RM.id Rakyat Merdeka - Kondisi industri kita sedang tidak baik-baik saja. Buktinya sudah terlihat jelas, banyak industri yang kolaps. Seperti PT Sri Rejeki Isman alias Sritex, yang diputus pailit oleh pengadilan dan terancam bangkrut. Kemudian, yang terbaru, para peternak sapi perah yang nelangsa akibat hasil produksi mereka tak diserap dengan baik oleh industri pengolahan susu.
Untuk dua masalah ini, Pemerintah sudah bergerak cepat. Mengenai Sritex, Pemerintah turun tangan agar perusahaan yang berdiri sejak Orde Baru dan terbesar di Asia Tenggara itu tidak bangkrut, sehingga karyawannya tak mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK). Demikian dengan untuk masalah peternak sapi perah, Pemerintah telah mewajibkan industri pengolahan susu menyerap hasil produksi mereka.
Namun, kita belum bisa lega atas penanganan dua masalah ini. Sebab, masih banyak industri lain yang kondisinya mirip-mirip yang dialami Sritex dan peternak susu perah. Pangkal masalahnya sama, yaitu membanjirnya barang impor. Akibatnya, produk industri dalam negeri kalah saing dan tak laku di pasaran.
Baca juga : Merawat Gerakan Jaga Lingkungan
Presiden Prabowo Subianto, juga Presiden ke-7 RI Jokowi, sebenarnya sudah berulang-ulang mengingatkan untuk mengutamakan produk dalam negeri. Namun, serbuan barang impor masih terus berlangsung. Sebagian masyarakat, bahkan pejabat, terlihat “happy” menggunakan barang impor tersebut.
Saat ini, di toko-toko besar, produk-produk yang dijual didominasi barang impor. Mulai dari sepatu, pakaian, alat elektronik, furniture, perkakas rumah tangga, alat tulis kantor, sampai alat dapur. Kalau kita jeli mengecek satu per satu, jumlah produk lokal yang dijual di toko-toko besar itu sangat terbatas.
Selain itu, barang impor juga sangat merajai di toko online. Bahkan sampai makanan kecil saja, banyak juga barang impor ini. Permen dan snack banyak juga yang didatangkan dari luar negeri. Kondisi ini jelas membuat industri dalam negeri semakin tertekan. Kalau kondisi ini tidak segera ditangani, bisa-bisa, industri dalam negeri akan berguguran. Bukan satu per satu, tapi berbarengan.
Baca juga : Memuliakan & Menyejahterakan Guru
Untuk itu, Pemerintah harus segera memetakan masalah ini. Tidak cukup hanya menjadi “pemadam kebarakan”, yang baru bertindak setelah ada kejadian. Langkah yang dilakukan Menteri Pertanian Amran Sulaiman, yang mewajibkan industri pengolahan susu menyerap produk peternak sapi perah, bisa ditiru. Misalnya, Menteri Perdagangan mewajibkan toko besar untuk menyerap hasil industri dalam negeri. Jika toko itu tidak mau, izin impor mereka disetop saja.
Kita tentu tidak anti dengan produk impor. Sebab, ada beberapa produk yang memang belum bisa dibuat di dalam negeri. Namun, kita harus selektif dan kontrol dengan baik, agar tidak sembarang produk impor membanjiri pasar dalam negeri sehingga membuat barang lokal kalah saing.
Untuk melaksanakan hal ini, Pemerintah tak cukup mengimbau atau mengajak. Harus ada regulasi yang jelas dan penegakan aturan yang tegas. Ingat, menyelamatkan industri dalam negeri sangat penting. Dengan menyelamatkan industrinya, berarti kita menyelamatkan tenaga kerjanya, dan juga menyelamatkan ekonomi.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.