BREAKING NEWS
 

Pemimpin Yang Mendengar

Reporter & Editor :
BUDI RAHMAN HAKIM
Senin, 24 November 2025 06:18 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemimpin sejati bukan yang paling banyak berbicara, melainkan yang paling mampu mendengar. Di tengah ke bisingan politik hari ini — rapat, pidato, talk show, dan unggahan media sosial — kita justru kehilangan satu hal paling mendasar dalam kepemimpinan: keheningan yang mendengar. Negara ini dipenuhi pemimpin yang piawai berjanji, tapi sedikit sekali yang benar-benar mau memahami.

Robert Greenleaf, dalam bukunya Servant Leadership (1977), menulis bahwa kepemimpinan bukan soal posisi atau kekuasaan, melainkan soal pelayanan. Dan pelayan yang sejati, katanya, dimulai dari kemampuan mendengar: mendengar dengan hati, bukan sekadar dengan telinga. Pemimpin yang mendengar akan mampu melihat apa yang tak diucapkan rakyat — kegelisahan yang tak masuk berita, kelelahan yang tak terekam survei, dan harapan yang tak pernah sempat dituliskan.

Baca juga : Layanan yang Menyembuhkan

Tapi hari ini, politik kita lebih sibuk berbicara daripada menyimak. Setiap pidato terasa seperti gema di ruang kosong, penuh jargon tapi tanpa arah. Pemimpin mengaku mendengar rakyat, tapi yang didengar sering hanya tepuk tangan pendukung. Padahal rakyat tidak selalu berteriak; mereka juga sering berbisik. Dan untuk mendengar bisikan itu, dibutuhkan kerendahan hati yang nyaris punah di ruang kekuasaan.

Adsense

Kita sedang hidup di zaman amplifikasi, bukan refleksi. Mikrofon lebih besar dari telinga, kamera lebih aktif daripada nurani. Para pejabat berdebat tentang angka dan kebijakan, sementara warga di lapangan berdebat soal harga beras dan ongkos hidup. Kesenjangan komunikasi ini menciptakan jurang empati — negara bicara dalam bahasa kebijakan, rakyat merespons dalam bahasa keluh.

Baca juga : Negara Tanpa Wajah

Greenleaf menyebut bahwa seorang pemimpin pelayan (servant leader) harus terlebih dahulu menjadi pendengar yang tulus, baru kemudian pengambil keputusan yang bijak. Kepemimpinan seperti ini tidak populer di era pencitraan, tapi justru itulah yang dibutuhkan bangsa ini: pemimpin yang hadir tanpa berisik, yang bekerja tanpa panggung, yang berbicara setelah mengerti, bukan untuk didengar.

Bangsa ini tak butuh lebih banyak orator, tapi lebih banyak pendengar. Karena rakyat tak lagi menagih janji, mereka menagih empati. Seorang pemimpin yang mendengar bisa membuat rakyat percaya lagi — bahwa negara bukan menara gading, melainkan rumah bersama. Dalam ruang dengar itulah politik menemukan makna spiri- tualnya: bukan tentang menguasai, tapi melayani.

Baca juga : Etika di Balik Meja

Dan mungkin, di tengah hiruk-­pikuk dunia yang semakin bising, pemimpin paling berani bukan yang paling lantang bicara, tapi yang berani diam untuk mendengar. Karena dari telinga yang terbuka, lahirlah hati yang memahami. Dan dari hati yang memahami, lahirlah keputusan yang benar.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense