Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Daryono: Dentuman Bandung Bersumber Dari Erupsi Anak Krakatau, Ini Alasannya
Sabtu, 5 September 2026 15:35 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pakar gempa dan tsunami sekaligus Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono meyakini dentuman yang terdengar di wilayah Bandung Raya, Jawa Barat, pada Jumat (4/9/2026) sekitar pukul 23.30 WIB hingga Sabtu (5/9/2026) dini hari bersumber dari erupsi Gunung Anak Krakatau.
Periode waktu terdengarnya suara dentuman di Bandung memang berdekatan dengan periode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang dipublikasikan pada pagi tadi, erupsi menerus terjadi sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB hingga Sabtu (5/9/2026) pukul 04.40 WIB.
Baca juga : Dentuman Bandung hingga Lampung Terkait Erupsi Anak Krakatau? Ini Kata BMKG
"Dentuman Bandung dapat dijelaskan bersumber dari erupsi Gunung Anak Krakatau," kata Daryono, yang juga mantan Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG melalui akun X miliknya, Sabtu (5/9/2026).
Konversi Mendadak
Daryono menjelaskan, fenomena dentuman Bandung terjadi akibat konversi mendadak energi termal dan mekanis erupsi menjadi gelombang kompresi akustik berfrekuensi amat rendah (infrasound), yang merambat melalui troposfer dan stratosfer.
Baca juga : Heboh Suara Dentuman di Jawa Barat hingga Lampung, Ini Penjelasan PVMBG
Gelombang tekanan ini terperangkap di dalam saluran gelombang atmosferik (atmospheric waveguide), akibat refraksi gradien temperatur serta geser angin (wind shear).
Kondisi ini memungkinkan gelombang mengalami redaman atenuasi yang minim, sehingga mampu membentur permukaan ruang jauh di Bandung, untuk memicu resonansi mekanis pada struktur ringan seperti kaca jendela, tanpa melibatkan propagasi gelombang seismik tanah.
Baca juga : Gunung Anak Krakatau Erupsi Menerus Sejak Jumat Malam
Daryono menyebut penumpukan gelombang akustik spesifik di Bandung terjadi akibat kombinasi refraksi infrasound pada gradien temperatur, dan wind shear stratosfer yang membiaskan energi suara melompati daerah terdekat (acoustic shadow zone), untuk jatuh tepat pada jarak fokal Cekungan Bandung.
"Bentuk topografi cekungan bertindak sebagai acoustic cavity yang memantulkan kembali, serta mengamplifikasi tekanan gelombang atmosferik tersebut secara lokal," pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya