BREAKING NEWS
 

Ibu Republik

Reporter & Editor :
BUDI RAHMAN HAKIM
Senin, 22 Desember 2025 08:14 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Tanggal 22 Desember biasanya hanya dirayakan sebagai Hari Ibu. Tetapi tahun ini, ada sesuatu yang lebih dalam yang layak direnungkan: bangsa ini sedang kehilangan sentuhan seorang ibu. Hukum berjalan, ekonomi bergerak, proyek negara dicanangkan — tetapi ada kekosongan emosional yang sulit diabaikan. Republik berjalan, namun tidak merangkul. Maju, tetapi tidak menenangkan. Kuat, tetapi kurang hangat.

Negara sering dibayangkan seperti ayah: tegas, disiplin, rasional, berwibawa. Namun setiap keluarga membutuhkan figur yang lain: sosok yang memastikan semua merasa aman, dipercaya, diperhatikan. Ketika negara hanya memainkan sisi maskulin kekuasaan — kontrol, efisiensi, hukuman — akhirnya rakyat hanya belajar takut, bukan belajar percaya. Kita lupa bahwa pembangunan tanpa kasih adalah pembangunan yang rapuh.

Baca juga : Negara yang Mengasuh

Dalam The Motherhood Manifesto (2006), Joan Blades dan Kristin Rowe-Finkbeiner menjelaskan bahwa masyarakat yang tumbuh sehat bukan hanya yang efisien, tetapi yang mempraktikkan perawatan kolektif — satu sama lain, terutama kepada yang paling membutuhkan. Keluarga, mereka menulis, bertahan bukan karena aturan, tetapi karena kepedulian. Republik pun begitu: bertahan bukan karena kekuasaan, tetapi karena cinta yang dibagi.

Adsense

Lihatlah kehidupan rakyat hari ini: para ibu yang mengelola krisis ekonomi keluarga sendirian, anak muda yang burnout menghadapi tekanan sekolah dan pekerjaan, buruh yang pulang malam dengan tenaga tersisa sekadar untuk bernapas, warga lansia yang masih bekerja karena tak ada jaminan hari tua. Mereka tidak menunggu pidato motivasi; mereka menunggu negara yang memeluk — bukan metafora, tetapi nyata dalam kebijakan sosial yang menenangkan hidup.

Baca juga : Politik Yang Merawat

Negara bisa belajar dari para ibu. Mereka tidak menunggu krisis untuk bergerak. Mereka peka terhadap perubahan terkecil: nada suara yang melemah, wajah yang letih, isi dapur yang menipis. Politik yang ideal seharusnya punya kepekaan semacam itu: mendeteksi kesulitan rakyat sebelum angka statistik berubah, merespons keluhan warga sebelum muncul aksi protes, menyalurkan bantuan sebelum ada malam tanpa makan.

Ibu mengajarkan satu etika penting: tidak ada anggota keluarga yang terlalu kecil untuk diperhatikan. Bila prinsip ini dipakai sebagai fondasi pemerintahan, maka anggaran akan berubah orientasi: bukan sekadar menutup defisit, tetapi membuka harapan; bukan menumpuk pertumbuhan, tetapi menumpuk kesejahteraan. Masyarakat terkuat bukan yang memiliki gedung tertinggi, tetapi yang paling sedikit meninggalkan warganya di belakang.

Baca juga : Kekuasaan Yang Hadir

Bangsa ini bukan hanya perlu pemimpin; bangsa ini perlu pengasuh. Republik bukan hanya perlu otak; republik perlu hati. Jika negara ingin dihormati, ia harus dulu dicintai — dan cinta tidak tumbuh dari dominasi, tetapi dari kehadiran dan perlindungan. Di Hari Ibu ini, mari kita bertanya perlahan: sudahkah republik ini menjadi Ibu bagi rakyatnya? Jika belum, inilah waktu untuk memulai.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense