BREAKING NEWS
 

Kursi dan Kesadaran

Reporter & Editor :
BUDI RAHMAN HAKIM
Senin, 1 Desember 2025 08:06 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Kekuasaan sering dibayangkan seperti kursi: siapa yang duduk, dialah yang menentukan arah negeri. Padahal, kursi tidak pernah mencerdaskan siapa pun; ia hanya membesarkan apa yang sudah ada dalam diri. Jika yang duduk di atasnya jernih, kekuasaan menjadi pelayanan. Jika yang duduk kabur batinnya, kekuasaan berubah menjadi panggung balas dendam. Itulah tragedi negeri yang menganggap jabatan sebagai puncak kemuliaan, bukan awal tanggung jawab.

Dalam politik yang mulai memanas, kita kembali melihat wajah lama kekuasaan: saling jegal, saling sandera, saling kampanye kesalehan. Mereka bicara “visi besar,” tetapi lupa menata diri. Para ahli moral boleh menulis ribuan buku tentang kepemimpinan, namun godaan gelar, proyek, dan persekongkolan selalu lebih menggoda dari ajakan untuk mengasah batin. Bukan negaranya yang rusak duluan — kesadarannya yang kering duluan.

Baca juga : Bangsa Yang Berjiwa

Tokoh yang diidolakan hari ini, dicaci besok. Skandal yang dikecam sekarang, dilupakan begitu ada proyek perayaan. Memori publik mudah dimanipulasi, namun kesadaran moral tidak bisa dipalsukan.

Adsense

Hannah Arendt dalam Responsibility and Judgment mengingatkan, kehancuran politik terjadi bukan karena kejahatan besar semata, tetapi karena hilangnya refleksi batin pada tindakan sehari-hari. Yang fatal bukan kekuasaan yang brutal, melainkan kekuasaan yang tak pernah bertanya pada dirinya sendiri.

Baca juga : Pemimpin Yang Mendengar

Para elite suka bicara “kita bangun bangsa bersama,” tapi jarang bertanya: bangun dengan hati atau hanya bangun pencitraan? Kekuasaan telah berubah menjadi konser yang sibuk mencari sorotan, bukan cahaya. Sementara rakyat menjadi penonton yang kewalahan membedakan antara pemimpin dan pendusta, antara panggilan pelayanan dan ambisi pribadi.

Di kampung-kampung, rakyat hanya ingin harga beras stabil, lapangan kerja layak, dan anak-anak yang bisa sekolah tanpa dihantui buntut iuran. Tetapi di pusat kekuasaan, perdebatan berkutat pada kursi komisaris, jatah proyek, dan siapa yang layak masuk lingkaran dalam. Politik seperti ini bisa berjalan tanpa malu, bahkan ketika seluruh negeri tahu semuanya sedang berada di jalur yang salah.

Baca juga : Layanan yang Menyembuhkan

Kekuasaan seharusnya mengolah kesadaran, bukan menghapusnya. Jabatan seharusnya membuat seseorang lebih takut berbuat salah, bukan lebih pandai menyembunyikan kesalahan. Negara seharusnya menumbuhkan rasa malu yang sehat, bukan rasa kebal yang menular. Makin tinggi posisi seseorang, makin rendah suaranya — bukan makin keras, seakan-akan volume suara bisa menggantikan isi kepala.

Saat ini adalah waktu yang tepat untuk menilai ulang bukan siapa yang duduk di kursi, tetapi siapa yang layak menginjak ruang kekuasaan. Kita tidak butuh pemimpin yang selalu benar, kita butuh pemimpin yang selalu sadar. Kesadaran tidak bisa dipinjam, tidak bisa diwariskan, tidak bisa dipoles. Ia hanya tumbuh pada jiwa yang berani bercermin. Jika kursi itu kosong dari kesadaran, negeri ini hanya akan terus berputar, seperti sirkus yang mengganti aktor tapi mempertahankan kekeliruan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense