Ada yang menarik dalam rangkaian acara Pilkada Serentak 2024. Salah satunya adanya acara debat publik para paslon yang sedang berkontestasi. Hal ini, dapat menjadi media sosialisasi visi-misi, program unggulan, dan pencerahan dari kontestannya secara lebih rigid dan komprehensif di masyarakat.
Debat publik dalam Pilkada harus menjadi media pertarungan ide-ide besar (gagasan), bukan menjadi media pertarungan popularitas. Politik tidak hanya dihiasi beragam jargon-jargon pembangunan infrastruktur dengan retorika-retorika populisme demi mengejar (mendongkrak) perolehan suaranya.
Masalah lingkungan adalah isu yang sangat penting di saat sekarang. Kendati realitasnya, tidak banyak masyarakat yang tertarik. Hal yang sama terjadi di Kabupaten Klaten. Masih banyak warga Klaten mengabaikan urgensinya, termasuk dalam ranah politik.
Dalam Pilkada 2024, fokus kampanye para paslon di Klaten lebih diarahkan pembangunan infrastruktur secara instan. Padahal, kerusakan lingkungan akibat deforestasi, masalah air bersih, dan bencana ekologis menjadi ancaman nyata.
Baca juga : Paula Verhoeven, Tak Saling Sapa Dengan Baim Wong
Populisme dalam konteks ekologi di Klaten belum berkembang baik. Bisa disebutkan jika populisme di Klaten lebih menekankan isu ekonomi atau identitas, tetapi tidak menyentuh dimensi lingkungan. Kondisi ini sangat kontradiktif dengan tren global, dengan banyak pemimpin populis justru memanfaatkan isu-isu lingkungan untuk menarik simpatik pemilih yang khawatir dengan kelangsungan masa depan bumi kita.
Di Perancis dan Jerman, isu-isu lingkungan telah menjadi integral dari kampanye politik. Pemimpin populis kerap menggunakan isu perubahan iklim atau polusi udara untuk menggalang dukungan, terutama di generasi muda yang sadar akan pentingnya menjaga keseimbangan alam. Sementara, di Klaten, isu-isu lingkungan hidup masih terpinggirkan, padahal kita sudah sangat terdampak krisis iklim dan pemanasan global. Krisis lingkungan adalah ancaman nyata bagi stabilitas dan kesejahteraan masyarakat.
Akankah ini menjadi isu krusial dalam Debat Pilkada Klaten? Sepertinya, para kandidat lebih memilih menghindari isu yang rumit dan penuh tantangan. Sebab, mengurusi lingkungan bukanlah pekerjaan mudah. Perlu kebijakan yang sustainable, durasi waktu yang panjang untuk mendapatkan dampaknya dibandingkan dengan proyek-proyek infrastruktur yang hasilnya instan dan terlihat jelas.
Kondisi ini sangat disayangkan. Padahal, Pilkada bisa menjadi momentum penting untuk menyuarakan isu lingkungan. Sebab, di momentum inilah keputusan-keputusan krusial yang menyangkut tata kelola sumber daya alam di Kabupaten Klaten, hingga kebijakan penanganan bencana sering kali diambil.
Baca juga : AHY Pastikan Pembangunan IKN Dilanjutkan
Pilkada dan Isu Lingkungan
Agar isu lingkungan layak mendapat tempat di Pilkada, diperlukan strategi yang lebih terstruktur oleh semua pihak, penggiat lingkungan, pemerintah, masyarakat, dan para kandidat. Ada hal-hal yang dapat dilakukannya yakni, Pilkada harus naik level. Naik levelnya Pilkada adalah berani lepas dari belenggu populisme yang berorientasi jangka pendek (instan) sehingga mereduksi mata pemilih.
Dalam konteks ini, pemilih terlebih dahulu harus paham bahwa Pilkada bukan sekadar memilih, melainkan guna menentukan seperangkat pelaksana dari demokrasi yang menyangkut kapasitas, kapabilitas, rekam jejak, juga visi-misi yang ramah lingkungan dan keberlanjutan. Apabila Pilkada sudah naik level, para pemilih juga lebih kritis dan selektif, dalam memilih. Jangan terbuai dengan janji-janji manis soal infrastruktur, tetapi tanyakan juga bagaimana calon pemimpin akan menangani isu lingkungan
Media mempunyai andil besar untuk mengedukasi publik. Isu lingkungan bukanlah sekadar urusan alam, melainkan berkaitan dengan kesehatan, ekonomi, dan kesejahteraan sosial. Dengan kemasan menarik dan relevan agar pembaca merasa, hal ini menjadi permasalahan bersama.
Baca juga : Calon Menteri dan Wamen Wajib Ikut Pemantapan di Akmil Magelang
Para kandidat, harus berani membawa gagasan “hijau” dalam visi-misi dan mempertaruhkannya di meja debat. Misalnya, kandidat harus bisa menawarkan solusi untuk menangani deforestasi, pengelolaan sampah, dan kebijakan terkait energi terbarukan, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan akan bencana ekologis.
Kendati tantangannya besar, isu lingkungan bisa menjadi kekuatan baru kandidat yang berani. Di tengah krisis iklim yang kian parah, masyarakat akan semakin sadar bahwa kebijakan lingkungan yang dikelola secara baik merupakan investasi berjangka panjang. Pemimpin yang peduli pada isu lingkungan berpotensi mendapat dukungan kuat dari komunitas-komunitas yang terdampak dari kerusakan alam.
Degradasi lingkungan yang dihadapi, dengan kesiapan program mitigasi bencana secara baik, isu-isu lingkungan seharusnya tak lagi dianggap sebagai urusan normatif belaka. Pilkada bisa menjadi momentum untuk mengubah persepsi publiknya, menjadikan lingkungan sebagai isu-isu yang mendasar dan layak dipertimbangkan guna memilih calon-calon pemimpin lokal Klaten di masa depan.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.