BREAKING NEWS
 

Busnya Ada Tapi Kapan Datangnya? Membaca Ulang Transportasi Umum Jogja

Writer : Nadine Aqila Zahrania
Editor : UJANG SUNDA
Rabu, 2 September 2026 14:00 WIB
Salah satu Halte Trans Jogja di Jalan Jenderal Sudirman Yogyakarta (12/7/2026). (Foto: Dok. Pribadi)

Jogja bisa diem nggak sih?” Kalimat seperti itu rasanya sering kita temukan di kolom komentar setiap kali video reels Instagram atau TikTok lewat di beranda tentang destinasi wisata baru di Yogyakarta. Rasanya memang ada benarnya Jogja semakin ramai dari tahun ke tahun. Wisata budaya, alam, gastronomi, perkotaan, wisata minat khusus, dan berbagai bentuk pengalaman wisata lainnya tersedia di kota ini. Di saat yang sama, event berskala nasional hingga internasional juga semakin tertarik menjadikan Yogyakarta sebagai lokasi penyelenggaraan. Belum lagi statusnya sebagai kota pelajar yang mendatangkan ribuan pendatang setiap tahunnya untuk menempuh pendidikan.

Artinya, semakin banyak orang yang datang, tinggal, bekerja, belajar, dan berwisata di Yogyakarta. Pertumbuhan wisata dan aktivitas perkotaan tentu membawa banyak manfaat. Namun, ada konsekuensi yang semakin terasa, mobilitas yang semakin padat. Terutama saat peak season, ketika wisatawan domestik maupun internasional datang dalam jumlah besar, jalanan Jogja ikut menanggung bebannya. Warga lokal mungkin sudah tidak asing dengan kalimat,

“Ya namanya juga Jogja, kalau musim liburan warga lokal mending ngalah”. Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, memangnya warga lokal tidak ingin menikmati kotanya sendiri?

Kalau diberi pilihan, saya sebagai warga lokal Jogja dan mungkin banyak warga Jogja lain juga ingin pergi jalan-jalan atau sekadar keluar rumah tanpa harus berhadapan dengan macet. Hanya saja, ada semacam mentality Nrimo ing pandum yang membuat kondisi tersebut perlahan dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan menjadi mekanisme adaptasi terhadap Jogja yang semakin ramai. Namun, sebagai generasi yang tumbuh dengan akses informasi yang jauh lebih terbuka, kita juga semakin sering membandingkan pengalaman hidup di Jogja dengan kota-kota lain. Kita melihat bagaimana kota lain berusaha mengelola mobilitas warganya melalui transportasi umum. Lalu muncul pertanyaan dalam diri saya yang cukup sederhana: 

Kenapa Jogja tidak bisa punya pengalaman yang sama?

Bukan berarti kita harus mengusir wisatawan. Bukan pula berarti perkembangan pariwisata harus dihentikan. Justru sebaliknya, ketika semakin banyak orang datang ke Jogja, seharusnya semakin baik pula kemampuan kota ini dalam mengelola pergerakan manusia di dalamnya.

Salah satu jawabannya tentu adalah transportasi umum. Yogyakarta sebenarnya sudah memiliki Trans Jogja. Namun, di tengah mobilitas yang semakin padat, muncul pertanyaan yang lebih penting:

Apakah transportasi umum Jogja sudah benar-benar menjadi pilihan yang bisa diandalkan, bukan hanya pilihan yang tersedia?

Jaringan dan rutenya tersedia, tarifnya relatif terjangkau, dan busnya pun secara umum cukup nyaman. Jadi, persoalannya bukan lagi soal ada atau tidak ada.

Baca juga : Tembus 8,97 Juta, Kunjungan Wisman Januari-Juli 2026 Tertinggi Sejak 2020

Di sinilah perbedaan antara availability dan reliability menjadi penting. Availability tells us that the service exists. Reliability tells us whether people can actually depend on it.

TransJakarta (Dok. Pribadi)Masalahnya, Trans Jogja masih sering menghadapkan pengguna pada waktu tunggu yang sulit diprediksi. Pengalaman saya menggunakan TransJakarta terasa berbeda. Menunggu tetap ada, tetapi sistem rute, koridor, dan feeder membuat perjalanan terasa lebih terprediksi. Sementara di Jogja, ketika harus menunggu bus tanpa kepastian yang jelas, yang membuat motor atau transportasi online akhirnya terasa jauh lebih masuk akal.

Reliability: Masalahnya Bukan Busnya, tapi Kepastiannya

Kalau datang ke halte sekarang, pertanyaannya sederhana, berapa lama lagi busnya datang?

Di sinilah headway jarak waktu antarbus menjadi penting. Banyaknya rute tidak otomatis berarti transportasi umum berjalan efektif jika bus yang ditunggu datang terlalu lama atau intervalnya tidak konsisten. Bagi pengguna, setiap menit menunggu berarti tambahan waktu yang harus dipertaruhkan. Padahal, transportasi yang baik tidak selalu harus menjadi yang paling cepat. Yang lebih penting adalah bisa diprediksi. Karena itu, reliability bukan sekadar fitur tambahan dalam transportasi umum. Ia adalah alasan mengapa seseorang percaya bahwa bus bisa membawanya dari titik A ke titik B tanpa membuat seluruh jadwal hari itu berantakan 

Bukan Semata-Mata Soal Mentalitas 

Mungkin memang benar: orang Indonesia suka motor. Orang Jogja juga tidak terkecuali. Motor praktis, bisa berangkat kapan saja, tidak perlu menunggu, dan sudah menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.

Tapi, apakah preferensi itu sepenuhnya soal mentalitas?

Baca juga : Pariwisata Labuan Bajo Tetap Berjalan Normal Pascagempa NTT

Sistem juga ikut membentuk pilihan kita. Dan dalam konteks transportasi publik, pemerintah sebagai salah satu stakeholder utama punya peran besar dalam menentukan seperti apa pilihan yang tersedia bagi masyarakat. Sebenarnya, persoalan ini mungkin bukan hanya milik Jogja. Banyak kota di Indonesia menghadapi ketergantungan yang sama terhadap kendaraan pribadi. Namun, sebagai warga asli Jogja yang pernah merasakan hidup dan menggunakan transportasi umum di Jakarta, perbandingan pengalaman tersebut membuat saya bertanya: kalau kota lain bisa membuat transportasi umum terasa lebih dapat diandalkan, kenapa Jogja tidak?

Jogja Memang Tidak Bisa Terus Mengandalkan Jalan

Kalau kita bicara soal kemacetan, mungkin solusi paling sederhana yang terlintas adalah: ya sudah, jalannya diperlebar. Tapi, sesederhana itukah?

Banyak jalan di Jogja memang relatif sempit. Coba saja ingat kawasan Kotagede, Titik 0 Kilometer, Jalan Pangeran Mangkubumi, sampai Jalan Kaliurang rasanya hampir semua punya karakter jalannya masing-masing, tetapi tidak ada yang bisa dibilang “lega” jika dibandingkan dengan jalan-jalan utama di kota besar seperti Jakarta atau Surabaya. Dan memang, jalan Jogja tidak seharusnya diperlakukan seperti jalan di kota lain. Yogyakarta memiliki banyak bangunan dan kawasan yang memiliki nilai sejarah dan budaya. Pelebaran jalan di kawasan-kawasan tertentu bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga berkaitan dengan perlindungan cagar budaya dan karakter ruang kota yang sudah terbentuk. Ada batasan yang memang perlu dihormati agar perkembangan kota tidak justru menghilangkan identitasnya sendiri. Lagipula, jalan yang sempit bukan selalu masalah yang harus diselesaikan dengan membuat jalan menjadi lebih lebar. Justru karakter ruang kota seperti inilah yang membuat Jogja terasa berbeda dari kota-kota besar lainnya.

Masalahnya kemudian, kalau ruang untuk kendaraan pribadi memang terbatas, sementara jumlah orang yang bergerak di dalam kota terus bertambah, kita mau menambah apa?

Baca juga : KAI Siapkan Transformasi Gambir Bertahap, Perkuat Akses KA Jarak Jauh

Bukan terus menambah ruang untuk kendaraan pribadi, tetapi mengurangi kebutuhan orang untuk menggunakannya. Mungkin justru sebaliknya, yang perlu diubah adalah cara kita bergerak di atas jalan-jalan Jogja.

Bikin MRT/LRT? Mungkin, Tapi Bukan Sekarang

Beberapa waktu lalu (16/08), saya sempat berbincang dengan seorang teman dari Jakarta yang sedang berkuliah di Jogja. Ia bertanya, “Kenapa Jogja nggak punya MRT atau LRT?”

Pertanyaan yang sebenarnya cukup masuk akal. Ia bahkan sempat membayangkan, kalau ada transportasi yang menghubungkan berbagai wilayah dengan lebih cepat, perjalanan ke Kulon Progo atau Gunungkidul mungkin bisa jauh lebih singkat. Saya sempat bingung mau menjawab apa. Tapi semakin dipikir-pikir, pertanyaannya memang menarik. 

Bukan berarti Jogja tidak membutuhkan MRT atau LRT. Bisa jadi, moda transportasi massal berkapasitas besar memang menjadi bagian dari rencana jangka panjang kota ini. MRT atau LRT membutuhkan investasi, infrastruktur, dan perencanaan yang besar. Pembangunannya juga harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan karakter mobilitas kota. Kalau suatu hari kebutuhan dan jumlah pergerakan masyarakat memang menuntut MRT atau LRT, tentu itu bisa menjadi pembahasan berikutnya. Tapi sebelum sampai ke sana, rasanya tidak ada salahnya memastikan bahwa basic-nya sudah beres dulu.

Pada akhirnya, Jogja tidak harus menjadi Jakarta maupun lainnya. Jogja juga tidak harus buru-buru memiliki MRT atau LRT untuk disebut sebagai kota dengan transportasi publik yang baik. 

Jogja punya karakter kota sendiri yang justru perlu dipertahankan.

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense