BREAKING NEWS
 

Berkaca Dari Gempa Tibet

Daryono Ingatkan Tingginya Risiko Gempa Kerak Dangkal di Indonesia

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Jumat, 23 Oktober 2026 15:56 WIB
Peta lokasi gempa M7,0 Tibet, China. (Foto: IG Daryono)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pakar Gempa sekaligus Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono mengingatkan tingginya risiko gempa kerak dangkal di kawasan sesar aktif Indonesia, menyusul gempa M7,0 Tibet China pada Kamis (22/10/2026) pukul 22.33 waktu setempat yang mengakibatkan 16 orang tewas, 65 orang terluka, dan 339 rumah roboh.

Menurutnya, Indonesia memiliki lebih dari 400 segmen sumber gempa kerak dangkal yg dapat menghasilkan guncangan merusak, seperti Sesar Besar Sumatra, Sesar Palu-Koro, Sesar Lembang, Sesar Cimandiri, Sesar Opak, Sesar Baribis, Sesar Naik Flores, Sesar Sorong dan berbagai sesar aktif lainnya.

"Gempa dangkal yang terjadi di dekat kawasan permukiman dapat menimbulkan kerusakan serius, bahkan ketika magnitudonya lebih kecil dibanding gempa yang terjadi jauh dari permukiman," kata Daryono melalui akun Instagram pribadinya, Jumat (23/10/2026).

Gempa Tibet memiliki kedalaman sekitar 18 km. Namun, otoritas seismologi China menyebut kedalaman gempa tersebut berada di angka 10 km. Menurut Daryono, perbedaan parameter tersebut merupakan hal yang lazim dalam analisis gempa bumi, karena adanya perbedaan data dan metode penentuan hiposenter.

Baca juga : Gempa M7,0 Guncang Tibet China, 16 Tewas 65 Terluka

Pusat gempa terletak sekitar 191 km timur-timur laut Kota Nagqu, Tibet, tepatnya di kawasan pegunungan sekitar Maru, Kabupaten Baqen. Wilayah episenter berada di Dataran Tinggi Tibet dengan elevasi sekitar 4.800 meter di atas permukaan laut.

"Gempa ini tergolong gempa tektonik kerak dangkal (shallow crustal earthquake), sehingga menghasilkan guncangan kuat di sekitar sumber gempa, terutama pada wilayah dengan kondisi bangunan yang rentan," papar Daryono.

Aktivitas Deformasi Kerak Bumi

Daryono menjelaskan, secara tektonik, gempa Tibet berkaitan dengan aktivitas deformasi kerak bumi akibat tumbukan Lempeng mikro India dan Lempeng Eurasia. Tumbukan kedua lempeng yang berlangsung selama puluhan juta tahun, telah membentuk Pegunungan Himalaya dan Dataran Tinggi Tibet. Proses tersebut menyebabkan kerak bumi mengalami pemendekan, penebalan, pengangkatan, sekaligus pergeseran dan peregangan pada sejumlah bagian wilayah Tibet.

Kondisi inilah yang menjadikan Tibet sebagai salah satu kawasan dengan aktivitas tektonik dan kegempaan tinggi di dunia.

Baca juga : Jarak Waktu Gempa Sumba dan Aceh Tak Sampai 42 Menit, Apakah Ini Gempa Berantai?

Gempa yang terjadi pada malam hari menyebabkan masyarakat berhamburan menyelamatkan diri dari bangunan. Sejumlah fasilitas dan infrastruktur juga mengalami gangguan, termasuk jaringan komunikasi dan akses transportasi. Longsoran batu di kawasan pegunungan turut menghambat mobilitas menuju wilayah terdampak.

Adsense

Setelah gempa utama, lebih dari 10 aktivitas gempa susulan juga tercatat di sekitar episenter, termasuk beberapa kejadian dengan magnitudo di atas M4,0.

"Secara seismologis, gempa susulan merupakan bagian dari proses penyesuaian kembali tegangan kerak bumi setelah terjadinya pelepasan energi pada gempa utama," ujar Daryono. 

Daryono membeberkan, wilayah Tibet dan sekitarnya memiliki sejarah panjang gempa kuat dan merusak. Pada 2010, gempa M7,1 mengguncang Yushu, Qinghai, dan menyebabkan ribuan korban meninggal dunia. Pada Januari 2025, gempa kuat kembali mengguncang kawasan Tingri, Tibet, dan menewaskan lebih dari 100 orang.

Baca juga : ABK Arupadatu I Ditemukan di Enggano, Bagaimana Arus Membawanya Sejauh Itu?

"Kejadian gempa pada Oktober 2026 ini semakin menegaskan bahwa aktivitas kegempaan di Tibet merupakan konsekuensi dari proses deformasi tektonik yang terus berlangsung. Namun, kejadian-kejadian tersebut tidak berarti gempa kuat berikutnya dapat diprediksi waktu dan lokasinya secara pasti," ujarnya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense