BREAKING NEWS
 

Senyap di Balik Kotak Suara: Sebuah Renungan tentang Budaya Politik Indonesia

Writer : Saira Alfi Ananta
Editor : UJANG SUNDA
Selasa, 14 Oktober 2025 22:06 WIB
Petugas merakit kotak suara untuk Pemilu 2024. (Foto: Rizki Syahputra/RM)

Pemilihan umum bukan sekadar peristiwa politik rutin, melainkan inti dari kehidupan demokrasi itu sendiri. Menurut Miriam Budiardjo (2008), pemilihan umum adalah “sarana utama dalam pelaksanaan kedaulatan rakyat yang memungkinkan warga negara berpartisipasi dalam proses politik untuk menentukan pemimpin dan arah kebijakan negara”. Sementara itu, Ramlan Surbakti (1992) menegaskan bahwa pemilu merupakan “mekanisme demokratis untuk menyeleksi para pemimpin politik dan memindahkan kekuasaan secara damai sesuai dengan kehendak rakyat”.

Secara lebih luas, Huntington dan Nelson (1976) melihat pemilu sebagai instrumen partisipasi politik yang memberi kesempatan kepada warga negara untuk berperan langsung dalam menentukan siapa yang memerintah dan bagaimana pemerintahan dijalankan. Dengan kata lain, pemilihan umum bukan hanya soal mencoblos, tetapi juga soal kesadaran akan tanggung jawab sebagai warga negara yang berdaulat.

Namun, di balik makna ideal itu, realitas di lapangan sering kali jauh berbeda. Pemilu memang memberi ruang bagi rakyat untuk bersuara, tetapi tidak selalu memastikan bahwa suara itu benar-benar didengar. Banyak yang datang ke tempat pemungutan suara bukan karena kesadaran politik yang matang, melainkan karena tekanan sosial, pengaruh tokoh, atau sekadar ikut-ikutan.

Begitulah demokrasi kita dirayakan; meriah di permukaan, namun sebenarnya senyap di dalam. Kotak suara menjadi simbol kedaulatan rakyat, sekaligus cermin dari budaya politik yang masih belajar memahami arti sebenarnya dari kebebasan dan tanggung jawab.

Baca juga : Rumah Menlu Diserang, Kaca Jendela Hancur

Apakah benar rakyat telah bersuara? Atau sebenarnya mereka hanya mengulang ritual lima tahunan tanpa benar-benar mengerti makna dan tujuannya? Kotak suara yang seharusnya menjadi simbol kedaulatan rakyat justru terasa seperti wadah kosong, menyimpan suara yang sunyi, suara yang tidak benar-benar bebas, dan tidak benar-benar sadar. 

Budaya politik Indonesia jika dilihat dari dekat, masih dipenuhi pola lama yang diwariskan sejarah. Kita tumbuh dalam bayang-bayang feodalisme dan kolonialisme yang panjang, yang menjadikan kekuasaan selalu tampak jauh dan tak tersentuh. Dalam banyak kasus, rakyat masih memandang politik sebagai “urusan pejabat” dan bukan urusan dirinya sendiri.

Itulah sebabnya dalam banyak pemilihan umum, pilihan politik sering kali bukan hasil refleksi rasional, melainkan bagian dari loyalitas, kekerabatan, rasa terima kasih, bahkan urusan kepentingan pribadi. Sementara gagasan, program, visi dan misi yang seharusnya menjadi inti demokrasi, sering terpinggirkan oleh rasa sungkan, balas budi, atau sekadar uang saku politik. Kondisi ini menunjukkan bahwa budaya politik kita masih berada pada tahap parokial atau kaula, meminjam istilah Almond dan Verba: rakyat hanya menjadi penonton dalam panggung politik, bukan aktor yang menentukan arah cerita. 

