Dark/Light Mode

Jarak Waktu Gempa Sumba dan Aceh Tak Sampai 42 Menit, Apakah Ini Gempa Berantai?

Minggu, 4 Oktober 2026 11:03 WIB
Peta lokasi gempa Aceh dan Sumba pada Minggu (4/10/2026) pagi. (Foto: X/Daryono Perwira Sakti)
Peta lokasi gempa Aceh dan Sumba pada Minggu (4/10/2026) pagi. (Foto: X/Daryono Perwira Sakti)

RM.id  Rakyat Merdeka - Dua gempa tektonik bermagnitudo lumayan besar terjadi pada Minggu (4/10/2026) pagi, dalam tempo 42 menit.

Gempa pertama terjadi pada pukul 05.55.52 WIB di wilayah Pantai Barat Daya Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan magnitudo 6,1 dan kedalaman 30 km.

Gempa kedua terjadi pada pukul 06.37.33 WIB di wilayah Calang, Aceh Jaya, Aceh dengan magnitudo 5,9 dan kedalaman 55 km.

Kedua gempa dilaporkan tidak berpotensi tsunami. 

Mengingat jarak waktu kejadian yang terbilang cukup dekat, muncul pertanyaan apakah kedua gempa tersebut memiliki keterkaitan? 

Baca juga : ABK Arupadatu I Ditemukan di Enggano, Bagaimana Arus Membawanya Sejauh Itu?

Pakar Gempa sekaligus Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan, jarak waktu kejadian yang relatif dekat bukanlah pertanda adanya gempa berantai, yang bergerak dari Sumba menuju Aceh. 

Menurutnya, aktivitas gempa pagi ini di Sumba Barat dan Aceh Jaya memperlihatkan karakter Indonesia sebagai laboratorium tektonik alami.

Dalam waktu kurang dari 42 menit, dua bagian Nusantara melepaskan energi elastik melalui dua sumber, dua mekanisme patahan, dan dua rezim tegangan yang berbeda. 

"Peristiwa ini bukan pertanda bahwa gempa sedang “berantai” dari Sumba menuju Aceh, melainkan konsekuensi Indonesia berada pada sistem batas lempeng yang sangat aktif, tempat akumulasi dan pelepasan tegangan berlangsung terus-menerus dan secara independen pada banyak sumber gempa," jelas Daryono melalui platform X, Minggu (4/10/2026).

Mantan Direktur Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) itu menambahkan, waktu kejadian kedua gempa memang hanya terpaut 41 menit 41 detik. Tetapi, secara tektonik, kedua gempa tersebut berada di dua dunia deformasi yang berbeda.

Baca juga : Benarkah Gunung Anak Krakatau Kini Punya Cucu? Simak Penjelasan Ahli

Sementara Sumba melepaskan tegangan melalui sesar normal, Aceh menghempaskannya melalui sesar naik pada lingkungan subduksi.

"Dekat dalam waktu tidak berarti dekat dalam proses fisiknya," pungkas Daryono.

Monitoring Pasca Gempa 

Berdasarkan pemantauan sementara yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), guncangan gempa Sumba dirasakan kuat selama kurang lebih 1 menit pada beberapa wilayah, yaitu di Kabupaten Sumba Barat Daya, Kabupaten Sumba Barat hingga Kabupaten Manggarai Barat.

Sebagian masyarakat merasakan gempa, namun situasi kondusif dan tidak ada kepanikan.

Saat ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat masih melakukan monitoring pascagempa di lapangan. Belum ada laporan kerusakan maupun korban jiwa.

Baca juga : Heboh Kawah Anak Krakatau Mirip Telur Ceplok, Ini Penjelasan Ahli

BNPB mengimbau masyarakat setempat untuk tetap tenang, tidak terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, serta memastikan informasi bersumber dari instansi resmi.

Jika terjadi gempa susulan, masyarakat diminta untuk menghindari bangunan retak dan tidak berada di tepi pantai untuk sementara.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.