Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Di setiap perhelatan politik, ulama sering kali terlibat atau dilibatkan. Termasuk dalam pertarungan politik Pilkada 2024. Ada calon yang menggandeng ulama, ada yang menjadikan ulama sebagai tim sukses, bahkan ada juga ulama yang mencalonkan diri dalam Pilkada.
Ulama dan politik memang punya hubungan erat. Bukan hanya sekarang, tapi sudah dari dulu. Sejak bangsa ini merdeka sudah ada. Dari hubungan ini, bisa kita kategorikan menjadi dua, yaitu politik ulama dan ulama politik.
Politik ulama mengandung makna yang masih positif. Artinya, politik yang dilakukan dengan menggunakan nilai-nilai keulamaan. Jadi, bukan hanya seorang ulama punya hak untuk memilih atau masuk politik, tapi yang utama adalah nilai-nilai keulamaannya dalam politik dilaksanakan. Sayangnya, politik ulama tidak selalu mengejawantah dalam politik praktis.
Baca juga : Berharap ke Nama Besar
Politik ulama juga punya makna yang dalam mengenai bentuk yang idealis, termasuk pilihan seorang ulama untuk berpolitik atau tidak berpolitik. Terjun ke politik praktis dalam konteks politik ulama merupakan bagian dari melaksanakan peran strategi seorang ulama dalam membangun bangsa. Berpolitik praktis dalam hal ini bukan merupakan tujuan politik yang ingin dicapai, melainkan hanya alat pencapaian tujuan saja.
Di masa lalu, banyak ulama yang punya karakter yang khas dari politik mereka. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, utamanya ketika meningkatnya intensitas politik dari luar, politik ulama bertransformasi menjadi ulama politik.
Tidak semua ulama punya strategi politik. Di era sekarang, justru banyak ulama sekarang yang "tersesat" dalam kegiatan berpolitik. Mereka menjelma menjadi ulama politik. Ulama yang menjadikan politik praktis sebagai ikhtiar meraih kekuasaan. Mereka kadang asyik dengan politik praktis yang pragmatis dan enggan untuk membangun idealisme sekaligus mewujudkannya.
Baca juga : Rasionalitas Kenaikan Upah
Ulama politik merupakan label yang berkonotasi kurang baik. Alih-alih menjadi teladan, ulama itu justru terjebak dalam panasnya hawa kompetisi politik yang masih tidak sehat.
Kita membutuhkan sosok ulama yang punya visi politik besar. Ulama yang memiliki jejaring umat yang luas namun punya waktu untuk terus membina pengikutnya agar tetap di jalur ketaatan terhadap agama dan negara. Tidak banyak jumlah ulama model ini, tapi diarusutamakan untuk mengambil keputusan-keputusan strategis.
Politik ulama dan ulama politik adalah kembar tidak identik, karenanya bisa dengan mudah membedakannya. Politik ulama adalah soal konsep besar untuk kemaslahatan umat. Beda halnya dengan ulama politik, seringkali mereka datang hanya untuk memenuhi dahaga politiknya saja tapi abai terhadap idealisme dan pengejawantahan ide dalam politik dunia yang tidak menentu arah.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.