Mengapa kita masih senyap? Jawabannya tak sederhana. Pertama, karena pendidikan politik belum menjadi bagian dari kebiasaan sosial. Rakyat kita diajarkan bagaimana cara mencoblos, tapi tidak pernah diajarkan bagaimana menilai gagasan politik secara kritis. Kedua, politik uang masih menjadi realitas yang ditoleransi, bahkan diharapkan. Uang dianggap “berkah menjelang pemilu”, dan bukan alat yang dapat menghancurkan demokrasi. Ketiga, ketidakpercayaan terhadap sistem membuat sebagian warga apatis: “mau siapa pun yang menang, yang cari uang tetap diri sendiri.” 

Baca juga : Gubernur Banten Apresiasi Kemah Kebangsaan yang Digelar Bison Indonesia

Di sisi lain, media dan elite politik menciptakan keramaian yang justru menutupi hal-hal krusial dalam politik. Debat kandidat berubah jadi ajang pencitraan, berita politik jadi sekadar hiburan. Dalam kebisingan itu, kesadaran rakyat tenggelam. Kita lupa bahwa politik sejatinya bukan hanya soal siapa yang berkuasa, melainkan tentang bagaimana kita berpartisipasi secara sadar. Maka tak heran, setiap kali pemilu usai, kehidupan politik kembali sepi. Janji-janji politik yang terucap perlahan lenyap di udara, dan rakyat kembali ke rutinitas, menunggu lima tahun lagi untuk “bersuara”. Sementara itu, demokrasi terus berjalan tanpa partisipasi sejati. 

Akibat dari fenomena ini amat nyata. Demokrasi kita menjadi demokrasi elektoral, bukan demokrasi substansial. Kita bebas memilih, tetapi tidak bebas menentukan arah kebijakan. Kita boleh berbicara, tapi suara kita tak sampai ke ruang pengambilan keputusan. Elite tetap memegang kendali; menjadi pihak yang mengatur narasi dan memainkan wacana. Sementara rakyat yang seharusnya menjadi pemegang kedaulatan tertinggi, hanya hadir sebagai angka dalam statistik partisipasi pemilu. 

Membangun budaya politik baru bukan hal yang sederhana dan tak bisa selesai dalam satu malam. Ia menuntut kesabaran, pendidikan, dan keberanian berpikir. Pendidikan politik mesti dimulai dari ruang terkecil, dimulai dari keluarga, sekolah, komunitas, bahkan media sosial. Kita perlu menghidupkan kembali diskusi yang jujur tentang isu-isu publik, tanpa didorong oleh sensasi maupun kepentingan.

Media juga memegang peran penting. Media harus hadir sebagai ruang pembelajaran politik yang kritis dan mencerahkan. Begitu pula para pemuda atau Gen Z, generasi yang tumbuh dengan kesadaran digital, memiliki peran penting dalam menjaga demokrasi. Dunia digital bukan sekadar ruang hiburan atau ajang pencitraan, tetapi juga wadah untuk menyuarakan kebenaran, memperdebatkan gagasan, dan mengawasi kekuasaan. Dengan kemampuan literasi digital yang tinggi, Gen Z seharusnya mampu menggunakan media sosial sebagai alat untuk memperluas partisipasi politik, membangun diskusi yang sehat, dan menumbuhkan kesadaran kolektif. 

Baca juga : Babak Baru Hubungan Kanada Dan Indonesia

Politik, pada akhirnya, bukan milik mereka yang berkuasa, melainkan milik semua yang peduli. Kotak suara tak pernah benar-benar bisu, ia hanya menunggu kita untuk berbicara dengan kesadaran yang lebih jernih. Bukan karena iming-iming, bukan karena takut atau ikut-ikutan, tapi karena kita tahu mengapa suara kita penting. Dan ketika hari itu tiba, demokrasi tak lagi menjadi ritual lima tahunan. Ia akan hidup di antara percakapan kita, di ruang kelas, di meja makan, di jalanan, dan di hati setiap warga yang percaya bahwa politik adalah urusan bersama. Mungkin saat itu, kotak suara tak lagi menyimpan senyap. Ia akan bergema oleh kesadaran, oleh suara rakyat yang benar-benar merdeka.

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense