Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Rabu siang kemarin, beredar beberapa nama menteri yang akan direshuffle. Lima sampai enam nama ini dikaitkan dengan beberapa kontroversi.
Ternyata yang diganti hanya satu: Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Satryo Soemantri Brodjonegoro. Penggantinya, Brian Yuliarto, guru besar dan peneliti berprestasi dari ITB.
Apakah “kesalahan” menteri lain lebih ringan dibanding Satryo? Relatif. Karena, standar dan “budaya” di masing-masing negara, berbeda-beda.
Pejabat Indonesia dianggap memiliki standar yang relatif rendah. Bahkan, ketika sudah dipenjara pun masih mau memimpin lembaga atau daerahnya dari dalam penjara. Ditangkap KPK, masih bisa tertawa. Ada bencana, dijadikan becandaan.
Baca juga : Menunggu Aksi Melawan Korupsi
Walau pun contoh di negara lain sudah sering disampaikan, “budaya” dan standar serta keteguhan hati pejabat Indonesia untuk tetap duduk di kursinya, tetap tak goyah.
Terbaru, Senin (17/2), Kepala Keamanan Pangan dan Nutrisi di Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), Jim Jones, mengundurkan diri dari jabatannya.
Dia merasa tidak sejalan lagi dengan kebijakan Presiden Trump. Salah satu yang disorot Jones yakni pemecatan 89 staf di Divisi Makanan.
Dia menilai, pencopotan itu diambil secara sembrono. Tanpa pertimbangan matang. Jones juga dianggap sebagai “orangnya Joe Biden”, Presiden AS sebelumnya.
Baca juga : Menteri Menjadi “Ketua KPK”
Masih di Februari 2025 ini, ada dua kejadian serupa. Pertama, Menteri Transportasi dari negara bagian New South Wales, Australia, Jo Haylen mengundurkan diri.
Kesalahannya: memakai mobil dan sopir dinas untuk kepentingan pribadi. Mobil Kia Carnival itu dipakai dari pukul 8 pagi sampai pukul 9 malam. Dia mengaku bersalah. Sesederhana itu. Bagi pejabat Indonesia, kasusnya bisa dianggap “cuma segitu doang”.
Kedua, Menteri Kesehatan Inggris dari Partai Buruh, Andrew Gwynne, dicopot dari jabatannya, Minggu (9/2). Kesalahannya: memberikan komenkontroversial di Grup WA internal. Komen Pak Menteri rupanya bocor ke publik.
Salah satu komennya, mendoakan seorang pensiunan yang tidak memilih Partai Buruh dalam pemilu lalu, segera meninggal dunia sebelum pemilu berikutnya.
Baca juga : Penghematan Dan IQ 100
Warga berusia 72 tahun tersebut mengeluhkan soal sampah. Bukannya menanggapi baik-baik, Gwynne justru berkata kasar dan kesal. Dia langsung dicopot.
Budaya dan standar di masing-masing negara memang berbeda. Kita ber harap, Mendiktisaintek yang baru, Brian Yuliarto, memiliki standar yang sangat tinggi di segala aspek.
Begitu juga menteri dan pejabat lainnya. Harus memiliki standar yang sangat tinggi. Mulai dari kapasitas sampai integritas. Bukan kinerja dan standar yang biasa-biasa saja, tapi Sangat Tinggi. Apalagi menteri yang bukan dari parpol, harus lebih ekstra lagi.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.