BREAKING NEWS
 

Gelar Kongres Perempuan Indonesia, Partai Buruh Ajak Perempuan Terjun Berpolitik

Reporter : BOY SAKTI HAPSORO
Editor : FAQIH MUBAROK
Minggu, 18 Januari 2026 22:27 WIB
Wakil Presiden Partai Buruh Bidang Perempuan dan Buruh Migran, Jumisih di sela Kongres Perempuan Indonesia, di Hotel Hotel Tavia, Cempaka Putih, Jakarta, Minggu (18/1/2026). Foto: Boy Sakti/RM

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Presiden Partai Buruh Bidang Perempuan dan Buruh Migran, Jumisih, menegaskan pentingnya keterlibatan perempuan dalam politik sebagai bagian dari perjuangan dan keadilan gender.

Baginya, perempuan punya tanggung jawab tidak hanya di keluarga, juga di keputusan politik bangsa.

“Partai Buruh mendorong partisipasi perempuan secara substantif, baik di internal partai hingga ke level kebijakan publik,” ujar Jumisih, kepada RM.id di acara Kongres Perempuan Indonesia, di Hotel Hotel Tavia, Cempaka Putih, Jakarta, Minggu (18/1/2026).

Jumisih menjelaskan, Partai Buruh menggelar Kongres Perempuan Indonesia untuk mendongkrak kualitas perempuan untuk diterjunkan di kancah politik praktis Tanah Air. Kegiatan ini, merupakan bagian ikhtiar melanjutkan semangat Kongres Perempuan Indonesia 1928.

Diceritakannya, kala itu, tepatnya 22 Desember 1928 yang kini diperingati sebagai Hari Ibu, mengumpulkan perempuan dari berbagai daerah untuk membangun semangat kebangsaan. Alhasil, lahirlah tokoh-tokoh perempuan untuk merebut kemerdekaan.

Baca juga : Prabowo Gelar Ratas Di Hambalang, Bahas Peresmian RDMP Balikpapan Senin Besok

Nah, Partai Buruh ingin menularkan semangat itu. Menurutnya, mayoritas perempuan di Indonesia sejatinya adalah pekerja, terutama pekerja perawatan (careworker) yang selama ini tidak diakui negara.

Padahal, kerja-kerja domestik atau aktivitas rumah tangga seperti merawat anak, keluarga, dan lingkungan adalah fondasi penting dalam membangun peradaban.

“Kerja perawatan itu adalah kerja. Dan orang yang mengerjakannya adalah pekerja. Negara belum mengakui itu, tapi kami di Partai Buruh menyadari bahwa semua perempuan adalah para pekerja,” tegasnya.

Karena itu, lanjut Jumisih, perjuangan kelas yang dilakukan Partai Buruh tidak bisa dilepaskan dari keadilan gender. Partainya mendorong partisipasi perempuan secara substantif, baik di internal partai maupun hingga ke level kebijakan publik.

Adsense

Diceritakannya, dalam kesempatan tersebut, Partai Buruh juga mendeklarasikan Manifesto Perjuangan Politik Perempuan Mahasiswa Pekerja serta memperkuat gerakan Suara Marsinah, sebuah wadah perjuangan politik perempuan Partai Buruh yang telah diluncurkan pada 22 Desember 2025 lalu, bertepatan dengan Hari Pergerakan Perempuan Indonesia.

Baca juga : Gelar Rapat Koordinasi, Buperta Berikan Bonus Karyawan Teladan

“Suara Marsinah akan menjadi kanal aspirasi perempuan, dari level grassroots sampai nasional. Ini suara perempuan Partai Buruh,” ujar Jumisih.

Jumisih mengakui, keterwakilan perempuan di dunia politik memang mengalami peningkatan pasca Pemilu terakhir. Namun, angkanya masih jauh dari ideal.

Catatannya, keterwakilan perempuan di parlemen Indonesia baru berada di kisaran 21 persen, masih di bawah target minimal 30 persen.

“Secara aturan ada, tapi implementasinya belum maksimal. Belum cukup hadir untuk mendorong partisipasi substantif perempuan,” ungkapnya.

Jumisih juga menyoroti kuatnya hambatan kultural yang masih menempatkan perempuan di wilayah domestik semata. Pandangan bahwa perempuan hanya sebatas “dapur, sumur, dan kasur” masih menjadi tantangan besar.

Baca juga : Prabowo Umumkan Indonesia Resmi Swasembada Beras

“Kerja domestik itu kerja membangun kehidupan. Tapi jangan karena identitas sebagai perempuan, lalu kita dilarang berpolitik. Justru karena kontribusinya besar, perempuan harus terlibat dalam pengambilan keputusan,” tegasnya.

Dia mengingatkan, jika perempuan tidak ikut mengintervensi kebijakan, maka kepentingan perempuan akan diintervensi pihak lain. “Akhirnya kebutuhan kita tidak terwadahi,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Suara Marsinah, Organisasi Sayap Perempuan Partai Buruh, dr. Soraya, mengatakan kehadiran perempuan di politik selama ini masih bersifat simbolik dan belum substansial. “Perempuan sering hanya dijadikan wajah. Padahal yang paling memahami kebutuhan perempuan adalah perempuan itu sendiri,” ujarnya.

Ke depan, Suara Marsinah akan fokus pada pendidikan politik perempuan, termasuk bagi ibu rumah tangga, serta menyiapkan kader-kader perempuan untuk duduk di DPR dan DPRD. Saat ini, Suara Marsinah telah merekomendasikan sekitar 300 nama bakal caleg perempuan untuk bertarung pada Pemilu 2029.

“Struktur Suara Marsinah akan dibangun dari nasional sampai kecamatan. Ini arena partisipasi politik perempuan,” pungkas Soraya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense