BREAKING NEWS
 

Warna-warni Survei Pilkada

Reporter & Editor :
BUDI RAHMAN HAKIM
Rabu, 30 Oktober 2024 00:27 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Pertarungan di Pilkada 2024 semakin sengit. Selain perang program antara para calon kepala daerah, pertarungan Pilkada tambah ramai dengan munculnya berbagai hasil survei.

Survei ini sebenarnya sudah muncul jauh-jauh hari sebelum Pilkada dimulai. Setelah penetapan calon, rilis hasil survei dari berbagai lembaga semakin sering. Di masa kampanye ini, rilis survei tambah banyak lagi. Setiap minggu, ada rilis baru. Mulai dari yang dilakukan oleh lembaga-lembaga terkenal, sampai oleh lembaga baru yang dibuat menjelang Pilkada.

Dari papar mereka, metode yang dilakukan para lembaga survei itu mirip-mirip. Jumlah responden juga relatif sama. Namun, hasil surveinya ternyata warna-warni. Tersebut tidak seragam.

Baca juga : Yang Muda Yang Bekerja

Misalnya, lembaga survei satu menyatakan bahwa calon “A” memiliki elektabilitas tertinggi. Lembaga survei lainnya justru berkesimpulan elektabilitas calon “B” naik signifikan. Kemudian, lembaga survei berikutnya menyatakan, “C” adalah calon kuda hitam.

Adsense

Sebagian lembaga memastikan, survei mereka dilakukan secara independen, dengan sumber dana bukan dari calon kepala daerah. Namun, melihat hasil-hasil yang disajikan, sebagian lagi mungkin merupakan survei pesanan dari calon tertentu. Tujuannya, untuk memperlihatkan ke publik bahwa citra dan elektabilitas calon tersebut baik.

Dalam perkembangan politik kita, survei menjadi salah satu instrumen framing yang dampaknya masih cukup kuat. Sejak era Pilpres dan Pilkada langsung digelar, survei telah dipakai sebagai alat meyakinkan publik tentang peta dukungan ke masing-masing calon. Namun, dalam perjalanannya, sebagian survei telah dimodifikasi, di-engineering, untuk tujuan-tujuan pemenangan politik.

Baca juga : Wujudkan Cita-cita Kemerdekaan

Jika melihat tujuan generiknya, survei dilakukan untuk mendeteksi posisi elektoral seorang calon. Dengan deteksi dini, calon tersebut bisa melakukan pemetaan siapa lawan, kelompok mana saja yang menjadi basis utama dukungan, potensi tambahan dukungan, isu-isu apa yang jadi concern pemilih untuk di-address dalam kampanye, dan lain sebagainya. Secara berkala, survei digelar dengan tujuan memberi manfaat kepada internal tim sukses berupa informasi seputar kans dukungan politik.

Secara lebih rinci, survei sejatinya memberi informasi perkembangan meningkat tidaknya tiga aspek: popularitas, kesukaan, dan keterpilihan calon. Informasi itu sekaligus jadi alat ukur bekerja tidaknya, efektif tidaknya, dan atau tepat tidaknya sasaran program kampanye yang dijalankan. Jadi, sesungguhnya survei lebih punya manfaat ke dalam diri para calon, bukan ke ranah konsumsi publik.

Namun, saat ini, sebagian lembaga survei telah menjadi makhluk politik ciptaan para kontestan. Hasil surveinya ditengarai telah menjadi bagian dari tim kampanye calon tertentu. Tidak mudah lagi mendeteksi independensi dan integritas survei dan lembaga penyelenggaranya. Semua seperti mempertaruhkan integritas diri dan lembaganya.

Baca juga : Selamat Bertugas Prabowo-Gibran

Dalam menghadapi kondisi ini, rakyat harus lebih cerdas dalam memilih. Lakukanlah fact check secara kritis di tengah derasnya arus informasi di seluruh jejaring media massa maupun media sosial. Terhadap hasil survei yang tersebar pun, kita harus kritis. Karena, ternyata survei pun tidak steril dari propaganda. Paling kurang, tanyalah hati kecil sebelum akhirnya menjatuhkan dukungan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense