slamet dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Menteri Pertanian, Rabu (2/9/2026).
Menurut dia, ketika pihak swasta membeli gabah petani di atas harga pembelian Pemerintah sebesar Rp6.500 per kilogram, biaya produksi dan harga pokok pembelian (HPP) mereka ikut meningkat.
Akibatnya, ketika harga beras diminta turun, pelaku usaha berpotensi enggan melepas stok karena khawatir mengalami kerugian.
Baca juga : Zulhas Buka Ruang Dialog Bangun Papua Berkelanjutan
"Kalau dia membeli harga gabah di luar Rp6.500, tentu logika bisnis HPP naik. Kalau dipaksa turun, mereka tidak mau rugi," jelas Slamet.
Karena itu, Slamet menilai penyelesaian persoalan harga beras tidak cukup hanya dengan menggunakan kewenangan Pemerintah untuk menekan harga. Menurutnya, perlu solusi yang memberikan keuntungan bagi Pemerintah sekaligus pelaku usaha.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan, kata Slamet, adalah meningkatkan penyerapan gabah sehingga porsi stok yang dikuasai Pemerintah menjadi lebih besar.
Namun, peningkatan penyerapan tersebut perlu diikuti tambahan anggaran.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengakui penguasaan swasta dalam rantai pasok gabah dan beras masih sangat besar. Menurutnya, porsi swasta saat ini mencapai sekitar 90 persen, sedangkan Pemerintah melalui Bulog sekitar 10 persen.
"Benar yang dikatakan, swasta memainkan 90 persen. Untung kita punya 10 persen, kalau dulu 2-5 persen. Sekarang stok kita 5 juta ton," ujar Amran.
Baca juga : Politisi Gerindra Kawal Total Revisi UU Kadin
Anggota Komisi IV DPR, Firman Soebagyo, mengakui kenaikan harga beras terjadi karena stok beras di gudang belum dimaksimalkan. "Bahkan prosesnya berbelit-belit," katanya.
Sementara itu, Anggota Komite Ketahanan Pangan INKINDO, Khudori, melihat ada persoalan struktural yang membuat harga beras terus naik.
Untuk mengetahui lebih jauh pandangan dan pendapat Firman Soebagyo terkait kenaikan harga beras, berikut wawancaranya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya