RM.id Rakyat Merdeka - Kasus tewasnya taruna Politeknik Pelayaran Surabaya Muhammad Rio Ferdinan Anwar memicu keprihatinan banyak kalangan.
Desakan integrasi sekolah kedinasan agar dikelola Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) pun terus menguat.
Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda menyatakan, kasus tewasnya Taruna Rio yang diduga dianiaya seniornya menjadi bukti kesekian kalinya bahwa ada model pendidikan maupun tradisi kekerasan di sekolah-sekolah kedinasan yang dikelola kementerian/lembaga di luar Kemendikbudristek.
Baca juga : Komunitas Nelayan Pesisir Berikan Oli Gratis Kepada Nelayan Di Subang
"Maka sudah waktunya rencana integrasi sekolah kedinasan di bawah Kemendikbudristek direalisasikan," ujar Syaiful Huda, Selasa (14/2).
Untuk diketahui Muhammad Rio Ferdinand ditemikan tewas dengan luka lebam di sekujur badannya pada Senin (6/2) di kamar mandi Politeknik Pelayaran Surabaya. Mahasiswa semester I diduga menjadi kekerasan seniornya.
Muhammad Yani, ayah Rio yang melihat kejanggalan pada kematian anaknya kemudian melapor ke Polsek Gununganyar. Dari hasil penyelidikan, polisi menetapkan AF, senior korban sebagai tersangka penganiayaan.
Baca juga : Genjot Literasi Keuangan Syariah, BSI Teken MoU Dengan Kemendikbudristek
Huda mengatakan, tewasnya Rio harus diusut tuntas. Baik dari sisi hukum maupun pengelolaan kependidikan di Politeknik Pelayaran Surabaya.
Huda menegaskan, budaya kekerasan fisik sudah tidak layak dikembangkan di lingkungan pendidikan di Indonesia. Apalagi, di jenjang pendidikan tinggi seperti Politeknik Pelayaran Surabaya.
"Harusnya peserta didik di jenjang pendidikan tinggi pendekatannya sudah pendekatan nalar tidak lagi pendekatan fisik, apalagi sampai memicu korban meninggal dunia," sesalnya.
Baca juga : Lahirkan Politisi Beretika, UBL Luncurkan Sekolah Pintar Politik
Politikus PKB ini mendesak agar rencana pengintegrasian semua lembaga pendidikan di bawah pengelolaan Kemendikbudristek segera direalisasikan.
Dengan demikian, kurikulum kekerasan yang biasanya dikembangkan atas nama corsa maupun kekhususan bidang pendidikan bisa perlahan-lahan dihilangkan.
"Terkadang entitas pendidikan kedinasan melegalkan pendekatan kekerasan fisik untuk membentuk jiwa korsa. Mereka juga beralasan pendekatan fisik juga untuk membentuk sikap disiplin dan penguatan mental. Padahal pendekatan seperti itu sudah ketinggalan jaman," tandasnya. ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.