RM.id Rakyat Merdeka - Rapat kerja Komisi IV DPR bersama Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman berlangsung panas. DPR mempersoalkan ratusan hektare lahan pertanian yang diterjang banjir sehingga menyebabkan puso.
Anggota Komisi IV DPR Johan Rosihan awalnya mempertanyakan efisiensi sebesar Rp 10,08 triliun yang dialami Kementerian Pertanian (Kementan) yang berdampak cukup besar. Namun jika dibandingkan pagu alokasi APBN Kementan Tahun 2024, tetap saja anggaran tahun ini masih lebih besar.
“Sehingga dari target ini, kita mungkin perlu dikasih gambaran kira-kira target apa saja yang terganggu gitu ya (dari efisiensi anggaran),” tanya Johan Rosihan dalam rapat kerja Komisi IV DPR bersama Mentan Andi Amran Sulaiman dan jajaran, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (11/2//2025).
Baca juga : Perekonomian Menggeliat, Konsumsi Masyarakat Naik
Johan menegaskan, tidak semua petani kita hidup dari komoditas beras dan jagung. Untuk itu, dia meminta agar program swasembada pangan jangan hanya terlalu fokus kepada beras dan jagung, sementara komoditi pangan lainnya justru dikesampingkan. Sebab persoalan pangan di negara ini, bukan hanya menyangkut dua bahan pokok itu saja.
Politisi Fraksi PKS ini lalu menyinggung anomali harga pangan dengan stabilitas pasokan. Dia lalu menyoroti klaim terkait produksi beras pada periode Januari-Februari-Maret 2025 yang menurut Menteri Amran merupakan produksi tertinggi 7 tahun terakhir. Tetapi pada saat yang sama, itu juga merupakan harga tertinggi beras dalam 7 tahun terakhir.
Menurutnya, ini justru menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara produksi, distribusi dan keterjangkauan di tengah-tengah masyarakat. “Nah ini kira-kira bagaimana kita mengatur strateginya agar terjadi keseimbangan antara produksi, distribusi dan keterjangkauan itu sebagai satu kesatuan dalam teori ketahanan pangan,” sebutnya.
Baca juga : Distribusi MinyaKita Baiknya Ajak BUMN
Politisi asal Nusa Tenggara Barat lalu menyoroti soal gagal panen yang terjadi di sejumlah sentra beras akibat banjir yang menurutnya seakan-akan luput dari perhatian. Padahal intensitas hujan yang tinggi terjadi belakangan ini telah merendam cukup banyak sawah petani.
“Banjir ini di mana-mana Pak, mengakibatkan rusaknya sentra-sentra beras kita, tenggelamnya, ada yang sudah gagal panen. Kemarin di Dapil saya di Wera Ambalawi itu juga kejadian ya, pusat jagung, pusat padi dan lain sebagainya tenggelam oleh oleh banjir. Bagaimana kita mengantisipasi ini,” tanyanya.
Lebih lanjut, Johan mengatakan tingginya ketergantungan impor pangan ini juga disebabkan karena program swasembada pangan yang dicanangkan Pemerintah terlalu fokus kepada beras dan jagung. Sehingga yang terjadi, ketika ada impor sapi, impor daging, impor susu masuk ke Indonesia, malah dianggap sebagai kebijakan yang biasa saja. Padahal semua komoditi yang diimpor ini adalah pangan yang dibutuhkan masyarakat.
Baca juga : Job Fair Di Tiap Kecamatan Bantu Atasi Pengangguran
“Jangan kita memberikan makan kepada anak-anak kita, generasi bangsa kita ini kepada barang-barang impor yang tidak jelas itu. Nah ini bagaimana strategi kita agar kemudian kita tidak tergantung kepada ketergantungan impor pangan ini, terutama komoditas-komoditas yang saya sampaikan tadi,” tambahnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.