Redaktur
RM.id Rakyat Merdeka - Ayah saya baru saja wafat. Beliau meninggal dalam usia 70 tahun setelah melewati sakit selama tujuh tahun. Almarhum menderita penyakit diabetes hingga divonis dengan beberapa penyakit dalam lainnya.
Usaha dari keluarga sudah maksimal. Berobat secara medis maupun tradisional dilakukan, namun kondisi semakin menurun. Empat bulan terakhir adalah masa-masa terlemah ayah saya.
Baca juga : Beda Mesin USG, Beda Usia Kandungan
Kaki sudah tak mampu berdiri dan tangannya semakin hari semakin melemah. Hingga makan dan mandi harus dibantu ibu saya.
Ketika beliau menghembuskan napas terakhirnya pada Jumat malam, tidak ada satu keluarga saya yang mengetahui. Termasuk saya. Malam itu saya baru pulang liputan sekitar pukul 23.00.
Bagi saya, beliau orang tua yang hebat. Dan sejatinya kematian adalah nasihat bagi kita yang masih hidup.
Ada kebiasaan beliau selama hidupnya, yakni sangat menghormati guru-gurunya. Beliau sangat mecintai dan mengajarkan anaknya untuk menghormati gurunya. Harta, tenaga, seperti tak bernilai baginya ketika itu untuk keperluan gurunya.
Baca juga : Spekulasi Liar Obat Virus Corona
Hasilnya, terlihat kemarin ketika beliau wafat. Guru-guru beliau datang untuk mengurus janazahnya. Bukan hanya satu, namun semua gurunya. Seperti pepatah yang biasa kita dengar, “Apa yang kita tanam, maka itu yang akan kita tuai”.
Nana Maulana, Wartawan Rakyat Merdeka
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.