Dark/Light Mode

Korban Serbuan Barang Impor

Jumat, 1 November 2024 04:49 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Serbuan barang impor mulai menelan korban industri dalam negeri. PT Sri Rejeki Isman alias Sritex, raja tekstil yang berdiri sejak Orde Baru dan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara, sedang kolaps. Utangnya menggunung belasan triliun rupiah, operasinya tersendat, dan belasan ribu karyawannya terancam.

Padahal, jika dilihat dari sejarahnya, Sritex termasuk perusahaan yang tangguh. Saat Indonesia dilanda krisis moneter (krismon) 1998, Sritex mampu bertahan dengan baik. Bahkan, setelah krismon reda, perusahaan tekstil yang terletak di Sukoharjo ini sukses melipatgandakan pertumbuhan hingga 8 kali lipat.

Sritex sukses besar, dengan 60 persen hasil produksinya diekspor ke berbagai negara. Namun, berdasarkan penjelasan Kementerian Perindustrian, sejak Covid-19, ekspor Sritex terus berkurang. Hingga saat ini, ekspor Sritex belum pulih karena kondisi ekonomi dunia masih gonjang-ganjing.

Baca juga : Warna-warni Survei Pilkada

Menghadapi kondisi ini, Sritex mencoba mengalihkan fokus penjualan ke dalam negeri. Sayang, pasar dalam negeri sudah dipenuhi barang-barang tekstil impor, utamanya dari China. Harganya murah dan produknya begitu beragam. Semua jenis hampir ada. Kondisi ini membuat produk Sritex kalah saing. Nggak laku dan nggak bisa masuk pasar.

Dampaknya, Sritex pun kolaps. Diputus pailit oleh pengadilan karena tak mampu membayar kewajiban kepada mitra.

Pemerintah sedang berusaha menjadi “pemadam kebakaran”. Meminta Sritex terus berproduksi dan menjaga agar para karyawan perusahaan tersebut tidak mengalami pemutusan hukum kerja (PHK). Berbagai cara sedang dirancang agar Sritex selamat.

Baca juga : Yang Muda Yang Bekerja

Sebenarnya, yang bernasib seperti ini bukan hanya Sritex. Banyak perusahaan tekstil lain bahkan lebih parah. Ada yang sudah gulung tikar dan bangkrut, karena tak kuat dengan gempuran barang impor.

Dalam beberapa tahun terakhir, masuknya barang impor memang gila-gila. Hampir semua jenis produk, ada barang impornya. Mulai dari tekstil, alas kaki, alat berat, elektronik, kramik, HP/komputer/laptop, baja, kendaraan, alat kesehatan, perabotan rumah tangga, sampai barang kecil seperti tusuk gigi saja impor.

Celakanya, konsumen dalam negeri seakan tak peduli dengan hal itu. Bukan hanya masyarakat biasa, instansi pemerintah juga kadang tidak peduli. Yang penting bagi mereka akan membeli barang yang dimau dengan harga yang cocok. Alhasil, banyak produk dalam negeri yang tidak laku.

Baca juga : Wujudkan Cita-cita Kemerdekaan

Di era pemerintahan sebelumnya, Presiden Jokowi beberapa kali marah karena banyak instansi yang beli barang impor, padahal buatan dalam negeri juga ada. Namun, tetap saja masih banyak instansi dan pejabat yang lebih suka barang impor.

Saat ini, Presiden Prabowo Subianto sedang berusaha mengangkat produk lokal. Salah satunya, dengan memerintahkan para menterinya menggunakan mobil Maung buatan PT Pindad sebagai kendaraan dinas. Hal ini sangat bagus, agar menumbuhkan kecintaan kepada produk dalam negeri.

Tentu, hal ini tidak cukup. Perlu ada gerakan selanjutnya untuk produk-produk buatan anak bangsa lainnya. Agar tidak ada lagi perusahaan yang bernasib seperti Sritex. Kita tentu tidak anti dengan impor. Tapi kita harus selektif dan terus menumbuhkan cinta terhadap produk Indonesia. Agar industri dalam negeri jalan, ekonomi berputar, dan masyarakat sejahtera.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.