Sebelumnya
Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari punya pendapat lain. Dia mengacu pada hasil survei. Dia mengakui, usia memang tidak menjadi penghalang. Namun, kalau hasil surveinya kecil, peluang menang akan tipis.
"Kalau surveinya kecil, sebaiknya tidak perlu maju. Lebih baik mendorong kader yang berpeluang menang. Seperti pengalaman Ibu Mega mencalonkan Pak Jokowi pada 2014," paparnya, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.
Baca juga : Trump Mau Luncurkan Kampanye Pilpres 2024
Dalam survei-survei selama ini, kata Qodari, Mega kesulitan bersaing dengan sosok-sosok baru di papan atas. Bahkan, Mega cenderung berada di posisi buncit. "Era Bu Mega itu 1999-2004. Katakanlah begitu. Dengan kondisi seperti itu, saya lihat kecil kemungkinan Bu Mega akan maju capres 2024," sebutnya.
Qodari melihat, Mega sudah cukup puas terhadap karier politiknya. "Rasanya belum ada yang bisa menandingi Bu Mega, lantaran pernah jadi Wapres dan Presiden. Ini pencapaian tertinggi lho," tandasnya.
Baca juga : Trump Masih Setengah Hati
Bagaimana tanggapan PDIP? Politisi senior PDIP, Hendrawan Supratikno enggan menyikapi prediksi-prediksi itu. Dia memilih fokus pada agenda-agenda partainya. "Kami sedang konsentrasi untuk merayakan HUT PDIP ke-48," ucap Hendrawan, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam. [UMM]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.