Sebelumnya
Bagaimana tanggapan pengamat? Pakar komunikasi politik Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), Ujang Komarudin membenarkan, adanya sindiran-sindiran halus dalam budaya komunikasi Jawa.
“Artinya, dulu Ganjar awalnya ketika Jakarta banjir, Semarang belum banjir. Ganjar itu mengkritik secara halus. Gaya orang Jawa seperti itu. Mengkritik dengan gaya seolah-olah ingin membantu. Seolah-olah Anies tidak bisa menangani,” kata Ujang dalam obrolan dengan Rakyat Merdeka tadi malam.
Nah, saat ini kritik Ganjar itu balas oleh pendukung Anies. “Ini fakta politik yang tidak bisa dihindari,” sambungnya.
Baca juga : Rakyat Myanmar Acungkan 3 Jari
Terlepas dari itu semua, menunggangi banjir sebagai komoditas politik adalah sesuatu yang tidak sehat. Karena pada ujungnya hanya akan membuat pendukung dari masing-masing kubu larut dalam pertikaian.
Sebelumnya, budayawan Sudjiwo Tedjo juga menyindir para kritik yang sering menyerang Anies soal banjir, tapi diam ketika Semarang dan Jawa Tengah banjir.
“Apa betul? Soalnya medsos sepi... Biasanya kalau memang ada banjir tuh medsos penuh rombongan akun-akun ber-angka yang ramai infoin banjir itu plus maki-maki gubernurnya. Apa WA temenku itu hoaks? Pls let me know,” tanya Tedjo via akun @sudjiwotedjo di Twitter, Sabtu (6/2) lalu.
Baca juga : Semarang Banjir Besar, PLN Jaga Pasokan Listrik
Ganjar angkat bicara mengenai banjir Semarang. Salah satu penyebabnya sejumlah pompa penyedot banjir ditemukan tak berfungsi optimal lantaran permasalahan administratif. Dia mengingatkan
problem semacam ini mestinya harus segera diselesaikan mengingat kondisi darurat penanganan
Problem itu terungkap di tengah inspeksi mendadak Ganjar ke Rumah Pompa Mberok di Kota Semarang. Ganjar mendapati penyedotan air banjir tidak optimal lantaran petugas hanya mengoperasikan satu dari tiga pompa yang terpasang di rumah pompa kawasan Kota Lama tersebut.
Mulai Surut
Baca juga : Kata Senator, Sandiaga Uno Antusias Diminta Ngantor Di Sumatera
Kemarin, banjir yang merendam beberapa titik di Kota Semarang mulai surut. Bandara Ahmad Yani sudah dibuka lagi. Air di Stasiun Tawang juga sudah turun. Sejumlah pompa penyedot air dikerahkan Pemerintah Kota Semarang untuk mengalirkan genangan air.
Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi menjelaskan, banjir yang terjadi di wilayah Kota Semarang disebabkan hujan ekstrem yang merupakan siklus 50 tahunan. Tingginya curah hujan diakui pria yang akrab disapa Hendi ini, tidak mampu ditampung oleh drainase yang sudah dibangun. [SAR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.