BREAKING NEWS
 

Pendidikan Tanpa Jiwa

Reporter & Editor :
BUDI RAHMAN HAKIM
Rabu, 23 Juli 2025 06:14 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Sekolah hari ini bisa mencetak anak-anak yang lancar berbahasa Inggris, pandai coding, piawai menyusun CV, tapi gagap saat ditanya: untuk apa semua ini? Mereka bisa menaklukkan soal-soal asesmen nasional, tapi tak tahu bagaimana memahami kecewa. Pendidikan kita makin terukur secara angka, tapi makin kehilangan arah secara makna. Ia bergerak cepat, tapi tak tahu ke mana menuju.

Kurikulum terus direvisi, aplikasi pembelajaran semakin canggih, namun ruang kelas tetap terasa kosong: bukan dari murid, tapi dari ruh pendidikan itu sendiri. Anak-anak dicekoki target dan ranking sejak kecil, seperti pekerja pabrik yang diukur dari produktivitas. Pendidikan kita seperti mesin pencetak performa, bukan taman yang menumbuhkan manusia seutuhnya.

Baca juga : Lelah Jadi Muda

Kita sering bangga pada sekolah yang banyak lulusannya masuk universitas ternama. Tapi jarang bertanya: apakah mereka bahagia? Apakah mereka tahu siapa diri mereka dan ingin menjadi apa dalam hidup? Atau mereka hanya sekadar lulus dan terseret arus ke mana sistem membawa? Ketika pendidikan melupakan pertanyaan-pertanyaan mendasar, maka lahirlah generasi yang pintar tapi mudah patah.

Adsense

Seringkali yang hilang dari ruang kelas adalah percakapan batin. Tentang rasa takut gagal. Tentang bagaimana bersikap jujur. Tentang bagaimana menyikapi kehilangan, kematian, atau makna hidup. Semua dianggap di luar silabus. Padahal justru di sanalah inti pendidikan: membekali anak dengan ketangguhan untuk hidup di dunia nyata, bukan sekadar lulus ujian.

Baca juga : Warga Tanpa Negara

Pendidikan spiritual semestinya bukan sekadar pelajaran agama, tapi ruang untuk membangun kepekaan, kesadaran, dan arah hidup. Ia bisa hidup dalam sikap guru, dalam kejujuran sistem, dalam suasana yang membuat anak merasa dihargai sebagai pribadi, bukan sebagai angka. Sayangnya, banyak sekolah lebih peduli pada akreditasi daripada suasana batin murid-muridnya.

Reformasi pendidikan tak akan berarti jika hanya ganti kurikulum tanpa mengganti cara memanusiakan peserta didik. Kita butuh guru-guru yang bukan hanya mengajar, tapi mendidik dengan jiwa. Kita butuh sekolah yang bukan hanya tempat belajar, tapi tempat bertumbuh. Dan kita butuh sistem yang menghargai jeda, kegagalan, dan proses—bukan sekadar hasil.

Baca juga : Etika di Loket

Kalau pendidikan kehilangan jiwa, maka bangsa pun akan kehilangan arah. Karena masa depan bukan dibangun oleh skor dan ranking, tapi oleh manusia-manusia yang tahu siapa dirinya dan untuk apa ia hidup. Pendidikan sejati bukan yang mencetak murid sempurna, tapi yang membesarkan manusia yang utuh.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense