BREAKING NEWS
 

Stok Dan Sisa Makanan

Reporter & Editor :
SUPRATMAN
Selasa, 25 Februari 2025 06:45 WIB
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Ini isu rutin menjelang bulan puasa: ketersediaan dan stabilitas harga pangan. Kecenderungan melonjaknya harga-harga karena permintaan yang meningkat membutuhkan antisipasi serius.

Walaupun berbagai lembaga sudah beberapa kali memberi jaminan bahwa stok pangan nasional aman terkendali, langkah antisipatif tetap diperlukan. 

Jangan sampai terjadi kelangkaan atau ada peningkatan harga di luar nalar. 

Ini perlu diantisipasi serius. Apalagi kalau ada kecenderungan eskalasi politik. 

Baca juga : Berakhirnya Kesetiaan

Harga-harga dan ketersediaan pangan bisa menambah panas eskalasi tersebut.

Kita ingat kasus gas LPG 3 kg, bulan lalu. Ada saja “spekulan” yang nakal, misalnya menumpuk gas sehingga ter kesan terjadi kelangkaan, lalu harganya melonjak. 

Akibatnya, terjadi kegaduhan dimana-mana. Bahkan ada korban meninggal dunia.

Adsense

Para pejabat perlu lebih peka. Kebijakan harus benar-benar dimatangkan. Komunikasi yang baik perlu dijaga.

Baca juga : Reshuffle Dan Standar Pejabat

Jangan karena komunikasi yang buruk, sehingga situasi dan kondisi ber tambah gaduh dan panas. 

Ketika semua orang bisa melaporkan dan memviralkan kejadian apa pun dalam sekejap lewat gadget nya, kendali informamsi bisa semakin sulit. 

Kalau harga dan ketersediaan pangan serta celah para spekulan bisa di atasi, selanjutnya yang tak kalah pentingnya di bulan ramadan yakni meminimalisir sampah makanan. 

Hati-hati dengan makanan yang tidak habis dikonsumsi. Jangan sampai makanan banyak yang mubazir dan terbuang percuma. Ironi ini sering terjadi di bulan ramadan.

Baca juga : Menunggu Aksi Melawan Korupsi

Beberapa laporan, seperti disam paikan Bappenas, menyebutkan, sisa makanan yang tidak habis dikonsumsi di Indonesia bisa memberi makan sekitar 30 persen penduduk Indonesia.

Kondisi ini sejalan dengan laporan Food and Agriculture Organization (FAO), bahwa sepertiga dari makanan yang hadir di meja makan, hilang atau terbuang di tempat sampah. Jumlah yang sangat besar. Sungguh menyedihkan. 

Pada 2023, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, melaporkan, dari total jumlah sampah, sisa makanan menjadi penyumbang terbesar. Totalnya mencapai 41,4 persen. Jumlah ini jauh lebih banyak dibanding sampah plastik yang “cuma” 18,6 persen. 

Ironisnya, kampanye bahaya sampah plastik jauh lebih bergema dibanding kampanye mengenai sampah makanan yang terbuang.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense